Seperti biasa, seusai kuliah Shakira langsung menuju sebuah restoran yang ada di sebuah mal kecil yang terletak tak jauh dari Kampusnya.
Shakira segera menuju ruang karyawan untuk berganti pakaian. Kini gadis itu telah berganti seragam pramusaji restoran. Shakira menyapa beberapa rekan kerja dan seorang manajer restoran yang sangat mengenalnya dengan baik.
"Hai Shaki, apa kabar hari ini?'' sapa manajer Martin yang sedang duduk di sebuah ceruk ruang karyawan melepas kesibukannya dengan pembukuan yang ada di hadapannya.
"Baik Pak Martin! Sangat baik!'' jawab Shakira dengan antusias yang membuat lelaki bertubuh tinggi besar dan bertampang maskulin itu mengangkat wajahnya dari aktivitasnya menatap lembaran bon dan buku kas.
"Hei, ada apa? Sepertinya kamu sedang sangat bersemangat ya?'' Pak Martin meneguk kopinya dengan senyuman khasnya yang membuat aura maskulinnya terlihat lebih ramah.
"Shakira kan memang selalu kelebihan energi pak! Seperti baterai Kelinci itu Pak!'' sahut Joe yang sedang melintasi ruangan sambil membawa nampan yang berisikan beberapa piring dan gelas kotor untuk di cuci.
Mendengar itu pak Martin tergelak dan mengiyakan ucapan Joe. Shakira hanya mencibir dengan gaya khasnya sambil merapikan kembali rambut kucir kudanya.
Lalu ia buru-buru ke ruang depan yang merupakan ruang makan untuk para pengunjung. Shakira segera membantu Joe mengangkat semua perkakas kotor sepeninggal para pengunjung.
Shakira sangat cekatan dan gesit melakukan pekerjaannya, kini ia sedang mengelap meja-meja yang siap diisi oleh pengunjung baru. Akan tetapi ia merasakan sebuah tangan dengan enaknya meremas bokongnya yang terbalut celana hitam seragam yang ia kenakan. Bertepatan Pak Martin keluar dari ruang karyawan dan melihat hal itu.
Shakira spontan menoleh ke belakang dan langsung mendapati seorang lelaki bertubuh gemuk sedang memandangi dengan tatapan nakal kepadanya.
"Apa yang Anda lakukan? Anda benar-benar kurang ajar!''
BUG!
Dengan kesal Shakira memukul wajah laki-laki yang berpenampilan seperti seorang Sugar Dady. Laki-laki itu mengerang kesakitan menerima pukulan Shakira.
"KURANG AJAR! BERANI-BERANINYA KAMU MEMUKULKU!" bentak laki-laki berjas hitam dan berkepala botak itu sangat marah hingga membuat semua mata menoleh ke arah mereka.
Bahkan tanpa mereka sadari ada beberapa pengunjung dari restoran itu dan restoran yang bersebelahan dengan mereka merekam insiden itu menggunakan ponsel mereka.
"BAPAK YANG KURANG AJAR SAMA SAYA! DASAR ORANGTUA m***m! BAPAK TADI MEREMAS p****t SAYA!" balas Shakira tak mau kalah.
"JANGAN MENGADA-ADA YA! KAMU MAU DUIT KAN? SENGAJA MERAYUKU TAPI KARENA AKU MENOLAK KAMU BERBUAT KASAR! KAMU TAHU SIAPA SAYA? BISA BUSUK KAMU DIPENJARA KARENA KELAKUANMU TADI!"
"YANG SAYA TAHU BAPAK ORANG m***m DAN ...."
Belum selesai ucapan Shakira, tiba-tiba 2 orang berbadan kekar segera mendekati Shakira dan salah satunya hendak menangkap pergelangan tangan Shakira namun terhalang oleh tangan Pak Martin.
"Maaf Bapak sekalian, tolong jangan berbuat onar di restoran kami.'' Pak Martin segera menepis tangan salah satu pengawal itu dan berdiri di antara Shakira dan ketiga laki-laki itu.
