"Televisinya jangan sampai terbalik," ujar Sindy mengingatkan untuk ketiga kalinya. "Itu satu-satunya barang berharga di rumah ini, Pak Hans."
"Saya bukan kuli, Sindy. Tapi saya menghargai profesionalisme." Hans memeluk kotak televisi itu dengan kedua tangan, wajahnya merah, kaus olahraganya basah di punggung. "Kalau kamu terus berdiri di situ memelototi saya, saya jadi gugup dan tangan saya licin."
"Memang itu tujuannya."
Qenna tertawa dari ambang pintu kontrakan sambil memegang sebuah kardus berisi gelas. Sabtu pagi itu cerah, hampir tak masuk akal untuk hari yang seharusnya sendu. Di halaman depan, mobil bak pinjaman Hans diparkir miring menghalangi separuh gang. Bak belakangnya penuh: kasur lipat, lemari plastik tiga susun, rice cooker dibungkus handuk, dan empat belas kardus yang masing-masing diberi nama dengan spidol hitam dalam tulisan Qenna yang rapi. Hans menolak ikut menandai. Katanya, "Saya tidak percaya diri dengan tulisan saya di depan perempuan yang tulisannya sebagus ini."
"Bu RT memperhatikan dari warung," bisik Sindy ketika Hans sudah kembali ke bak. "Dari tadi. Tidak mau bicara, tapi tidak mau beranjak."
"Biarkan." Qenna mengunci pintu depan dan menarik kuncinya. Logam dingin itu terasa aneh di telapak tangannya. Belum genap tiga bulan ia tinggal di sini. Tidak ada yang akan ia rindukan selain jendela kecil di dapur, dan suara hujan di atas seng. "Kunci ini mau kuserahkan ke pemilik hari Senin."
"Sini, aku saja." Sindy mengambil kunci itu dan meletakkannya dalam saku. "Kamu duduk."
"Aku bisa ...."
"Qen." Sindy menatapnya sungguh-sungguh. "Kamu hamil. Biarkan aku yang mengurus sisa-sisanya hari ini."
Qenna menyerah. Sebelum duduk, ia menjenguk ruangan kosong itu sekali lagi: lantai yang sudah ia sapu dua kali, bekas paku di dinding tempat foto-foto anak panti tadinya tergantung, sudut dapur yang kini bersih tanpa satu pun gelas. Rumah ini tidak pernah menjadi miliknya. Tetapi di sinilah ia menangis di lantai kamar mandi sambil memegang dua garis merah. Ia menutup pintu perlahan, seperti menutup pintu kamar orang yang sedang tidur. Ia baru duduk di tepi teras ketika deru mesin lain terdengar di mulut gang, lebih halus dan lebih rendah dari mobil bak. Sebuah sedan hitam berhenti di belakang bak. Pintu pengemudi terbuka, dan Armand turun, mengenakan kaus polos dan celana kain, tidak seperti atasan yang ia kenal.
Qenna segera berdiri.
"Pak," katanya sebelum Armand sempat mendekat. "Saya tidak meminta."
"Betul." Armand berhenti di jarak tiga langkah. Ia tidak tersenyum, tidak juga tampak membela diri. "Kamu tidak meminta, dan saya sendiri yang bilang tidak akan datang tanpa kamu minta. Saya melanggar kata-kata saya, dan saya mengakuinya. Hans bilang bak sudah penuh dan masih ada satu kardus yang tidak muat. Saya hanya bawa mobil kosong." Ia mengangkat kedua tangan setengah, menunjukkan tidak ada apa pun di sana. "Kalau kamu bilang pulang, saya pulang."
Di belakang Qenna, Hans mendadak sangat sibuk dengan tali pengikat. Sindy menahan napas.
Qenna menatap sedan itu, lalu Armand. Gang di sekelilingnya terasa terlalu sunyi. Di warung seberang, tiga kerudung mengarah ke sini.
"Satu kardus saja," ujarnya akhirnya. "Dan hanya sampai gerbang panti, Pak. Tidak lebih."
"Sampai gerbang."
Kardus terakhir itu berisi buku-buku Qenna, yang paling berat. Armand mengangkatnya dengan hati-hati seolah isinya kaca, dan membawanya ke bagasi. Saat ia berbalik, ibu berdaster hijau sudah berdiri di depan warung dengan mulut setengah terbuka, menunjuk dengan dagu.
"Itu bapaknya?" bisik ibu itu, tidak cukup pelan.
Qenna mendengarnya. Armand juga. Tak seorang pun menjawab. Qenna masuk ke kursi depan mobil bak tanpa menoleh, dan Hans menyalakan mesin lebih cepat dari yang diperlukan.
***
Panti menyambut mereka dengan suara dari segala arah. Andin berlari keluar lebih dulu, diikuti sekawanan anak yang langsung berebut membawa kardus. Hans dengan senang hati menyerahkan kardus-kardus ringan kepada mereka dan menyimpan televisi untuk dirinya sendiri.
