Gunawan Kresna ditahan untuk pemeriksaan setelah buku pembayaran ditemukan.
Ia meminta pengacara dan menolak menjawab sampai surat penggeledahan dibacakan lengkap. Malik tidak memakai dua puluh tujuh kantong barang sebagai bukti pencurian yang sama. Setiap kantong difoto, dicocokkan dengan keluarga, dan dipisahkan menurut pemiliknya.
Sebagian ternyata barang yang tidak diambil keluarga dan seharusnya diserahkan ke penyimpanan kota. Sebagian lain telah dilaporkan hilang. Praktik buruk Teduh Akhir lebih luas daripada perkara Lestari, tetapi tidak semua pekerjanya ikut mencuri.
Nadia membuka meja pengaduan melalui lembaga pendamping, bukan kantor Teduh Akhir. Keluarga dapat mengenali barang dari foto tanpa harus datang ke tempat pemakaman. Nomor laporan lama dicocokkan agar pemilik tidak diminta membuktikan kehilangan dari awal.
Satu kantong berisi jam milik pasien Purnama. Di belakang jam terukir nomor AS-311. Pemilik legalnya telah meninggal, tetapi seorang anak angkat menunjukkan foto jam pada pergelangan ibunya. Barang dikembalikan setelah verifikasi, sementara nomor arsip tetap dirahasiakan dari publik.
Temuan itu menunjukkan jalur Teduh Akhir telah lama dipakai untuk memindahkan benda yang menghubungkan pasien dengan identitas. Liontin Lestari bukan kejadian pertama, hanya benda pertama yang membuka mekanisme lebih besar.
Setelah pengacaranya tiba, Gunawan mengakui pembayaran GK-02 adalah kode Gerbang Kembar, layanan khusus dari Nawasena. Ia menerima instruksi memisahkan liontin dari barang Lestari dan menyerahkannya kepada kurir di gudang.
'Siapa kurirnya?' tanya Malik.
'Perempuan bernama Gita.'
'Nama lengkap?'
'Gita Kusuma. Dia membawa surat kuasa keluarga.'
Itu nama lama yang tercatat pada Ratih. Namun Gunawan menggambarkan perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun, terlalu muda untuk Ratih. Foto yang ditunjukkannya di ponsel memperlihatkan wajah Ratih dengan tubuh lebih kecil. Alat wajah kembali dipakai untuk membuat saksi melihat nama yang telah disiapkan.
Gunawan tahu surat kuasa mungkin palsu karena cap rumah sakit buram. Ia tetap menyerahkan liontin setelah menerima uang tunai tiga kali biaya pemakaman.
'Saya tidak tahu itu token,' katanya.
'Anda tahu itu milik keluarga yang sedang berduka,' jawab Malik.
Gunawan menunduk. Ketidaktahuannya tentang fungsi benda tidak menghapus keputusan menjualnya.
Riwayat telepon memperlihatkan ia menerima instruksi dari nomor sekali pakai. Lokasinya dekat studio Danu pada malam sebelum Lestari meninggal. Nadia memanggil Danu dari tahanan pemeriksaan dan menunjukkan catatan tanpa memberi tahu pengakuan Gunawan.
Danu awalnya menyangkal, lalu meminta bicara berdua dengan pengacaranya. Ketika kembali, ia mengaku memotret kalung Lestari saat mengunjungi rumah sakit. Ia tidak mengambil liontin, tetapi mengirim foto kepada kontak Nawasena karena sedang ditekan utang.
Kunjungan Danu terjadi setelah dokter mengatakan kondisi Lestari memburuk. Ia membawa bunga atas nama Maira, padahal Maira tidak pernah memintanya. Siska ingat Danu meminta waktu sendirian untuk berdoa. Kamera menunjukkan ia berada di kamar empat menit dan membungkuk dekat lemari barang.
Danu menyangkal menyentuh kalung. Sidiknya pada liontin dapat berasal dari kunjungan itu, tetapi posisi jejak di celah kontak menunjukkan benda mungkin dibuka. Ahli belum dapat menentukan waktu. Malik mencatat dua kemungkinan tanpa memilih pengakuan atau sidik sebagai jawaban tunggal.
'Kau datang saat Ibu tidak dapat menolak lalu memotret barangnya,' kata Nadia.
Danu menatap meja. 'Saya bilang pada diri sendiri itu cuma informasi.'
'Informasi tentang orang sakit tetap milik orang itu.'
'Mereka bertanya apakah Ibu Maira masih memakai kunci lama,' katanya.
'Kau tahu itu bukan perhiasan biasa?' tanya Nadia.
'Saya pernah melihat Lestari memasukkannya ke mesin kecil di studio. Saya pikir kunci arsip.'
'Dan kau menjual informasi itu.'
'Ya.'
Maira menerima berita melalui pengacaranya. Ia tidak menemui Danu. Pengkhianatan mantan tunangannya tidak lagi membutuhkan percakapan pribadi agar menjadi nyata.
