Hakim membacakan putusan selama tiga hari.
Tidak ada satu hari bernama putusan jaringan. Setiap terdakwa hadir pada bagian tindakan sendiri, dengan korban diberi pilihan menyaksikan atau menerima salinan.
Maira datang untuk Hadi, Bima, Danu, Saras, dan Bayu. Ia tidak hadir pada seluruh sidang Damar serta Marni. Pengacaranya membaca bagian yang relevan sesudahnya.
Hadi dinyatakan bersalah mengesahkan akta tanpa persetujuan, menyalahgunakan sertifikat, dan menghalangi koreksi. Ancaman terhadap anak serta kerja samanya mengurangi hukuman, tetapi tidak menghapus pencabutan kewenangan profesi.
Hakim menjelaskan ancaman membuat ruang pilihannya sempit, bukan kosong. Hadi sempat menulis pendapat yang benar, mengetahui jalur perlindungan, dan tetap memilih sistem palsu setelah ancaman pertama. Pada saat sama, jaringan yang mengawasi anaknya membuat hukumannya tidak disamakan dengan orang yang memberi perintah.
Audit menemukan dua akta lain bermasalah, tetapi sembilan puluh tujuh akta sah. Pengadilan melarang pembatalan massal. Klien mendapat verifikasi gratis dan surat sementara agar pekerjaan serta sekolah tidak terhenti.
Hadi meminta keluarganya tidak hadir saat amar. Anak hanya menerima penjelasan dari pendamping bahwa ancaman terhadapnya bukan penyebab tunggal hukuman ayahnya.
Ia dijatuhi hukuman penjara, denda, dan kewajiban membiayai audit akta melalui aset hasil jasanya. Anak Hadi tidak menanggung denda atau kehilangan sekolah.
Danu dihukum atas penjualan data, akses ruang rahasia, serta penghalangan inventaris. Pengadilan tidak menyatakan ia mengetahui seluruh Proyek Janda. Hasil sewa tersembunyi dikembalikan kepada studio dan pegawai yang terdampak.
Aditya serta Keisha menerima hukuman berbeda. Aditya membuat alat, membobol, dan mencuri paket. Keisha memasang pembaca, mengambil token, serta memakai wajah Gendis. Kerja sama mereka membantu mematikan sistem, tetapi tidak menjadi penghapusan.
Aditya dilarang membuat atau menjual alat biometrik selama masa pengawasan. Desain detektor dipindahkan ke lembaga publik dengan pemeriksaan bias. Ia tidak memperoleh royalti dari wajah yang sebelumnya dicuri.
Keisha diwajibkan memberi daftar vendor, rekening, dan orang yang ia rekrut. Mereka tidak otomatis dituduh; daftar menjadi arah audit. Adiknya tetap mendapat perlindungan dan tidak dijadikan penjamin kepatuhan.
Keluarga Gina membacakan pernyataan bahwa wajah orang mati bukan bahan tanpa pemilik. Hakim memasukkan pemusnahan cetakan sebagai bagian amar setelah banding.
Gunawan menghadapi hukuman atas penggelapan barang duka dan pemalsuan rantai penyerahan. Teduh Akhir tidak ditutup; izin berpindah ke pengelola baru dengan audit keluarga.
Santi mendapat hukuman lebih ringan dan larangan memegang kendali darurat untuk masa tertentu. Tekanan Damar terbukti, begitu pula keputusannya menandatangani laporan palsu. Harun dikenai pidana kelalaian serta sanksi profesi atas token dan aturan karantina tanpa jalur cadangan.
Galih dihukum atas penutupan laporan, persetujuan kontrak palsu, dan penghilangan risiko kepada pemegang saham. Ia dibebaskan dari akses yang terbukti memakai wajahnya saat berada di kota lain. Pengadilan melarangnya menjadi pengurus perusahaan selama beberapa tahun.
Ratih dinyatakan bersalah menggunakan identitas Gita, menahan koreksi Aira, dan membantu pemindahan Bima tanpa pencatatan. Perawatan serta perlindungan yang pernah ia beri dihitung, tetapi tidak mengubah orang menjadi miliknya.
Marni dihukum atas identitas Sri, pendanaan operasi, pencucian aset, serta pengelolaan sistem yang memindahkan hak. Jaksa tidak membuktikan ia memerintahkan ledakan secara langsung. Hakim menolak dalih restitusi karena korban tidak pernah mengendalikan dana.
Amar menyebut tujuh persen biaya obat sebagai manfaat nyata, lalu memisahkannya dari sembilan puluh tiga persen aset kuasa. Pasien tidak perlu mengembalikan perawatan. Marni tidak boleh menghitung obat sebagai pembelian diam.
