Bima belum pernah ke makam Reza.
Tiga tahun, dan ia belum pernah menginjakkan kaki di sana. Ia tahu di mana—pemakaman umum di pinggir kota, blok C, dekat pohon kamboja. Sinta yang memberitahunya dulu, di hari-hari awal, ketika Bima masih belum bisa menatap matanya. Tapi ia tak pernah datang. Datang berarti mengakui Reza benar-benar ada di bawah tanah itu. Datang berarti tidak bisa lagi berpura-pura bahwa kalau ia menghukum dirinya cukup lama, suatu hari ia akan terbangun dan semuanya cuma mimpi buruk.
Sinta yang mengajaknya. Bukan memaksa—mengajak. "Aku mau ziarah hari Minggu. Kamu boleh ikut. Boleh enggak." Begitu saja. Dan entah kenapa, kali ini, Bima mengangguk.
Pagi Minggu itu langit kelabu. Mereka berjalan di antara nisan-nisan, Sinta membawa bunga, Bima membawa kekosongan di dadanya yang berdenyut tiap langkah. Pohon kamboja itu menjatuhkan kelopak putih ke tanah. Lalu nisan itu: REZA MAHENDRA. Tanggal lahir. Tanggal kematian—tiga tahun lalu, tanggal yang setiap pagi terukir di belakang mata Bima.
Bima berdiri kaku. Ia tidak bisa membaca nama itu tanpa lutut yang melemah.
Sinta jongkok, menata bunga, membersihkan daun kering dari batu nisan dengan tangan yang sudah hafal gerakannya. Lalu ia bicara, pelan, tidak menatap Bima.
"Kakak suka banget sama kamu, tahu." Ia tersenyum kecil, getir. "Waktu kecil aku cemburu. Dia pulang dari sasana, ngomongnya Bima ini, Bima itu. 'Bima jab-nya kayak peluru.' 'Bima nahan lima ronde lawan anak yang lebih gede.' Aku sampai mikir, ini kakakku punya saudara baru."
Bima menutup mata. Kenangan itu datang tanpa diundang, deras seperti hujan yang membobol bendungan.
Dua bocah kurus di sasana Garuda Mas, dua belas tahun, tubuh penuh memar. Bima yang pendiam dan Reza yang tak pernah berhenti bicara. Pak Darto muda memegang pad, berteriak: "Kaki, Bima! Tenaga dari tanah! Tinju itu bukan dari tangan, dari kaki!" Reza yang selalu kalah sparring tapi tak pernah berhenti tersenyum. "Sekali lagi, Bim. Aku belum capek." Padahal capek. Selalu capek. Tapi ia berdiri lagi.
Mereka tidur di sasana karena rumah masing-masing terlalu sempit dan terlalu penuh masalah. Berbagi mi instan. Berbagi mimpi—juara nasional, dua-duanya, suatu hari. Reza yang berkata, "Kalau kita ketemu di final, Bim, kamu harus all-out. Janji. Aku enggak mau menang dari versi kamu yang ngalah. Aku mau menang dari versi terbaik kamu."
Janji itu. Janji yang membunuhnya.
"Dia yang minta," kata Bima tiba-tiba, suaranya pecah. Sinta menoleh. "Di final itu. Dia yang minta aku all-out. Bertahun-tahun sebelumnya dia minta. 'Versi terbaik kamu.' Jadi aku—" Tangannya naik, gemetar, menatap kepalan kanannya. "Aku kasih dia versi terbaikku. Aku kasih dia hook yang paling bagus yang pernah aku lepas seumur hidup. Dan itu yang—" Suaranya hilang.
Sinta berdiri. Ia tidak memeluk Bima—belum, tidak akan dengan cara yang murah. Ia hanya berdiri di sampingnya, menghadap nisan yang sama.
"Dokter bilang pembuluh darahnya bisa pecah kapan saja," kata Sinta lembut. "Naik tangga. Bersin terlalu keras. Mengejan. Itu bom waktu di kepalanya dari lahir, Bima. Pukulan kamu cuma kebetulan jadi pemicu. Kalau bukan malam itu, mungkin minggu depannya. Mungkin pas dia tidur."
"Tapi malam itu, tanganku—"
"Tanganmu memberi dia apa yang dia minta." Suara Sinta tegas sekarang. "Versi terbaik kamu. Dia mati sambil dapat persis apa yang dia mau dari sahabatnya. Itu bukan pembunuhan, Bima. Itu janji yang ditepati."
Bendungan itu retak. Bukan runtuh—belum—tapi retak, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Bima merasakan sesuatu yang panas dan asing menggenang di matanya, dan ia membiarkannya, di bawah pohon kamboja, di depan nama sahabatnya, dengan Sinta berdiri diam di sisinya seperti seseorang yang menunggu dengan sabar di tepi air yang akhirnya mulai pecah.
Ia belum bebas. Tapi untuk pertama kalinya, ia berdiri di depan kubur Reza—dan tidak lari.