Klinik itu sebenarnya hanya rumah toko sempit dua lantai di gang yang menghadap pelabuhan, dengan papan nama yang catnya luntur dan kursi tunggu plastik yang sebagian retak. Tapi di sinilah, selama bertahun-tahun, Maya menambal apa yang ditinggalkan ring bawah tanah Broto—gigi yang rontok, tulang yang remuk, dan kadang, tubuh yang sudah tak bisa ditambal lagi.
"Saya simpan semua," kata Maya, meletakkan tumpukan map kusam di atas meja periksa. Perempuan muda itu bicara cepat dan langsung, tangannya masih berbau antiseptik. "Bukan karena saya pemberani. Karena saya marah. Tiap anak yang masuk ke sini dengan kepala bocor karena ring Broto, saya catat. Tanggal, nama, luka. Mungkin biar nggak ada yang lupa mereka pernah ada."
Bima membuka satu map. Foto seorang pemuda, mungkin seumuran Arga, dengan rahang yang tak lagi simetris. Di bawahnya catatan tangan Maya: *Patah rahang, gegar berat. Dikirim dari "gudang." Tak mampu bicara jelas setelahnya.* Bima menutupnya pelan. Tangannya berat.
"Berapa banyak?" tanya Sinta, sudah membuka buku catatannya sendiri.
"Yang saya tangani sendiri, puluhan. Yang mati—" Maya berhenti. "Tiga yang saya tahu pasti dalam dua tahun terakhir. Tapi mayatnya nggak pernah sampai ke saya. Broto punya cara 'menghilangkan' masalah. Kecelakaan kerja di pelabuhan, katanya. Tenggelam. Begitu terus."
Sinta mencatat dengan tangan stabil, tapi rahangnya mengeras. "Ini bukan cuma perjudian ilegal. Ini pembunuhan berantai yang disamarkan. Kalau kita bisa hubungkan catatan medismu dengan jadwal pertarungan di gudang, dengan saksi—"
"Saksi itu masalahnya," potong Maya. "Semua takut. Yang selamat dari ring Broto, mereka pilih lupa. Mereka punya keluarga. Broto tahu di mana keluarga mereka tinggal."
Pintu klinik berderit. Semua menoleh.
Gento berdiri di ambang, tubuh raksasanya hampir memenuhi kusen, bekas-bekas luka di wajahnya tampak lebih lunak di bawah lampu klinik daripada di bawah neon gudang. Sejak Bima menahan pukulan yang seharusnya membunuhnya, lelaki besar itu jadi sering muncul di sekitar sasana—diam, mengawasi, mencari sesuatu yang ia sendiri belum bisa namai.
"Saya bisa jadi saksi," kata Gento, suaranya berat seperti batu yang digeret. "Saya tahu nama-namanya. Saya yang sering jadi 'pembersih' setelah pertarungan. Saya tahu di mana yang mati dikubur."
Ruangan hening. Maya menatap lelaki yang dulu paling ditakuti di ring itu, lelaki yang tangannya juga berlumur, dan untuk sesaat tak ada yang bicara.
"Kenapa?" tanya Bima pelan. "Kenapa kamu mau jadi saksi? Kamu bisa habis kalau Broto tahu."
Gento menatapnya lama. "Kamu nahan pukulanmu," katanya akhirnya. "Malam itu. Aku udah jatuh, udah pingsan, kamu bisa habisin aku—kayak aku habisin dua orang. Tapi kamu malah cek napasku." Ia menelan ludah, sesuatu yang seperti keras melintas di wajah kasarnya. "Nggak ada yang pernah ngecek napasku, selama ini. Aku cuma alat. Sama kayak anak-anak yang mati itu cuma alat." Tangan besarnya mengepal. "Aku capek jadi alat orang yang nggak pernah ngecek napas siapa-siapa."
Bima berdiri, melangkah ke arah lelaki raksasa itu, dan mengulurkan tangan—tangan kanan, tangan yang sama yang dulu membantingnya. Gento menatap tangan itu, lalu menjabatnya. Genggaman dua petarung yang sama-sama lelah dieksploitasi.
"Kalau kita lakuin ini," kata Bima ke seluruh ruangan—Sinta dengan bukunya, Maya dengan map-mapnya, Gento dengan rahasianya—"nggak ada jalan mundur. Broto bakal tahu kita ngumpulin. Dia bakal bales."
"Dia udah mulai bales." Sinta menutup bukunya. "Jagur udah ngancem Rara. Tagihan udah dateng. Kita nggak punya pilihan diam." Ia menatap Bima. "Pertanyaannya cuma: kita lawan sambil takut, atau lawan sambil tahu kita benar?"
Bima memandang map foto pemuda berahang patah yang masih terbuka di meja. Lalu ke Gento. Lalu ke jendela, ke arah gudang pelabuhan yang tak terlihat tapi selalu terasa.
"Sambil tahu kita benar," katanya.