Identitas Sri dipulihkan pada catatan kematian dan dikeluarkan dari dana. Keluarganya menerima dokumen tanpa mewarisi tindak pidana. Nama Marni tetap sah untuk menjalani hukuman, dengan catatan asal akta diperiksa.
Marni mengajukan banding atas lamanya hukuman dan penyitaan aset campuran. Pembekuan tetap berlaku supaya transfer tidak terjadi selama proses.
Damar menerima hukuman terberat untuk penjualan koordinat, pemerasan, perintah sabotase, serta penghalangan penyelamatan. Pesan tunda diperhitungkan sebagai upaya terlambat setelah risiko dibangun, bukan penghapusan.
Bayu dihukum atas pemicu kapal, ancaman pembakaran arsip, penyanderaan Arif, dan wajah palsu. Tujuan menghancurkan peti tidak membuat kebakaran di dekat manusia tidak dapat diperkirakan.
Pengacaranya meminta masa kecil AS-001 dipertimbangkan. Hakim mengakui eksploitasi, tidak adanya keluarga, dan pelatihan Marlina. Namun Bayu sudah dewasa ketika memasang pemicu, menerima pesan tunda, lalu memilih biarkan.
Arif tidak hadir. Pernyataannya dibaca pendamping dan berfokus pada rasa takut serta kehilangan kerja, bukan tuntutan hukuman tertentu. Bayu mendengarkan tanpa diwajibkan menatap layar.
Amar memerintahkan benda rumah transit dikembalikan ke kustodian korban, tidak dirampas sebagai aset Bayu atau negara.
Saras dihukum atas penahanan Bima dan saksi, penyadapan, darah tanpa izin, video palsu, serta penggunaan token. Penyerahan diri, penyelamatan saksi, dan pembukaan kanal barat mengurangi hukuman. Nama Saras tetap tercatat pada amar, bukan AS-000.
Bima mengaku bersalah memakai identitas Maira, membuat akta, menyembunyikan daftar, dan menggunakan identitas Bram. Ia dibebaskan dari tuduhan ledakan serta penculikan yang tidak terbukti. Upaya menyelamatkan pasien dipertimbangkan tanpa menghapus metode rahasia.
Sebelum amar Bima, Maira memberi pernyataan dampak. Ia tidak meminta hukuman maksimum.
'Saya meminta pengadilan mencatat bahwa niat melindungi Aira tidak memberi Bima hak memakai hidup saya. Hukuman adalah kewenangan pengadilan. Nama saya bukan alat tawar.'
Aira memberi pernyataan terpisah. Ia menyebut cinta, perlindungan, kebohongan, dan pilihannya untuk tidak menunggu sebagai istri.
Bima menerima hukuman penjara serta kewajiban restitusi. Masa pemulihan medis dihitung hanya sesuai hukum, bukan sebagai penjara rahasia yang otomatis mengganti hukuman negara.
Hakim mempertimbangkan penyerahan diri, pengakuan, bukti pembeli, serta fakta Bima pernah ditahan tanpa hukum. Ia juga mencatat Bima terus membuat keputusan atas pekerja, Aira, dan Maira tanpa persetujuan bahkan saat mengaku melindungi.
Hak untuk mengelola saham dihentikan selama hukuman. Surat kepada Aira tetap diizinkan melalui aturan fasilitas, bukan hak pasangan. Bima tidak boleh menghubungi Maira kecuali melalui pengacara dan hanya bila berkaitan restitusi.
Saat ditanya memahami amar, Bima menjawab ya tanpa meminta Aira menunggunya dari bangku publik.
Semua terdakwa berhak banding. Beberapa langsung menyatakan akan memakai hak, termasuk Damar dan Marni. Bima meminta waktu bersama pengacara. Saras serta Bayu menerima bagian identitas tetapi menantang sebagian lama hukuman.
Pengadilan menetapkan bahwa banding pidana tidak menunda koreksi nama, layanan medis, dan ganti rugi darurat. Korban tidak harus kembali menjadi janda, pasien palsu, atau orang tanpa akta sampai semua tingkat selesai.
Media menerima ringkasan per berkas. Nama anak dan korban tertutup. Hakim memperingatkan judul yang menyebut satu dalang dihukum atas seluruh jaringan akan mengaburkan amar lain.
Di luar pengadilan, angka tahun menjadi berita utama. Maira membaca amar lengkap. Putusan tidak menyembuhkan, tetapi untuk pertama kalinya setiap tangan memiliki paragraf sendiri.