Qenna sedang menjajarkan gelas di rak ketika bayangan seseorang jatuh di lantai pantry.
Ia mengira Citra. Citra baru saja pergi mengambil troli, dan biasanya kembali dengan cerita tentang lift yang mati atau satpam yang salah ingat nama. Qenna menaruh gelas terakhir, mengelap tangan di celemek, dan menoleh dengan senyum yang sudah setengah jadi.
Senyum itu tidak selesai.
Yang berdiri di pintu seorang ibu berblus gading, rambutnya disanggul sederhana, tas kecil digenggam dengan dua tangan di depan perut. Wajahnya tenang. Terlalu tenang, seperti permukaan air yang ditahan supaya tidak bergelombang. Dan matanya, mata itu Qenna kenal. Ia pernah melihat bentuk yang sama di wajah seorang lelaki yang berdiri satu langkah dari ambang pintu setiap kali meminta izin.
"Selamat pagi, Bu," ucap Qenna. "Bu mencari ruang Pak Armand? Dari lorong tadi belok ke kanan ...."
"Saya ibunya Armand."
Gelas di rak berdenting karena tangan Qenna menyentuhnya. Ia cepat menarik tangan itu.
"Boleh saya masuk sebentar?" Ibu itu sudah melangkah, tanpa menunggu jawaban, namun dengan nada orang yang sedang meminta. Ia berhenti di dekat meja marmer. Matanya turun satu kali pada perut Qenna, lalu naik lagi pada wajahnya, dan tidak ada yang berubah di raut mukanya. "Kamu hamil?"
Tidak ada pengantar, tidak ada basa-basi. Qenna merasa ruangan itu menyempit.
Ada banyak hal yang bisa ia lakukan. Ia bisa menggeleng, berkata Ibu salah paham. Ia bisa membuka mulut dan menyuruh Ibu itu bertanya kepada Pak Armand. Tetapi perempuan di hadapannya menatapnya dengan jenis tatapan yang tidak pantas dibalas dusta, sekecil apa pun.
"Iya, Bu."
Jawaban itu keluar lebih pelan dari yang ia kira. Ibu itu tidak berkedip.
"Sudah berapa bulan?"
"Menjelang empat bulan, Bu."
"Ayahnya?"
Dari ambang pintu terdengar langkah tergesa yang berhenti mendadak. Qenna melihat Armand di sana, napasnya naik turun, jas tidak ada, satu tangan mencengkeram kusen. Di belakangnya, Hans berdiri dengan wajah pucat. Mata Armand mencari mata Qenna, dan Qenna membaca pertanyaan di sana tanpa perlu suara. Pertanyaan itu sama seperti yang selalu ia ajukan: boleh saya masuk, boleh saya hentikan ini, apa yang kamu mau.
Qenna menggeleng sedikit.
"Saya bisa sendiri, Pak."
Bahu Armand turun. Rahangnya bergerak sekali, kemudian ia mundur satu langkah, ke luar pintu, dan berdiri di lorong dengan tangan terkepal di sisi tubuh. Ibunya menoleh sekilas ke arah itu, lalu kembali pada Qenna. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya, sangat kecil, seperti seseorang yang baru saja melihat anaknya menuruti perintah orang lain.
"Ayahnya bukan Pak Armand, Bu," kata Qenna. Ia menegakkan punggung. "Saya tahu Ibu mungkin sudah melihat foto atau mendengar sesuatu. Saya tidak tahu siapa yang mengirimnya, tapi Ibu tidak perlu menduga-duga. Pak Armand tidak punya hubungan apa pun dengan kehamilan saya."
"Lalu siapa?"
"Suami saya."
Satu alis ibu itu terangkat. Di luar, terdengar Hans menarik napas panjang.
"Saya menikah," Qenna melanjutkan, dengan suara yang mulai goyah dan ia paksa tegak, "dan sehari sesudah akad, dia pergi. Naik pesawat sendiri, dan saya ditinggal di hotel. Dua hari kemudian dia menikah lagi. Ibunya mengirim surat yang katanya surat cerai. Di atas kertas saya sudah janda, Bu. Tapi dia tidak pernah mengucapkan talak. Jadi saya tidak tahu saya ini apa."
"Dia tahu kamu hamil?"
"Belum."
"Kenapa?"
Qenna menggigit bibir. "Karena dia pergi sehari sesudah menikahi saya. Saya belum punya jawaban yang lebih baik dari itu."
Hening panjang. Dari jendela, cahaya pagi turun ke permukaan marmer. Qenna menunggu kata yang akan datang: perempuan murahan, pembohong, jangan dekati anak saya. Ia sudah mendengar semuanya, dari mulut-mulut yang lebih kasar. Ia sudah menyiapkan tulang punggungnya.
"Kamu makan apa pagi ini?"
Qenna mengerjap. "Bubur, Bu. Dan telur."
"Tidur berapa jam semalam?"
"Enam. Mungkin tujuh."
"Siapa yang menemanimu periksa ke dokter?"
Pertanyaan ketiga itu yang meruntuhkan sesuatu. Bukan nadanya, yang tetap datar. Tetapi karena sudah lama sekali tidak ada orang asing yang bertanya hal itu dengan serius.