Polisi memeriksa studio Danu. Di komputer lama ditemukan foto liontin, daftar jadwal rumah sakit, serta draf surat kuasa atas nama Gita Kusuma. Metadata menunjukkan draf dikirim dari server Nawasena, lalu diedit Danu untuk menambahkan nomor kamar Lestari.
Danu mengaku mendapat imbalan berupa penghapusan sebagian utang, bukan uang. Ia tidak tahu siapa yang mengambil berkas akhir. Akunnya dipakai mengirim setelah ia ditahan pada perkara penjualan identitas Maira, sehingga pengendali lain masih memiliki akses.
Gudang Nawasena telah kosong ketika polisi datang. Kamera tetangga menyimpan gambar kurir perempuan keluar membawa kotak kecil. Kendaraan yang dipakai terdaftar atas nama Teduh Akhir, tetapi Gunawan melaporkan pelatnya hilang enam bulan sebelumnya tanpa mengganti nomor armada.
Jejak pembayaran menuju tempat penyimpanan mandiri di pinggir kota. Unit disewa atas nama Gita Kusuma dengan verifikasi wajah Ratih. Ratih berada dalam pemeriksaan pada tanggal sewa, dan rekam wajah dibuat dari video lama.
Manajer penyimpanan mengatakan penyewa datang tiga kali. Pada kunjungan pertama, sosok itu berkursi roda dan berwajah Ratih. Pada kunjungan kedua, ia berjalan tanpa bantuan. Perbedaan tersebut tidak pernah dilaporkan karena tagihan selalu dibayar. Kamera memperlihatkan kursi roda sengaja diposisikan membelakangi pintu saat verifikasi.
Pembayaran berasal dari kartu prabayar yang diisi rekening konsultasi Damar. Satu pengisian terjadi setelah Damar ditahan, berarti ada orang lain yang memiliki kartu atau jadwal otomatis. Bank membekukan sisa saldo dan mempertahankan riwayat untuk audit.
Unit memiliki sensor pembukaan sendiri. Terakhir dibuka dua jam setelah Lestari meninggal, lalu sehari sebelum kartu Maira dicetak. Barang di dalamnya disiapkan untuk digunakan kembali, bukan sekadar disembunyikan.
Malik memperoleh izin membuka unit di hadapan pengacara Ratih. Di dalamnya ada pakaian kurir, pelapis wajah, map pemakaman, dan tiga kotak kosong. Kotak keempat terkunci dengan dua lubang kunci berbeda.
Ahli membuka tanpa merusak engsel. Liontin Lestari berada di dalam, terbungkus saputangan studio. Di sampingnya terdapat setengah token lain yang bentuknya serupa tetapi berukir huruf A.
Liontin Lestari berukir huruf M.
Kedua benda tidak langsung disatukan. Sidik di permukaan diperiksa lebih dahulu. Pada bagian M terdapat sidik Lestari, Danu, Gunawan, dan satu jejak tidak lengkap. Pada bagian A terdapat sidik Ratih serta Aditya.
Saputangan pembungkus dijahit Lestari. Di satu sudut terdapat benang merah yang biasa ia pakai untuk menandai dokumen belum selesai. Maira mengenalinya, tetapi pemeriksa studio lain mengonfirmasi dari dua puluh sampel kerja.
Di dalam lipatan saputangan ada tulisan sangat kecil: dua bukan satu, tiga bukan pemilik. Kalimat itu memperingatkan bahwa dua token tidak cukup dan keping ketiga bukan tanda kepemilikan. Orang yang membangun Proyek Janda justru mengubah tiga pengawas menjadi satu jalur kuasa.
Maira meminta saputangan tidak dibersihkan meski noda minyak menutup sebagian huruf. Bau rumah sakit masih tertahan pada kain. Ia merasa ingin membawanya pulang, lalu menandatangani bahwa benda tetap menjadi bukti. Rasa kehilangan tidak memberinya hak merusak rantai yang dapat melindungi orang lain.
Ratih mengaku bagian A pernah ia simpan untuk Aira sejak bayi. Ia mengatakan token itu hilang dari rumahnya tiga tahun lalu, tepat saat Bima mulai mencari register. Aditya membenarkan pernah melihat dan memotretnya, tetapi menyangkal mengambil.
'Mengapa tidak pernah kau sebut?' tanya Nadia.
'Karena token menghubungkan Aira dengan klinik dan denganku.'
'Itulah kegunaannya sebagai bukti.'
'Dan itulah yang membuatku takut.'
Ketakutan Ratih kembali menjaga rahasia lebih lama daripada menjaga anak.
Pemindaian menunjukkan kedua setengah token memiliki kontak listrik. Bila disatukan, keduanya membentuk satu kunci, tetapi celahnya masih menyisakan ruang untuk keping ketiga yang lebih tipis.
Pada dasar kotak terdapat foto keping ketiga. Bentuknya seperti garis penghubung dan hanya memuat satu huruf.
G.