Bima memutuskan tidak mengajukan banding atas penggunaan identitas Maira.
Ia hanya mengajukan koreksi pada satu bagian amar yang menyebut lama penahanan saksi, karena catatan medis menunjukkan dua periode berbeda. Jaksa setuju memperbaiki fakta tanpa mengurangi pokok hukuman.
Banding terbatas dilakukan tertulis. Saksi tidak dipanggil ulang untuk hal yang sudah disepakati. Pengadilan memperbaiki tanggal dan mempertahankan hukuman pokok.
Bima menjelaskan kepada Aira bahwa koreksi bukan usaha mengurangi pengalaman saksi. Ia tidak meminta Aira mendukung. Pengacara saksi menerima perubahan setelah melihat catatan.
Damar menggunakan koreksi itu untuk menyatakan seluruh amar lemah. Pengadilan menolak; satu tanggal yang diperbaiki menunjukkan proses dapat mengoreksi tanpa membuang bukti lain.
Aira membaca keputusan itu melalui pengacara. Ia tidak menyebutnya bukti cinta. Menghentikan bantahan terhadap kesalahan yang diakui adalah tanggung jawab Bima sendiri.
Surat mingguan terus datang. Beberapa hanya setengah halaman. Bima menulis terapi, kelas hukum, dan orang yang ia minta maaf melalui jalur resmi. Ia tidak meminta Aira menunggu hari bebas.
Fasilitas memeriksa surat untuk ancaman serta lokasi saksi, bukan menyunting emosi. Aira dapat meminta pengiriman berhenti kapan saja. Kirana menyimpan log jumlah surat tanpa membaca isi.
Bima menulis tentang hari ketika ia pertama kali memilih identitas Maira. Ia menyadari bukan satu keputusan besar, melainkan serangkaian kesempatan berhenti yang dilewati. Aira menandai kalimat itu tetapi tidak menjawab segera.
Surat lain berisi rutinitas biasa: menyiram tanaman fasilitas, gagal membuat roti, dan membaca novel yang tidak selesai. Aira ingin mengenal hal biasa tanpa mengubahnya menjadi bukti perubahan sempurna.
Aira membalas ketika ingin. Kadang tiga minggu tanpa surat. Bima tidak mengirim tambahan untuk menanyakan mengapa.
Selama jeda, Aira menjalani evaluasi kerja dan mendapat kontrak enam bulan. Ia tidak memakai rekomendasi Bima. Supervisor menilai kemampuannya menjelaskan formulir serta menjaga batas data.
Ia juga memulai terapi dengan konselor yang tidak dibiayai langsung keluarga Adiprana. Catatannya tidak dapat dilihat Bima, Ratih, atau pengelola saham.
Bima pernah meminta kepastian jadwal kunjungan untuk satu tahun. Aira menjawab setiap kunjungan akan diputus satu per satu. Pada bulan ketika pekerjaannya sibuk, ia tidak datang. Bima menulis bahwa ia kecewa tetapi memahami, lalu tidak mengirim orang mencari alamatnya.
Pada kunjungan berikutnya, Aira membawa cincin dalam kotak.
Sebelum masuk, cincin diperiksa sebagai benda pribadi dan tidak memiliki penyimpanan digital. Cincin safir Selena berbeda dan tetap dalam barang bukti; cincin Aira sederhana, dibeli Bima dengan uang pribadi.
Aira mengatakan pernah memakai cincin itu di bawah sarung tangan karena takut orang membaca nama Maira. Sekarang menyimpannya juga terasa seperti menjalankan janji lama. Ia ingin benda berhenti membuat keputusan.
Kustodian menawarkan tiga pilihan: dikembalikan Bima, disimpan Aira, atau ditahan netral. Aira memilih yang ketiga setelah mendengar semua.
'Aku tidak mau menyimpannya sebagai janji,' katanya. 'Aku juga tidak ingin mengembalikan seolah semua yang kita punya palsu.'
Bima bertanya apa yang ia pilih.
'Cincin ini disimpan kustodian sampai masa hukumanmu selesai. Setelah itu, kalau kita masih memilih satu sama lain, kita membeli atau memakai apa pun dengan nama kita sendiri.'
'Baik.'
Bima tidak menyentuh kotak. Kustodian menerimanya dan membuat tanda terima atas nama Aira.
Enam persen saham yang ia serahkan menghasilkan dividen pertama. Dana membayar empat puluh tujuh koreksi dokumen, terapi, serta operasi seorang pasien. Laporan menyamarkan nama dan dapat diaudit korban.
