Pagi itu seperti pagi-pagi lain. Pak Darto memegang pad untuk Arga, suaranya menggema di sasana—"Lagi! Sepuluh lagi! Jab itu nyawa kamu, Nak!"—sambil sesekali terbatuk, batuk yang sudah beberapa minggu ini tak hilang-hilang tapi selalu ia tepis kalau ditanya.
Lalu di tengah satu rangkaian, lelaki tua itu menurunkan pad. Tangannya naik ke dada. Wajahnya, yang tadi merah karena semangat, pelan-pelan memutih.
"Pak?" Arga berhenti.
Pak Darto membuka mulut, tapi tak ada suara. Lalu tongkatnya jatuh berderak ke lantai, dan tubuh tua itu ambruk menyusul.
"PAK DARTO!" Bima melompat dari sisi ring, menangkap tubuh itu sebelum kepalanya menghantam semen. Lelaki tua itu kejang pendek, napasnya tersengal-sengal, tangannya mencengkeram dada kiri Bima dengan kekuatan ketakutan. "Pak Darto, lihat aku! Lihat aku! Arga, telepon ambulans! SEKARANG!"
Arga sudah menelepon, tangannya gemetar hebat. Rara, yang kebetulan datang mengantar sarapan, menjatuhkan rantang dan berlari membantu menopang kepala Pak Darto. Bima menekuk lututnya, menyangga tubuh tua yang tiba-tiba terasa begitu ringan, begitu rapuh, dan ia mengulang satu kalimat berkali-kali seperti mantra: "Bertahan. Bertahan. Kamu nggak boleh pergi, Pak. Bertahan."
Tiga tahun lelaki ini menampungnya. Tiga tahun saat seluruh dunia memalingkan wajah dari Bima si pembunuh ring, hanya Pak Darto yang membuka pintu, memberi sapu, memberi tempat tidur di gudang, memberi—Bima baru menyadarinya sekarang, di lantai sasana dengan tangan berlumur keringat dingin orang yang ia sayangi—memberi ayah. Lelaki ini ayahnya selama tiga tahun, dan Bima tak pernah sekali pun mengatakannya.
Ambulans datang dua puluh menit kemudian, dua puluh menit yang terasa seperti tiga tahun lagi. Di rumah sakit, mereka menunggu di lorong dengan lampu menyilaukan dan bau obat, Arga mondar-mandir, Rara menangis pelan, Sinta tiba terburu-buru masih dengan pakaian kantor. Bima duduk diam, punggung membungkuk, kedua tangannya saling mengunci di antara lutut.
Dokter keluar akhirnya. "Serangan jantung," katanya. "Kami sudah stabilkan untuk sekarang. Tapi kondisinya tidak baik—ada penyumbatan, butuh tindakan lanjut. Pemeriksaan, kemungkinan pemasangan ring jantung, mungkin lebih. Dan itu—" Dokter ragu, lalu jujur seperti yang baik. "Biayanya tidak sedikit."
Kata itu menggantung di udara koridor.
Bima mengangkat wajah. "Berapa pun, kami usahakan."
Tapi ia tahu—mereka semua tahu—berapa isi kotak uang sasana. Bonus kemenangan melawan Gento sebagian sudah habis untuk memperbaiki sasana, untuk lampu neon yang akhirnya menyala, untuk biaya pendaftaran Arga ke jalur amatir. Sasana yang baru bangkit itu tak punya simpanan untuk operasi jantung.
Sinta menyentuh lengannya. "Kita cari jalan. Penggalangan, pinjaman lunak, aku punya kenalan—"
"Itu butuh waktu." Bima menatap pintu ruang perawatan tempat lelaki tua itu terbaring dengan selang dan alat. "Dokter bilang butuh tindakan cepat."
Arga berhenti mondar-mandir, dan suaranya pelan, takut, ketika ia berkata, "Bang. Saya tahu kamu mikir apa. Jangan."
Bima tak menjawab. Karena Arga benar—pikiran itu sudah datang, gelap dan cepat seperti hook yang tak terlihat. Ada uang cepat di dunia ini. Ia tahu persis di mana. Di gudang pelabuhan, di balik senyum Broto. Atau di tempat yang lebih besar lagi, di balik tawaran seorang bandar bernama Sahrul yang pernah mengincarnya. Satu malam di ring gelap, dan uang operasi Pak Darto akan ada.
Satu pukulan. Demi orang yang ia sayangi.
Bima menatap tangan kanannya yang gemetar, dan untuk pertama kalinya sejak lama, godaan itu terasa seperti pintu yang terbuka, bukan tertutup.