Mereka pulang ke sasana saat sore mulai keemasan. Pak Darto sudah menunggu di depan pintu, bersandar pada tongkatnya, dan begitu melihat wajah-wajah mereka, lelaki tua itu tak perlu bertanya hasil.
"Menang," kata Pak Darto, bukan tanya, dan giginya yang tinggal separuh muncul dalam senyum lebar. "Anak ini menang."
"Tipis, Pak. Lewat poin." Arga menggaruk tengkuk, tapi tak bisa menyembunyikan cengiran.
"Poin, KO, sama saja menang!" Pak Darto mengetukkan tongkatnya ke lantai semen. "Tiga tahun sasana ini cuma dengar suara samsak dan tukang pel. Sekarang ada anak juara lagi."
Di dalam, Rara sudah menyiapkan kejutan kecil. Gadis itu—yang seharian gelisah menunggu kabar sambil melipat-lipat ujung kemejanya—telah membeli kue bolu sederhana dari warung dekat kampung dengan upah kerja paruh waktunya, dan menatanya di atas meja reyot tempat Bima biasa meletakkan ember pel. Lilin tak ada, jadi Rara menancapkan korek api ke bolu itu.
"Buat juara," kata Rara, pipinya merah. "Walaupun cuma juara antarklub."
Arga menatap kue itu, lalu menatap Rara, lalu menatap lantai. "Kamu nggak perlu—"
"Sudah, makan saja sebelum koreknya leleh."
Mereka tertawa. Untuk sesaat, sasana tua Garuda Mas yang dindingnya retak dan catnya mengelupas itu terasa seperti rumah yang sebenarnya. Pak Darto bercerita tentang Bima muda dulu, tentang pertandingan amatir pertama Bima yang juga menang tipis lewat poin, dan bagaimana Reza—nama itu masih membuat ruangan hening sejenak—bersorak paling kencang di antara penonton.
"Reza yang waktu itu bawa kue?" tanya Bima pelan, dan suaranya tak lagi sepenuhnya luka.
"Kue, kembang api kecil, semua dia yang atur." Pak Darto terkekeh. "Bocah itu lebih heboh dari yang bertanding."
Bima tersenyum tipis. Aneh rasanya, bisa menyebut nama Reza tanpa langsung tenggelam. Ia memotong sepotong bolu dan memberikannya pada Arga. "Reza bakal suka kamu," katanya. "Dia paling benci petinju yang cuma modal marah."
Malam turun pelan. Sinta sempat singgah, membawa kabar bahwa ada wartawan tinju lokal yang mulai bertanya-tanya soal "klub Garuda Mas yang muncul dari mana." Tapi malam itu mereka memilih tak memikirkan apa-apa selain bolu murah, teh hangat, dan suara tawa yang lama tak terdengar di tembok-tembok itu.
Bima berdiri di ambang pintu, memandang ke dalam—Arga yang menceritakan ronde demi ronde dengan tangan melambai-lambai, Rara yang tertawa, Pak Darto yang mengangguk-angguk, Sinta yang menyimak dengan senyum kecil. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Bima merasa hidup tak sedang menagih utang darinya.
Dan justru karena itu, sebuah firasat dingin menyelinap di tengkuknya.
Ia sudah cukup lama hidup di dunia keras untuk tahu satu hal: ketika semuanya terasa baik, ketika napas akhirnya terasa ringan, biasanya ada sesuatu yang sedang berjalan ke arahmu dari dalam gelap. Ia teringat senyum Broto di lantai dua gudang itu—senyum yang tak ikut hilang meski Bima menang. Lelaki seperti Broto tak pernah benar-benar kalah dengan diam.
"Bang Bima, kenapa berdiri di situ?" Arga memanggil. "Sini, masih ada bolu."
Bima menelan firasatnya. Malam ini, biar saja mereka manis. "Iya," katanya, dan melangkah masuk ke dalam cahaya. "Sisain buat Pak Darto, jangan kamu habiskan sendiri."
Di luar, di seberang jalan, sebuah mobil gelap berhenti sebentar dengan mesin menyala, lampu padam. Lalu pelan-pelan pergi.