Sedan hitam itu berhenti di seberang gerbang. Armand turun, membuka bagasi, mengangkat kardus berisi buku, dan berjalan sampai ke depan gerbang besi yang sedang terbuka. Di sana ia berhenti, persis seperti janji, dan menyerahkannya.
"Sampai di sini saja, Pak," ucap Qenna, memeluk kardus itu sendiri. Berat, tapi ia tahan.
"Baik." Armand mundur satu langkah. Pandangannya sekilas jatuh ke halaman panti yang ramai, ke jemuran, ke seorang anak kecil yang menarik-narik ujung kaus Hans. Sesuatu melembut di wajahnya. "Rumahnya hangat."
"Iya, Pak."
"Kalau begitu, selamat pindah."
Ia kembali ke mobil tanpa menoleh, dan sedan itu pergi. Dari sudut mata, Qenna menangkap Andin berdiri tegak di teras, kedua tangan di pinggang, menatap kepergian mobil itu dengan alis terangkat. Qenna sengaja tidak bertanya apa yang ada di kepala gadis itu.
Kamar belakang sudah rapi. Seprai biru, kembang sepatu di vas plastik, boks kayu bercat kuning di pojok. Qenna duduk di tepi ranjang, mendadak lelah sekali, dan Andin menyusul masuk dengan sisir dan sebotol kecil minyak kelapa.
"Duduk, Kak. Andin sisirin."
"Kakak bisa sendiri, Din."
"Tapi Andin mau." Gadis itu sudah berdiri di belakangnya. Jari-jarinya cekatan, lembut, melepas ikatan rambut Qenna dan menyisir dari ujung ke akar, seperti yang dulu Qenna lakukan untuk adik-adik di bangku teras, sore-sore, sambil menunggu lampu menyala. "Rambut Kakak masih bagus walaupun lagi capek. Andin tidak akan tanya-tanya. Ibu sudah bilang, Kakak yang cerita kalau mau."
"Terima kasih, Din."
"Tapi Andin boleh bantu, kan? Kalau Kakak butuh sesuatu?"
"Boleh."
Di ambang pintu, Ibu Aisyah berdiri membawa sesuatu di tangan, menunggu mereka selesai. Ketika Andin pamit membawa sisirnya, ia masuk dan duduk di sebelah Qenna, lalu membuka telapak tangannya.
Sehelai foto kecil, tepinya melengkung, warnanya sudah menguning. Seorang perempuan muda berkerudung sederhana tersenyum lebar ke kamera, memangku bayi yang sedang menarik ujung kerudungnya.
"Ibu simpan di laci sejak kamu datang," kata Ibu Aisyah. "Satu-satunya yang tersisa. Ibu pikir sekarang saatnya kamu simpan sendiri."
Qenna memegangnya dengan dua tangan. Mamanya. Wajah yang selama ini hanya ia kenal dari cerita. Hidung yang sama. Alis yang sama. Ia mengusap tepi foto itu, dan untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
"Mamamu waktu itu baru pulang dari fotokopi," kata Ibu Aisyah akhirnya. "Kamu rewel, tidak mau diam, dan ia bilang, 'Kalau begini terus, nanti besar jadi anak yang keras kepala.' Ibu bilang, 'Bagus. Perempuan memang harus begitu.'" Ibu Aisyah tersenyum getir. "Dia tertawa. Ibu masih ingat tawanya."
"Qenna tidak ingat apa-apa, Bu."
"Kamu tidak perlu ingat. Ibu ingatkan, setiap kali kamu lupa." Ia menepuk punggung tangan Qenna. "Dan nanti kamu juga akan cerita begitu pada anakmu."
Qenna menekan telapak tangannya ke perut. Foto itu ia selipkan hati-hati ke dalam saku kemejanya, di dekat jantung.
***
Sindy keluar dari gerbang untuk mengambil tas yang tertinggal di bak. Saat itulah ia melihatnya.
Di seberang jalan, di bawah pohon mangga yang daunnya berdebu, ada seorang lelaki dengan jaket abu-abu. Ia berdiri bersandar pada mobil kecil berwarna perak, ponsel diangkat setinggi dada, lensanya menghadap ke arah gerbang panti. Bukan ke arah Sindy. Ke arah gerbang, tempat Qenna tadi menerima kardus dari Armand.
Sindy tidak berteriak. Setiap naluri memintanya berlari menyeberang jalan dan menanyakan siapa dia, untuk apa. Tetapi ia ingat apa yang Qenna ceritakan soal Mama Jamilah, soal amplop dan tamparan, dan ia tahu kalau lelaki ini suruhan, lari ke arahnya hanya akan memberinya kesempatan menghilang. Ia berpura-pura mengikat rambut sambil mengeluarkan ponselnya sendiri, memotret nomor polisi mobil itu dalam satu bidikan cepat yang lolos dari pandangan si lelaki.
Lelaki itu menurunkan ponselnya, melirik jam tangan, lalu masuk ke mobil dan pergi tanpa terburu-buru. Sindy baru menyadari tangannya gemetar setelah ia memandangi layar ponselnya sendiri: sebaris huruf dan angka, tersimpan, menunggu dipakai.