Rendra memberikan sampel darah pagi itu. Galih menolak sampai pengadilan mengeluarkan perintah, lalu datang bersama dua pengacara dan seorang dokter pribadi. Hasilnya mengecualikan Rendra serta mencocokkan darah di Purnama Linen dengan Galih.
Galih tidak dapat lagi menyangkal pernah berada di sana.
'Saya menerima pesan yang meminta lima miliar rupiah untuk membeli disk Unit Utara,' katanya dalam pemeriksaan. 'Saya datang karena rekaman itu memuat informasi keuangan perusahaan.'
'Informasi keuangan atau bukti pasien disembunyikan?' tanya Nadia.
'Saya tidak tahu Bima pernah dirawat di bawah hotel. Saya tahu Unit Utara memakai anggaran di luar pembukuan normal.'
Galih mengaku tiba satu jam sebelum polisi. Ia menemukan bangunan kosong, menyentuh pisau saat mencari disk, lalu melukai telapak. Seseorang mengunci pintu luar dan mengirim foto dirinya kepada nomor tak dikenal. Ia keluar melalui jendela tanpa membawa apa pun.
'Mengapa tidak melapor?'
'Karena saya sudah terlihat bersalah sebelum sempat menjelaskan.'
Maira mendengar alasan yang sama dari terlalu banyak orang. Ketakutan dituduh sering berubah menjadi keputusan menyembunyikan bukti, lalu persembunyian itu menciptakan alasan baru untuk curiga.
Catatan lokasi ponsel menempatkan Galih di gedung tersebut. Kamera pasar menunjukkan mobilnya, tetapi tidak ada bukti ia mendorong troli atau mengambil disk. Nadia membuka perkara penghalangan karena ia memasuki lokasi bukti dan diam sesudahnya.
Sebagai bagian pemeriksaan, Galih menyerahkan kunci brankas keuangan lama. Di sana ditemukan daftar pembayaran Unit Utara yang dibagi menjadi nominal kecil agar tidak memerlukan persetujuan dewan. Galih menandatangani rekap bulanan, sementara staf aset Nita Prameswari memproses transaksi harian.
'Anda tidak pernah menanyakan mengapa ruang yang ditutup membeli obat dan linen?' tanya Maira.
'Laporan menyebut pemulihan karyawan sensitif. Nama pasien disamarkan untuk privasi.'
'Privasi bukan alasan menghapus siapa yang bertanggung jawab.'
Penggeledahan lanjutan menemukan tiga buku tipis di balik dinding Unit Utara. Seseorang menyelipkannya melalui celah panel lalu menutupnya dengan plester. Kelembapan membuat halaman saling melekat.
Maira membawa buku ke meja konservasi hotel. Ia melembapkan serat secara bertahap, memisahkan halaman dengan kertas pelindung, dan memotret setiap lapisan. Rendra serta Galih hanya melihat melalui kaca bersama penyidik.
Buku pertama berisi catatan medis nyata: suhu, luka, obat, serta reaksi pasien. Dua puluh tiga kode muncul, termasuk BP untuk Bram Pradana. Tidak semua pasien ditahan. Beberapa datang sukarela untuk bersembunyi dari orang yang memperdagangkan mereka.
Nadia membentuk tim pemberitahuan terpisah. Orang yang masih hidup tidak langsung dipanggil dengan nama kematian dalam buku. Pengacara perlindungan memeriksa apakah membuka identitas lama justru membahayakan mereka.
Maira mendukung pendekatan itu. Membongkar jaringan tidak boleh berarti mengumumkan tempat bersembunyi semua korban.
Buku kedua mencatat pembayaran. Anggaran hotel masuk melalui pos kesehatan karyawan, lalu diteruskan ke Purnama Linen, Nawasena Data, apotek, serta pengemudi. Tanda tangan Galih ada pada jumlah bulanan. Token Rendra muncul pada dua pembukaan jalur medis. Sidik Nita berada pada lembar transfer.
Buku ketiga paling sulit dibaca. Setiap halaman memasangkan nama lahir, nama kematian, dan identitas sementara. Beberapa nama kematian berasal dari bayi klinik Purnama yang tidak pernah mendapat akta lengkap. Sistem awal tampak dibuat Ratih untuk melindungi perempuan serta anak yang diburu keluarga.
Pada tahun-tahun berikutnya, kolom baru muncul: nilai rekening, akses properti, dan kegunaan identitas. Perlindungan berubah menjadi perdagangan.
