Malam terakhir sebelum pertandingan, sasana sunyi.
Bima duduk sendirian di ring, sarung tinju lamanya tergeletak di pangkuannya. Pintu sasana terbuka pelan, dan Sinta masuk, membawa dua cangkir kopi.
"Pak Darto bilang kamu di sini," katanya, mengulurkan satu cangkir. "Aku dengar soal pertandingan besok."
Bima menerima kopi itu. "Kamu datang buat ngelarang aku?"
"Nggak." Sinta duduk di tepi ring di sampingnya. "Aku capek nyuruh-nyuruh kamu. Kamu nggak pernah dengerin." Ia menyesap kopinya. "Aku datang buat ngomong sesuatu yang harusnya aku bilang tiga tahun lalu."
Bima menunggu.
"Aku nggak pernah benci kamu, Bima." Suara Sinta pelan. "Aku marah. Aku sedih. Aku kehilangan kakakku. Tapi aku nggak pernah benci kamu. Yang aku benci adalah caramu nyiksa diri sendiri sampai jadi bayangan dari orang yang dulu disayang kakakku."
Bima menunduk. "Aku pantes disiksa."
"Itu dia masalahnya." Sinta menoleh, menatapnya. "Kamu pikir hidup dalam penderitaan itu cara bayar dosa. Tapi itu bukan penebusan, Bima. Itu cuma cara lain buat lari. Kamu sembunyi di balik rasa bersalah biar nggak usah hidup lagi."
Kata-kata itu menghantam Bima lebih keras dari pukulan mana pun.
"Reza," lanjut Sinta, matanya berkaca, "dia nggak mau kamu jadi tukang pel yang takut sama bayangannya sendiri. Dia mau kamu jadi juara. Dia bangga punya sahabat sehebat kamu. Tiap dia cerita soal kamu, matanya bersinar." Ia tersenyum getir. "Kalau kamu beneran mau hormatin dia, jangan hidup kayak mayat. Hidup kayak orang yang dia banggakan."
Bima menggenggam cangkir kopinya erat-erat. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, air matanya jatuh.
"Aku takut, Sinta," bisiknya. "Aku takut naik ring lagi. Bukan takut sama Gento. Aku takut... gimana kalau aku ngulangi. Gimana kalau ada lagi yang jatuh karena tanganku."
Sinta meletakkan tangannya di bahu Bima. "Kamu nggak naik ring buat ngebunuh. Kamu naik ring buat nyelametin anak itu. Itu bedanya, Bima. Niatmu beda. Dan itu yang penting."
Mereka duduk dalam diam, dua orang yang disatukan oleh kehilangan yang sama, akhirnya menemukan sedikit kedamaian di antara reruntuhan.
Di sudut, Arga yang mengintip dari ruang belakang diam-diam menyeka matanya. Ia tak sepenuhnya mengerti semua yang terjadi, tapi ia mengerti satu hal: lelaki yang melatihnya ini menanggung beban yang jauh lebih berat daripada utang tujuh puluh juta.
Sebelum pergi, Sinta berhenti di pintu. "Bima. Besok, menang. Bukan buat aku. Bukan buat Reza. Buat diri kamu sendiri." Ia tersenyum tipis. "Sudah waktunya Palu Garuda berhenti menghukum diri sendiri."
Pintu menutup. Bima sendirian lagi, tapi terasa berbeda. Beban di dadanya tak hilang, tapi sedikit lebih ringan.
Ia mengangkat sarung tinju lamanya, menatapnya lama. Lalu ia berdiri, melangkah ke samsak, dan mulai memukul. Sekali. Dua kali. Kombinasi demi kombinasi, semakin cepat, semakin keras, sampai keringat membanjiri tubuhnya dan napasnya memburu.
Arga keluar, memegang samsak supaya tak goyang. Tanpa kata, bocah itu menjadi penyangga, dan Bima terus memukul, melepaskan tiga tahun rasa bersalah, ketakutan, dan kemarahan ke dalam setiap pukulan.
Saat fajar mulai menyingsing, Bima berhenti. Tubuhnya gemetar, tapi matanya—mata itu telah kembali. Mata predator. Mata seorang juara.
"Arga," katanya, napasnya tersengal. "Apa pun yang terjadi besok, kamu jangan masuk ring. Janji."
"Tapi Mas—"
"Janji."
Arga menatapnya lama, lalu mengangguk berat. "Janji, Mas."
Bima mengangguk. Ia menatap ke arah jendela, ke arah matahari yang mulai terbit.
"Hari ini," gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Arga. "Hari ini Palu Garuda naik ring lagi."