'Kembalikan warisanku, Kak. Dan jangan percaya Rendra. Dialah yang menenggelamkan suamiku.'
Tidak seorang pun di ruang kerja bergerak. Desis statis memenuhi pengeras suara, diselingi napas perempuan yang memiliki irama sama dengan suara Aira dalam rekaman kamar 408.
Maira mencengkeram ponsel. 'Kalau kau Aira, katakan sesuatu yang hanya saudara Lestari ketahui.'
'Aku tidak pernah dibesarkan olehnya.'
'Itu bukan jawaban.'
'Bekas luka di tanganmu bukan karena loyang. Ibu menggenggammu saat langit-langit klinik jatuh. Gelang logam pada ranjang menggores tanganmu ketika dia menarikmu keluar.'
Maira membuka telapak kanannya. Laras menatap bekas bulan sabit itu, lalu memejamkan mata seolah kalimat tersebut membuka kembali api lama.
'Dari mana kau tahu?'
'Bima menemukannya dalam kesaksian perawat. Berkas itu tidak ada di kamar karena dia memberikannya kepadaku.'
Rendra mengangkat tablet dan menulis agar Maira memperpanjang percakapan. Galih sudah memanggil kepala keamanan. Selena merekam suara dari perangkat lain, sementara Laras tetap duduk dengan tongkat di antara kedua lutut.
'Di mana kau sekarang?' tanya Maira.
'Tempat yang tidak dapat dibeli keluarga Adiprana.'
'Kau memakai namaku untuk menikah.'
'Aku memakai satu-satunya nama yang tersisa untuk kami.'
'Namaku bukan benda yang tersisa di meja.'
Hening singkat muncul dari seberang. Ketika Aira kembali bicara, suaranya lebih rendah.
'Aku tahu kau marah. Aku juga marah karena hidupku dihapus sebelum aku dapat mengeja nama sendiri. Tetapi delapan belas persen saham itu diberikan kepada istri Bima, dan akulah perempuan yang berdiri bersamanya.'
'Kalau begitu muncul dan perbaiki akta.'
'Supaya Rendra menyelesaikan pekerjaannya?'
Rendra mendekat pada ponsel. 'Jika kau menuduhku, sebutkan buktinya.'
Napas di seberang berhenti. 'Kau menutup transponder kapal selama empat belas menit. Kau mengubah tujuan Bima dari Pulau Seribu ke Dermaga Nila. Lalu kau mengirim kapal penyelamat ke arah sebaliknya.'
Maira menoleh kepada Rendra. Wajah lelaki itu menegang, tetapi ia tidak menyangkal segera.
'Bima meminta jalurnya dirahasiakan,' katanya. 'Aku tidak menenggelamkannya.'
'Kau masih berbohong, Ren.'
Panggilan terputus.
Maira menekan tombol panggil ulang. Operator menyatakan nomor tidak dapat dihubungi. Nama Bima tetap terpampang pada riwayat telepon seperti ejekan dari orang mati.
'Apa maksudnya empat belas menit?' tanyanya.
Rendra mengambil napas. 'Aku akan menjelaskan setelah polisi mengamankan bukti.'
'Kau baru saja berjanji tidak menyimpan bukti dariku.'
'Dan aku berniat menepatinya. Tetapi telepon itu bisa dipantau orang yang membakar kamar 408.'
'Jangan memakai bahaya untuk menentukan kapan aku boleh mengetahui sesuatu.'
Rendra menatapnya, kemudian membuka aplikasi penyimpanan perusahaan pada tablet. Ia mencari nomor perjalanan kapal Bima, tetapi folder yang muncul hanya memuat laporan kecelakaan final. Lampiran data transponder ditandai dibatasi atas perintah direksi.
Nama pemberi perintahnya adalah Rendra Adiprana.
Galih membacanya dari belakang bahu mereka. 'Kau menyegel data itu dua tahun lalu.'
'Atas permintaan penyidik asuransi.'
'Permintaan mereka berakhir delapan belas bulan lalu,' kata Selena setelah memeriksa tanggal. 'Pembatasanmu tidak.'
Rendra memasukkan kode untuk membuka akses. Sistem menolak. Seseorang mengganti izin pemilik folder tiga hari sebelumnya memakai akun Bima yang seharusnya tidak aktif.
Kepala keamanan masuk bersama dua polisi yang semula menuju rumah untuk mengambil register. Maira menyerahkan ponselnya hanya setelah petugas membuat salinan forensik di hadapannya. Ia meminta bukti penerimaan yang mencantumkan nomor perangkat, jam, dan berkas suara.
Register hangus, dua gelang kelahiran, serta kartu memori kamar 408 dimasukkan ke wadah berbeda. Rendra menolak ketika polisi hendak membawa semuanya tanpa pelindung panas dan kelembapan.
'Kertas itu sudah selamat dari dua kebakaran,' katanya. 'Jangan rusak karena kantong bukti yang salah.'