"ANAK BUAHMU YANG BERBUAT ONAR! LIHAT SAJA DIA MEMUKULKU DAN MEMFITNAHKU m***m!" Bentak laki-laki berkepala plontos tetap mengotot dengan pendiriannya. Kini para pengunjung mal makin ramai mengerumuni mereka.
"Oh, Bapak harusnya bukan hanya dapat pukulan, tapi Bapak bisa dipenjara karena berbuat kurang ajar pada perempuan. Apalagi sekarang membuat keributan di sini. Saya melihat sendiri tangan Bapak melakukan itu pada anak buah saya. Kalau bapak masih mengotot tak percaya biar saya buka CCTV restoran dan CCTV dari mal. Banyak CCTV di sekitar sini, pasti salah satu di antaranya ada yang merekam kejadian tadi,'' ancam Pak Martin dengan tegas. Laki-laki plontos itu langsung berubah kecut.
"Saya tahu Bapak siapa! Justru Bapak yang seorang anggota parlemen harusnya bisa menjadi contoh yang baik untuk masyarakat! Jika terbukti Bapak bersalah saya akan menuntut Bapak!'' Pak Martin mengeluarkan ancamannya.
Bertepatan dua petugas keamanan mal mendatangi mereka dan segera membubarkan kerumunan dengan membawa semua yang bersangkutan ke dalam kantor mal.
***
"Aduh, ada-ada saja!'' Sarah mendesah dengan kasar, sepeninggal mereka dan orang-orang di sekitar tempat itu mulai kembali normal dengan kegiatan masing-masing walau sebagian orang masih kasak-kusuk membicarakan insiden yang baru saja terjadi.
"Iya, nasib sial itu Om Botak! Shaki yang dikerjai, untung saja bukan Botaknya yang dikeplak,'' Joe menimpali sambil terkekeh. Sarah, Adam dan Vio ikut terkekeh mendengarnya.
"Eh guys, aku merasa Pak Martin perhatian sekali ya pada, Shaki?'' gumam Vio mengalihkan pembicaraan. Joe terlihat terkejut.
"Ya iyalah Pak Martin kan manajer kita, ya tentu saja harus membela Shaki. Apalagi jelas-jelas orang itu yang salah, bagaimana sih kamu?'' Joe mencoba menyampaikan logikanya.
"Ih bukan sekarang saja! Sejak ada Shakira, Pak Martin jadi lebih sering bercanda dan gayanya itu... Seperti apa ya? Seperti orang jatuh cinta!'' Vio mencoba meyakinkan.
"Heh! Dasar, Nenek! Shakira masih kuliah, belum juga dua puluh tahun! Umurnya saja separuhnya Bapak!'' Joe makin menentang opini Vio.
"Halah, bilang saja kamu cemburu? Iya, kan?'' Vio menepuk-nepuk pundak Joe seolah menyabarkan Pemuda berperawakan kurus itu, "sabar ya, Joe. Saingan kamu Pak Manajer kita."
Joe tergelak menutupi perasaannya yang terbaca dengan jelas oleh Vio. Mereka pun ikut menertawakan dan meledek Joe tentang gosip yang sudah terungkap berkat pengamatan Vio. Hanya Sarah yang tersenyum sekedarnya melihat itu.
"Heh, sudah, sudah! Itu Bapak dan Shaki sudah kembali. Bubar! Bubar!'' sahut Adam yang muncul dari luar restoran. Mendengar itu mereka langsung membubarkan diri dan kembali ke pos pekerjaan mereka masing-masing.
Namun kepura-puraan itu tak berlangsung lama, begitu mereka melihat pak Martin dan Shakira yang berwajah tegang memasuki restoran, mereka langsung mengerumuni kedua orang itu.
"Jadi? Jadi bagaimana tadi, Pak?'' Joe menyerbu dengan tak sabar. Pak Martin duduk di sebuah bangku pengunjung.