Empat puluh tujuh koreksi memiliki hasil berbeda. Tiga selesai, dua belas menunggu lembaga lain, delapan perlu sidang, sisanya masih verifikasi. Laporan tidak menyebut semuanya berhasil hanya karena biaya sudah keluar.
Operasi pasien disetujui komite kesehatan tanpa mengetahui apakah pasien pernah bersaksi untuk Bima. Penerima tidak dikirim surat bahwa uang berasal sahamnya.
Dividen berikutnya turun karena audit hotel. Dana menggunakan cadangan dan tidak menghentikan terapi mendadak. Ketergantungan pada satu perusahaan terus dikurangi melalui aset sitaan.
Bima tidak memilih penerima. Ia menerima laporan sama seperti publik, tanpa surat terima kasih pribadi.
Sisa sahamnya tetap beku selama hukuman. Ia menandatangani kuasa suara netral, tidak kepada Rendra atau Aira. Setelah bebas, haknya akan ditinjau sesuai aturan baru.
Maira menerima surat terakhir yang wajib dari Bima. Isinya permintaan maaf tanpa alasan baru. Ia mengakui tidak berhak meminta hubungan keluarga dan tidak akan menulis lagi kecuali Maira membuka kanal.
Surat tidak menyebut Rendra. Bima tidak memakai hubungan mereka sebagai ukuran apakah Maira sudah memaafkan. Ia juga tidak meminta Maira menyampaikan pesan kepada Aira.
Maira membacanya bersama pengacara karena satu halaman menyebut dokumen studio. Setelah dipastikan tidak ada bukti baru, surat dipindahkan ke berkas pribadi yang dapat ia musnahkan setelah masa perkara.
Ia merasa lega dan marah sekaligus. Permintaan maaf yang lebih baik tetap datang setelah begitu banyak pilihan diambil darinya.
Maira membaca lalu menyimpan dalam berkas perkara. Ia tidak membalas. Diam kali ini adalah pilihan yang diketahui pengirim, bukan rahasia yang dibangun orang lain.
Aira mengajak Maira makan malam di kamar sewanya. Mereka memasak terlalu banyak nasi dan tertawa ketika lauk terlalu asin. Percakapan berpindah dari persidangan ke pekerjaan, pakaian, serta tetangga yang berisik.
Aira menunjukkan lemari tanpa ruang tersembunyi dan kontrak yang sudah diperbaiki. Maira tidak memeriksa laci. Kepercayaan bukan audit yang dilakukan diam-diam.
Mereka membandingkan kebiasaan yang mungkin berasal masa bayi dan yang tumbuh terpisah. Keduanya suka tidur dengan jendela sedikit terbuka, tetapi hanya Aira menyukai makanan pedas. Kesamaan tidak membuktikan takdir, perbedaan tidak mengurangi darah.
Maira membawa foto Lestari yang pernah disalin dua kali. Ia menawarkan satu salinan. Aira memilih menyimpan, dengan catatan bahwa ibu dalam foto bukan seluruh ibu yang mereka pelajari.
'Aku mungkin masih mencintainya ketika dia bebas,' kata Aira.
'Mungkin.'
'Kau tidak akan bilang aku bodoh?'
'Aku akan bertanya apakah pilihanmu bebas dan apakah tindakannya berubah. Jawabannya tetap milikmu.'
Aira mengangguk. Ia bertanya tentang Rendra tanpa menggoda.
Maira mengatakan mereka berkencan dan sudah berciuman. Aira tersenyum, lalu hanya berkata, 'Semoga dia terus bertanya.'
'Aku juga.'
Aira tidak meminta bertemu Rendra sebagai calon keluarga. Pertemuan mereka akan terjadi bila Maira mengundang, bukan karena status saudari membuat penilaian otomatis.
Maira bertanya apakah Aira ingin ia membaca surat Bima. Aira menjawab belum. Hubungan keduanya dekat tanpa semua isi harus dibagi.
Malam berakhir dengan Maira mencuci piring sementara Aira mengeringkan. Tidak ada dokumen yang perlu mereka tandatangani untuk menyebut kegiatan itu keluarga.
Hubungan saudari mereka tidak lagi hanya dibangun dari darah dan perkara. Mereka mulai memiliki rahasia kecil yang diberikan sukarela, bukan disembunyikan untuk mengendalikan.