Armand tidak berlari dan tidak berteriak. Selama dua puluh langkah dari pintu lift ke tengah lobi, ia hanya memastikan satu hal, yaitu bahwa suaranya akan keluar rata. Ia pernah berteriak pada Siska di kamar hotel nomor 205, dan ia masih ingat bagaimana rasanya setelah itu. Ia tidak mau mengulangnya, tidak di depan seratus pasang mata, apalagi di depan perempuan hamil yang berdiri dengan wajah seputih kertas.
Lingkaran manusia itu membuka sendiri jalan baginya.
"Mas Armand." Siska berbalik dengan senyum yang baru separuh jadi, senyum orang yang sedang menang dan belum yakin. "Aku cuma mampir. Aku tidak ...."
"Hans akan mengantarmu ke mobil, Siska."
Hanya itu. Ia mengucapkannya sambil menatap mata Siska, tanpa naik nada, tanpa tambahan apa pun, dan justru karena itu kalimatnya jatuh lebih berat daripada bentakan mana pun. Senyum Siska habis. Bibirnya terbuka, lalu menutup. Kerumunan yang tadi riuh sekarang bahkan menahan napas.
"Mas ...."
"Pak." Hans sudah di sisi Siska, sopan dan tegak, satu tangan terulur ke arah pintu putar. "Silakan, Bu."
Siska menatap Armand sekali lagi. Ia seperti menunggu sesuatu, sebuah kalimat kedua, sebuah pembelaan, apa pun yang membuktikan bahwa kehadirannya masih berarti. Armand tidak memberikannya.
Matanya bergerak cepat ke Qenna, ke Citra, ke kerumunan, kemudian kembali pada Armand, dan Armand melihat sesuatu yang tidak pernah sempat ia lihat selama tiga tahun menikah: perempuan itu tidak menang. Ia sedang takut. Ia berjalan keluar dengan punggung lurus dan bahu yang sedikit terlalu kaku, dan tidak satu pun karyawan bersuara sampai pintu putar berhenti berputar.
Armand menarik napas. Ia menoleh pada seorang resepsionis yang masih memegang telepon, lalu pada kerumunan yang mulai bergeser canggung.
"Pukul empat sore ini, semua karyawan berkumpul di lobi. Semua lantai. Yang sedang rapat dengan klien, rapatnya ditunda." Ia berhenti. "Dan sampai pukul empat, saya minta ponsel yang tadi merekam disimpan. Tolong."
Ada yang menunduk. Ada yang buru-buru mengantongi benda di tangannya.
Ia lalu berjalan ke tempat Qenna berdiri.
"Boleh saya bicara sebentar? Di ruang rapat kecil. Kamu boleh membawa Citra." Ia menurunkan suara. "Dan kamu boleh bilang tidak."
Qenna menatapnya lama, wajahnya masih pucat. "Ya, Pak. Saya ikut."
***
Di ruang rapat kecil di lantai direktur, Qenna duduk di kursi paling ujung dengan kedua tangan di pangkuan. Citra duduk di sebelahnya dan menolak pergi walaupun Hans sudah dua kali mengisyaratkan dari pintu. Armand tetap berdiri, sebab menurutnya ada yang tidak benar bila ia duduk lebih nyaman daripada orang yang sedang ia tanya.
"Saya ingin bicara di depan seluruh karyawan sore ini," katanya. "Bukan tentang kamu. Tentang aturan kantor ini. Tapi kamu akan ada di sana, dan semua orang akan tahu itu tentang kamu juga. Kalau kamu tidak mau, saya tidak akan bicara."
Qenna memandang meja. "Bapak mau bilang apa?"
"Bahwa kehamilan seorang karyawan adalah urusannya sendiri. Bahwa tidak ada yang berhak menyebarkannya, merekamnya, atau menghubungkannya dengan siapa pun. Dan bahwa ayah bayi itu bukan saya."
"Itu bohong?"
"Bukan. Itu satu-satunya hal yang bisa saya jamin dengan namanya." Armand menatapnya. "Saya tidak akan menyebut nama suamimu, dan saya tidak akan menyebut apa pun yang kamu belum izinkan."
Hening sejenak. Citra menoleh pada Qenna, dan Qenna tahu temannya sedang menunggu dengan napas tertahan.
"Kalau saya bilang tidak?"
"Saya akan menyuruh semua orang pulang dan kembali besok, dan kita akan lihat bagaimana kantor ini bertahan dengan gosip sampai Senin." Sudut bibir Armand bergerak sedikit, bukan senyum. "Saya tidak suka caranya. Tapi itu pilihanmu."
"Saya lebih baik berhenti saja, Pak." Suara Qenna kecil. "Kalau saya pergi, gosipnya ikut pergi."
"Tidak."
"Pak ...."