"Ibu panti, Bu. Ibu Aisyah. Dia yang membesarkan saya." Qenna berdeham. "Dan Sindy, kalau Ibu Aisyah tidak bisa."
"Kamu tinggal di panti?"
"Sudah tiga pekan, Bu. Ibu Aisyah tidak mau saya sendirian."
"Dan kamu masih bekerja dengan perut begitu?"
"Dokter bilang yang ringan-ringan boleh. Tugas saya sudah dipindah ke pantry dan ruang rapat." Qenna menahan sudut bibirnya yang hampir tersenyum. "Saya memang keras kepala, Bu. Pak Armand sudah lama menyerah soal itu."
Ibu itu mengangguk pelan. Ia membuka tas dan menutupnya lagi tanpa mengeluarkan apa pun, kebiasaan orang yang ingin memberi sesuatu tetapi tidak menemukan benda yang pantas. Pada akhirnya ia hanya menarik napas dan menatap Qenna lama.
"Nama kamu?"
"Qenna, Bu."
"Jaga dirimu, Qenna."
Itu saja. Ia berbalik, melangkah ke pintu, dan lewat di depan Armand tanpa menoleh. Qenna menahan pegangan meja marmer sampai buku jarinya memutih. Bunyi sepatu di lorong menjauh, bergema pelan.
Lututnya baru lemas setelah ia sendirian. Qenna menurunkan diri ke bangku plastik di sudut pantry dan menaruh dua telapak tangan di atas perut yang belum terlalu tampak. Bayi itu, yang selama ini tidak pernah bergerak sedikit pun, tetap diam. Ia memejamkan mata.
Roda troli berderit di ambang pintu. "Qen? Tadi aku lihat ada ibu-ibu cantik lewat dengan Pak Armand di belakangnya, mukanya pucat. Siapa?" Citra berhenti, dan nada suaranya turun dua tingkat. "Kamu kenapa duduk di situ?"
"Ibunya Pak Armand."
"Dia memarahimu?"
Qenna membuka mata dan tertawa kecil, tawa yang hampir pecah. "Dia menanyakan aku sarapan apa."
Citra memandangnya lama, lalu mendorong troli ke samping dan berjongkok di depan bangku itu tanpa berkata apa-apa lagi.
***
Armand menunggu sampai langkah ibunya berhenti di dekatnya. Ia tidak sanggup bertanya. Hans sudah menghilang ke ruang direktur, mungkin sengaja, mungkin karena tahu ia tidak punya tempat di sini.
"Ma ...."
"Dia tidak berbohong." Mama Ningsih berhenti di depan jendela lorong, memunggungi anaknya. Matanya mengikuti lalu lintas Jalan Pahlawan jauh di bawah. "Mama sudah bertemu banyak orang yang berbohong dengan wajah jujur. Perempuan ini jujur dengan wajah yang hampir menangis. Itu bedanya."
"Armand sudah bilang, Ma."
"Kamu bilang bukan anakmu. Kamu tidak bilang kamu sudah tahu semua ini sejak lama." Mama Ningsih memutar badan. Pelan, nyaris tanpa nada, ia berkata, "Mama tidak marah, Nak. Mama takut."
Armand menunggu kelanjutannya. Ibunya tampak lebih kecil dalam cahaya jendela.
"Takut apa?"
"Anak Mama sudah pernah menikahi perempuan yang tidak mencintainya. Mama tidak sanggup melihatmu jatuh pada perempuan yang masih terikat dengan lelaki lain." Mama Ningsih merapikan tali tasnya, tetapi jari-jarinya gemetar. "Dan perempuan seperti ini ... lelaki mana pun akan mudah jatuh padanya. Mama tahu, karena Mama melihat caramu berdiri tadi."
Armand tidak menjawab. Tidak ada jawaban yang tidak akan terdengar seperti pengakuan atau kebohongan.
"Mama pulang. Jangan antar." Ia berjalan ke arah lift, lalu berhenti dua langkah di depan Armand. "Dan jangan paksa dia bicara apa pun lagi pada Mama. Dia sudah cukup berani hari ini."
Armand tidak mengantarnya, sesuai perintah. Ia hanya berdiri di lorong sampai pintu lift menutup, lalu membalik badan. Pintu pantry masih terbuka. Dari tempatnya ia bisa melihat punggung Citra dan, di balik bahu Citra, rambut hitam yang diikat rendah dan sepasang tangan yang menutupi wajah.
Ia mengambil satu langkah ke arah pintu, lalu berhenti. Pertanyaan "boleh saya masuk" tidak bisa ia ajukan kepada siapa pun selain orang di dalam sana, dan orang itu sedang tidak ingin ditanya.
Hans muncul di sampingnya tanpa suara. "Pak. Rapat pertama jam sebelas."
"Aku tahu."
"Mau saya yang masuk?"
Armand menatap pintu itu satu detik lagi, lalu menggeleng. "Tolong bawakan teh hangat ke dia. Tanpa kata apa-apa. Taruh saja di meja."
Hans menunduk menatap kopi di nampannya, yang sejak tadi ia pegang dan kini sudah dingin. "Baik, Pak," katanya, lalu meletakkan nampan kopi itu di meja lorong dan pergi ke pantry tanpa menoleh lagi.