Analisis tinta menunjukkan perubahan dimulai dua belas tahun lalu, jauh sebelum Bima menyelidiki. Ratih masih tercatat mati saat itu. Kolom perdagangan ditulis sedikitnya tiga tangan, sehingga tidak ada dasar menganggap satu pengelola mengubah jaringan sendirian.
Satu tangan menulis angka dan rekening. Tangan lain menilai kemiripan wajah. Tangan ketiga membuat daftar akses perusahaan. Maira menyebut perbedaan itu dalam laporan agar penyidik mencari fungsi, bukan hanya satu nama yang nyaman.
'Apakah Ratih yang mengubahnya?' tanya Nadia.
'Tinta kolom baru berbeda dan usianya lebih muda,' jawab Maira. 'Kita belum tahu penulisnya.'
Ia menemukan tanda koreksi Lestari pada tujuh halaman. Ibunya mencoret kata mati dan menulis tidak terverifikasi. Pada halaman Aira, Lestari menulis bayi kedua hidup, nama belum dipulihkan.
Tidak ada satu halaman pun yang menyebut Aira sebagai Maira sampai dua tahun lalu. Entri itu dibuat dengan tinta yang sama seperti kolom perdagangan, bukan catatan perlindungan Ratih yang lama.
Aira mungkin memakai nama Maira karena Bima menawarkan jalan cepat, tetapi sistem yang memungkinkan telah dipersiapkan orang lain.
Halaman Bima mencatat masuk dari Purnama, perawatan enam belas minggu, lalu pemindahan ke kode S-12. Penanggung akses ditulis RA, tetapi huruf tersebut dicoret Lestari. Di sampingnya ada catatan: nomor dipakai tanpa orangnya.
Catatan tersebut mendukung cerita ambulans, bukan membebaskan kebohongan Rendra setelahnya.
Kolom pengantar memuat Yosa. Kolom penerima memuat inisial AS. Aira Savitri menjadi kemungkinan pertama, tetapi bisa pula nama lain dalam daftar.
Maira menelusuri indeks dan menemukan satu identitas sementara bernama Ayu Sasmita, pengelola fasilitas pesisir kode S-12. Foto tidak ada. Alamatnya hanya kotak pos.
Nama Ayu muncul pada akta awal Nawasena Data sebagai konsultan, lalu hilang saat Ratih dijadikan direktur di atas kertas. Tidak ada nomor identitas yang dapat diverifikasi.
Nita Prameswari dipanggil. Ia mengaku menerima instruksi pembayaran dari alamat surel Ayu dan mengira perempuan itu dokter Unit Utara. Ia tidak pernah bertemu langsung. Setiap persetujuan datang melalui portal yang tampak milik kantor CEO.
Portal tersebut dibuat vendor teknologi pilihan Galih, tetapi kata sandinya dikelola keamanan. Sekali lagi, wewenang terbagi sehingga setiap pihak dapat mengaku hanya menjalankan bagian kecil.
Galih mengakui memilih vendor karena biaya rendah serta kemampuan menyamarkan nama pasien. Ia menyangkal mengetahui portal dapat meniru token CEO. Rendra mengakui kantornya menyetujui sistem tanpa audit independen.
Nita menunjukkan tiga surel ketika ia meminta daftar pasien dan ditolak atas alasan perlindungan. Ia tetap memproses pembayaran setelah penolakan. Masing-masing tindakan dicatat terpisah: desain berbahaya, persetujuan tanpa audit, dan pembayaran tanpa bukti.
Pengadilan membekukan portal, tetapi pembayaran obat untuk mantan pasien dipindahkan ke kustodian agar orang sakit tidak kehilangan perawatan. Menutup jalur kejahatan tidak boleh mendadak menghukum orang yang bergantung pada layanan sah.
Pada sampul belakang buku ketiga, Maira menemukan kantong kertas larut air. Di dalamnya ada peta pesisir dengan lingkaran pada sebuah sanatorium lama bernama Sagara Dua Belas.
Kode S-12 bukan kamar hotel. Itu fasilitas pemulihan di pantai utara yang ditutup setelah banjir delapan belas bulan lalu.
Tanggal penutupannya sama dengan hari Bima menulis pesan terakhir pada panel kamar 408.
Peta juga menandai jalur kapal kecil dari Sagara menuju dermaga yang tidak tercatat pada peta wisata. Nadia meminta penjaga pantai memeriksa catatan tanpa mengumumkan nama Bima. Jika seseorang masih memakai rute itu, pencarian terbuka dapat membuatnya berpindah lagi.