Maira memperhatikan petugas mengganti wadah. Ia tidak tahu apakah tindakan Rendra lahir dari kepedulian terhadap bukti atau pengetahuan tentang apa yang dapat mengikatnya.
Penyidik utama, Komisaris Nadia Pranoto, meminta semua orang tetap di rumah sampai pemeriksaan awal selesai. Nadia mendengarkan rekaman panggilan dua kali tanpa menyimpulkan suara itu asli.
'Nomor dapat dipalsukan. Suara dapat ditiru. Pengetahuan tentang luka bisa berasal dari dokumen,' katanya. 'Kita memeriksa ketiganya secara terpisah.'
Laras mengangkat wajah. 'Kesaksian perawat itu seharusnya sudah dimusnahkan.'
Semua mata beralih kepadanya.
'Siapa perawatnya?' tanya Nadia.
Laras memerlukan waktu sebelum menjawab. 'Ratih Kusuma. Dia bertugas malam saat kebakaran. Setelah penyelidikan internal, pengacara keluarga menyuruhnya menandatangani pernyataan tutup mulut.'
'Masih hidup?'
'Terakhir kudengar, dia pindah ke Semarang dua puluh tujuh tahun lalu.'
Nadia mencatat nama itu. 'Siapa yang memerintahkan pemusnahan kesaksiannya?'
Laras menatap Galih, tetapi bukan kepadanya. Pandangannya berhenti pada potret ayah Galih dan Rendra yang tergantung di dinding.
'Suamiku.'
Galih mengembuskan napas tajam. 'Kakek sudah meninggal dua belas tahun lalu. Sangat mudah menaruh semua kesalahan pada orang yang tidak bisa membela diri.'
'Aku ikut diam,' kata Laras. 'Tuliskan itu juga.'
Nadia memisahkan mereka untuk pemeriksaan. Maira ditempatkan di perpustakaan bersama seorang petugas perempuan. Ia menjelaskan kembali setiap kata dalam telepon, termasuk cara Aira memanggil Rendra dengan nama pendek. Panggilan Ren menunjukkan kedekatan, atau seseorang yang mengetahui kebiasaan keluarga.
Setelah hampir satu jam, Nadia mengizinkan Maira memeriksa ponsel cadangan. Ada pesan baru dari Danu.
Sebelum Maira membuka pesan, Selena meminta salinan suara Aira tidak diberikan kepada media. Ia masih berhak marah kepada Bima, tetapi tidak ingin rekaman mentah diubah menjadi hiburan. Nadia mencatat permintaan itu tanpa menjanjikan Selena dapat mengendalikan barang bukti.
'Kalau perempuan itu benar istrinya, aku ingin mendengar langsung mengapa Bima memilih kebohongan,' kata Selena. 'Kalau dia pemalsu, aku juga ingin tahu siapa yang membayarnya.'
Maira tidak menawarkan penghiburan. Mereka berdiri pada sisi berbeda dari pernikahan yang sama-sama tidak pernah diberi kesempatan untuk dipahami.
Analisis awal menemukan panggilan melewati tiga pemancar virtual, tetapi salah satu jedanya berasal dari jaringan rumah sakit di Jawa Tengah. Lokasinya terlalu luas untuk pelacakan, namun cukup untuk menunjukkan penelepon tidak berada di luar negeri seperti yang sempat diklaim Galih.
Nadia juga meminta contoh suara Maira. Ia membaca kalimat netral, lalu mengucapkan nama Rendra. Perangkat menunjukkan suara mereka mirip pada nada dasar, tetapi Aira memiliki tekanan napas berbeda. Hasil itu belum membuktikan hubungan darah ataupun identitas penelepon.
Besok pukul sembilan. Gudang restorasi lama dekat Stasiun Kota. Datang sendiri atau rekaman Surabaya hilang.
Di bawahnya terlampir foto sebuah cakram penyimpanan dengan label proyek museum. Cakram itu memuat bukti bahwa Maira berada di Surabaya saat Aira menikah memakai namanya.
Maira menunjukkan pesan kepada Nadia, bukan Rendra.
'Saya ingin datang,' katanya. 'Tetapi bukan sendirian seperti yang dia minta.'
Nadia mengangguk. 'Kami atur pengawasan tanpa terlihat. Jangan beri tahu siapa pun di rumah ini sebelum tim siap.'
Ketika Maira keluar dari perpustakaan, Rendra menunggu di koridor. Bahunya yang terluka dari kebakaran telah dibalut, dan jelaga masih tertinggal di garis rambutnya.
'Apa Danu menghubungimu?' tanyanya.
Maira teringat pesan Nadia agar tidak memberi tahu siapa pun. Ia juga teringat folder transponder yang disegel atas nama Rendra.
'Kau belum menjelaskan empat belas menit itu,' jawabnya.
Untuk pertama kali sejak mereka bekerja sama, Maira sengaja menyimpan sebuah rencana darinya.