Sinta yang membawanya ke sana. Ia datang ke sasana sore itu dengan blazer rapi seperti biasa, tapi matanya keras. "Kamu harus lihat sesuatu," katanya pada Bima. "Kalau kamu kira menyelamatkan Arga itu cukup, kamu salah besar."
Klinik itu cuma ruko dua pintu di gang sempit dekat dermaga, catnya mengelupas, papan namanya ditulis tangan: KLINIK SEHAT BAHARI. Bau antiseptik bercampur bau amis laut menampar Bima begitu ia melangkah masuk. Di dalam, sempit dan panas, kipas angin tua berputar malas. Tujuh tempat tidur lipat berjejer, enam terisi.
Seorang perempuan muda berkaus dan celemek darah sedang membungkuk di atas salah satu pasien, jarinya cekatan menjahit luka di pelipis seorang pemuda. Ia tidak menengok. "Tahan dulu, Bang, dikit lagi."
"Maya," kata Sinta. "Ini Bima."
Perempuan itu menyelesaikan jahitan terakhir, menggigit benang, baru menoleh. Wajahnya lelah tapi matanya tajam, menilai. "Si Palu Garuda," katanya datar, tanpa kagum. "Yang viral itu. Yang menang lawan Gento."
"Iya," kata Bima.
"Bagus buat kamu." Maya menarik sarung tangan lateksnya, membuangnya ke ember. "Sini. Karena kamu menang, aku mau kenalin kamu sama yang kalah."
Ia membawa Bima menyusuri jejeran ranjang, dan setiap langkah terasa lebih berat dari yang sebelumnya. Ranjang pertama: pemuda mungkin dua puluh tahun, mata kanannya tertutup perban, "Retina lepas," kata Maya. "Nggak akan lihat lagi pakai mata itu." Ranjang kedua: lelaki yang tangannya dibebat dari bahu sampai jari, bengkok pada sudut yang salah. "Sikunya hancur. Nggak ada uang operasi. Jadi gini aja seumur hidup."
Ranjang ketiga kosong, seprainya masih kusut.
"Yang ini," kata Maya, suaranya tiba-tiba pelan, "namanya Edi. Tujuh belas tahun. Umur murid kamu, kan?" Ia menatap Bima lurus. "Kemarin malam dia naik ring Broto buat lunasin utang sekolah adiknya. Tadi pagi dia berhenti napas. Pendarahan otak. Aku nggak punya alat buat nyelametin dia." Ia menelan sesuatu yang pahit. "Jadi sekarang ranjangnya kosong."
Bima berdiri terpaku. Tujuh belas tahun. Pendarahan otak. Setiap kata itu menusuk tepat ke luka yang tak pernah ia biarkan sembuh.
"Kenapa kamu nunjukin ini ke aku," kata Bima, suaranya hampir tak keluar.
Maya menghadapnya, dan kemarahannya bukan untuk Bima — itu untuk seluruh dunia yang membiarkan tempat seperti ini ada. "Karena kemarin malam, sepuluh ribu orang nonton video kamu ngalahin Gento dan ngerasa keren. Tinju bawah tanah jadi tontonan. Dan tiap kali ada yang bilang keren, Broto kebanjiran anak baru yang mau jadi kamu." Ia menunjuk ranjang kosong itu. "Itu harganya. Bukan kamu yang bayar. Anak-anak ini yang bayar."
Sinta diam di belakang, membiarkan kata-kata itu mengendap.
Bima menatap ranjang Edi yang kosong dan kusut, dan untuk pertama kalinya ia mengerti sesuatu yang selama ini ia hindari. Ia kira dengan menyelamatkan Arga, ia menebus sesuatu. Tapi Arga cuma satu. Di luar sana, di gudang dekat dermaga ini, mesin Broto terus menelan anak-anak tujuh belas tahun dan memuntahkannya cacat atau mati, satu per satu, demi taruhan.
"Berapa lama kamu di sini?" tanya Bima.
"Dua tahun," kata Maya. "Relawan. Nggak digaji. Aku dulu mau jadi dokter beneran, tapi keburu lihat tempat ini dan nggak bisa pergi." Ia mengusap wajahnya. "Aku jahit mereka, aku pulangin, separuh balik lagi minggu depan lebih parah. Aku capek nambal. Aku mau bendungnya yang ditutup."
"Broto," kata Bima.
"Broto," sahut Maya.
Mereka berdiri bertiga di ruangan sempit penuh bau antiseptik dan amis laut, dan di luar, ombak pelabuhan memukul tiang dermaga, pelan dan terus-menerus, seperti hitungan ronde yang tak pernah berhenti.
Dalam perjalanan pulang, Bima diam sepanjang jalan. Sinta tidak memaksanya bicara. Baru ketika mereka sampai di mulut gang sasana, Bima berhenti.
"Aku kira aku cuma harus jagain satu anak," katanya, lebih pada dirinya sendiri.
"Sekarang kamu tahu," kata Sinta lembut.
Bima menatap pintu seng sasananya, di mana di dalam Arga sedang berlatih jab dan Gento sedang mengepel lantai utara. Dua orang yang selamat. Tapi di kepalanya hanya ada satu gambar: ranjang kosong, seprai kusut, dan seorang anak tujuh belas tahun yang tak akan pernah pulang.
"Broto harus berhenti," kata Bima. "Bukan cuma buat Arga. Buat semuanya."