Laki-laki tampan berjambang tipis dan berambut jabrik itu tersenyum miring yang membuat ketampanan maskulinnya itu makin memesona. Sarah menggigit bibirnya melihat pemandangan itu.
"Ya, begitulah, merasa orang yang punya kuasa mau semena-mena. Setelah ketahuan salah dari CCTV mal dia minta damai, mau menyuap kita dengan uang asal masalah ini tak dibawa ke ranah hukum.'' Pak Martin mulai menjelaskan.
"Negosiasi berlangsung alot karena Si Botak itu sangat keras kepala!'' Shakira menggerutu kesal.
"Pihak mal setuju menyerahkan kasus ini untuk dibawa ke pihak berwajib, jadi mungkin beberapa hari ke depan saya akan mendampingi Shaki sebagai saksi, jadi jika saya tak ada di tempat saat itu semua urusan saya serahkan ke kamu ya Joe.''
"Hah? Oke pak! Siap!'' jawab Joe yang kaget namun cepat tanggap dengan perintah mendadak itu.
“Huh, benar-benar hari yang aneh,'' gumam Shakira sambil merenung.
"Ada apa, Shak? Kamu ada masalah apa lagi?'' tanya Vio menoleh kepada Shakira yang membuat semuanya ikut menoleh kepada gadis cantik bertahi lalat di pipi itu.
Mendengar pertanyaan itu lagi-lagi Shakira mendesah dan menceritakan insiden-insiden yang ia alami sebelumnya. Semua yang mendengarnya melongo bengong dan kaget. Kecuali Pak Martin yang menatapnya dengan senyum terpana.
"Wah, wah, wah... Tahu begitu tadi, aku tak perlu menahan saja ya tangan pengawal-pengawal tadi? Kalau kamu bisa hajar mereka pasti seru,'' Pak Martin berdecap kagum menatap Shakira yang cengengesan malu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya bukan begitu juga, Pak ....'' Shakira berusaha merendah malu.
"Iya benar! Coba kepala Si Botak di keplak sama Shaki, biar bener dikit itu otaknya!'' Celetuk Vio yang membuat semuanya tergelak.
***
Malam itu Shakira diantar pulang oleh Pak Martin dan Joe yang menumpang mobil Pak Martin.
Pak Martin memaksa melakukan itu karena khawatir akan keselamatan Shakira. Sepeninggal mobil sedan biru itu, Shakira memasuki sebuah halaman rumah susun yang terletak di pinggiran kota Jakarta. Gadis itu berjalan dengan riang, menggumamkan sebuah nada lagu di sela bibirnya yang mengulum permen coklat favoritnya. Ia memasuki lift dan memencet angka 5.
Sesampainya di depan rumah Shakira mengetuk dan mengucapkan salam, namun tak ada jawaban. Shakira mengernyit bingung dan memanggil sekali lagi sambil memuka pintu. Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati pintu terbuka dengan sendirinya.
‘Loh? Tak dikunci? Mama?''
Shakira bergegas memasuki rumah yang gelap. Ia menyalakan lampu ruang tamu sambil terus memanggil Ibunya. Shakira mencoba menelepon ponsel ibunya setelah ia tak menemukan Ibunya di mana pun, akan tetapi ponsel Ibunya pun tak aktif. Perasaan cemas mulai menghinggapinya.
Ia beranjak dari kursinya untuk bertanya ke tetangga terdekat, namun langkahnya terhenti saat matanya tertumbuk oleh sebuah tulisan di atas kertas yang terpajang di balik pintu rumah.
"Jika ingin ibumu selamat, jangan bicara pada siapa pun! Akan ada mobil yang menjemputmu di depan gerbang. Ingat jangan macam-macam! Siapkan dirimu dari sekarang! Turuti perintah kami!''
‘Oh Tuhan... Apa lagi ini?' desah Shakira terduduk lemas.