"Gosip tidak ikut orang. Ia tinggal dan mencari orang berikutnya." Armand menggeleng. "Dan saya tidak akan menerima surat pengunduran diri yang ditulis karena Siska. Kalau suatu hari kamu berhenti karena itu keinginanmu, saya akan tanda tangan dan mendoakanmu baik-baik. Tapi bukan hari ini."
Qenna memandang Citra. Citra mengangkat bahu, sangat kecil, seakan berkata, "Terserah kamu, tetapi aku di sini."
"Bapak boleh bicara," ucap Qenna akhirnya. "Tapi jangan soal alasan saya hamil, jangan soal siapa saya. Soal aturan saja."
"Soal aturan saja," ulang Armand. "Terima kasih."
***
Pukul empat kurang lima menit, lobi dipenuhi lebih banyak orang daripada saat pagi tadi. Karyawan berdiri berkelompok, beberapa bersandar di dinding, yang lain di tangga, berbisik pelan. Qenna berdiri di dekat meja resepsionis, tempat yang sama dengan tadi pagi. Citra menolak membiarkannya sendirian dan berdiri di sampingnya. Sindy muncul dari kerumunan dengan mata merah dan menyelipkan jari-jarinya ke tangan Qenna tanpa berkata apa-apa.
Armand naik ke anak tangga ketiga dari bawah, bukan podium, bukan mikrofon. Hans berdiri di belakangnya dengan tablet yang tidak ia pakai.
"Terima kasih sudah berkumpul." Suaranya tidak keras, tetapi lobi sudah cukup hening untuk membawanya ke sudut paling jauh. "Saya tidak akan lama."
Ia berhenti sebentar. Qenna melihat bagaimana tangan Armand mengepal lalu membuka.
"Tadi pagi, di tempat ini, seseorang dipermalukan di depan kalian. Sebagian dari kalian merekamnya. Saya meminta rekaman itu dihapus dan tidak disebarkan, dan saya tidak bisa memaksa. Tapi saya bisa menjelaskan aturan di gedung ini, dan inilah aturannya." Ia menarik napas. "Di sini, kehamilan seorang karyawan adalah urusannya sendiri. Bukan bahan percakapan, bukan bahan tebakan, bukan bahan unggahan. Siapa yang menyebarkannya, siapa yang menghubungkannya dengan orang lain, akan berurusan langsung dengan saya."
Tidak ada yang bergerak.
"Beberapa dari kalian mungkin bertanya-tanya apakah ayah dari bayi itu adalah saya." Armand memandang lurus ke depan. "Bukan. Saya jamin dengan nama saya sendiri. Saya mengatakannya sekali ini saja, dan saya tidak akan mengatakannya lagi, karena seharusnya tidak ada yang perlu bertanya."
Ia menutup mulut. Sesaat lobi sunyi sepenuhnya. Lalu dari barisan belakang, seorang lelaki berdeham dan bertanya, tidak keras tetapi cukup jelas, "Kalau memang bukan Bapak, lalu siapa ayahnya, Pak?"
Armand membuka mulut. Qenna merasakan jari Sindy mengencang di tangannya. Ia melepaskan genggaman itu, perlahan, dan melangkah maju satu langkah. Hanya satu. Cukup untuk memastikan semua orang melihatnya.
"Biar saya yang menjawab, Pak." Suaranya serak dan keras kepala. Armand menutup mulut kembali. "Kalau ada yang merasa tidak nyaman bekerja bersama saya, saya siap mengundurkan diri, dan Pak Armand sudah bilang tidak akan menerimanya. Jadi saya hanya akan mengatakan apa yang benar, supaya tidak perlu ada yang menebak." Ia menarik napas. "Saya janda. Saya bekerja di sini dengan jujur. Itu saja yang perlu Anda tahu."
Tidak ada yang menjawab. Di sampingnya, Citra menyatukan dua telapak tangannya, ragu, canggung, lalu memukulnya satu kali. Dua kali. Tepuk tangan kecil yang tidak rapi itu bergema di langit-langit lobi seperti suara pertama pada saat hujan. Seseorang di barisan tengah ikut, lalu dua, lalu sepuluh.
Di barisan belakang, Sindy menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya berguncang. Di tangga, Armand tidak tersenyum. Ia hanya menunduk sekali kepada Qenna, dalam, seperti seseorang kepada orang yang lebih berani daripada dirinya.
Lutut Qenna baru gemetar sesudah itu. Citra menopang sikunya. Orang-orang mulai bubar sepotong-sepotong, ada yang berhenti untuk menyentuh bahunya sekilas, ada yang melewatinya dengan mata ke bawah, dan ia tidak bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang sekadar ikut arus.
Ia menarik napas panjang dan menoleh ke belakang, mencari wajah lelaki yang tadi bertanya.
Lelaki itu tidak ada. Tetapi di dinding paling jauh, di sebelah pot palem, seorang karyawan masih berdiri dengan lengan terangkat. Ia tidak bertepuk tangan. Ia mengarahkan ponselnya ke tangga, dan titik merah kecil di layarnya masih menyala.