"Lunas."
Kata itu keluar dari mulut Broto seperti permen yang sengaja diberikan supaya manisnya jadi racun belakangan. Ia turun ke lantai gudang dengan langkah santai, melewati kerumunan yang otomatis membelah, sementara dua centengnya menyeret Gento yang masih setengah sadar ke sudut.
"Utang almarhum bapaknya bocah ini—" Broto menunjuk Arga dengan dagu, suaranya cukup keras agar seluruh gudang mendengar, "—tujuh puluh juta, lunas. Bima Aditya menang. Aku orang yang pegang janji."
Beberapa orang bertepuk tangan sinis. Arga berdiri kaku di samping Bima, napasnya masih memburu, tak berani percaya.
"Aku mau surat," kata Bima.
Suara itu pelan, tapi membuat gudang sunyi. Broto memiringkan kepala, senyumnya tak goyah.
"Surat?"
"Hitam di atas putih. Utang lunas. Bocah ini tidak boleh disentuh selamanya. Tanda tangan kamu, materai, saksi." Mata Bima yang dulu kosong kini hidup dan keras seperti batu sungai. "Janji di mulut itu murah, Pak Broto. Saya sudah cukup lama hidup di tempat seperti ini buat tahu itu."
Broto tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Kamu tidak percaya kata-kataku, Bima?"
"Tidak."
Jawaban itu begitu telanjang sampai Jagur di belakang Broto refleks mengepalkan tangan. Tapi Broto justru terlihat menikmatinya. Ia memberi isyarat. Seseorang membawakan map dan pena. Di atas peti kayu yang dijadikan meja, di bawah lampu gantung yang berayun, Broto menulis. Tangannya tenang, hurufnya rapi—terlalu rapi untuk orang seperti dia.
Bima membaca tiap baris. Ia bukan orang berpendidikan tinggi, tapi tiga tahun mengepel sasana mengajarinya membaca orang, dan orang seperti Broto menulis sama seperti ia memukul: ada yang disembunyikan di antara pukulan.
"Di sini," kata Bima, jarinya menekan satu kalimat. "'Selama tidak ada kewajiban lain yang timbul.' Apa maksudnya?"
Senyum Broto melebar setipis pisau. "Itu cuma bahasa hukum, Bima. Standar. Kamu mau jadi pengacara sekarang?"
Bima menatapnya lama. Ia tahu kalimat itu adalah pintu—pintu yang sengaja dibiarkan terkuak agar suatu hari Broto bisa menyelinap masuk lagi. Tapi ia juga tahu, malam ini, di gudang penuh centeng ini, ia tak punya cukup tenaga untuk berperang soal satu kalimat. Bahunya berteriak. Arga butuh keluar dari sini hidup-hidup.
Ia menandatangani. Tapi ia mengingat kalimat itu, menyimpannya seperti menyimpan letak rusuk lawan yang lemah.
"Sampai jumpa, Si Palu Garuda," kata Broto saat Bima dan Arga melangkah ke pintu. "Kota ini kecil. Ring ini lebih kecil lagi."
Di sudut gudang, Gento yang bersandar di tembok beton membuka matanya. Wajah penuh tato itu, mata yang selama ini kosong seperti dasar sumur, kini menatap punggung Bima dengan sesuatu yang baru. Bukan dendam. Bukan amarah orang yang baru kalah. Sebuah pertanyaan yang menggantung berat di kerongkongannya, pertanyaan yang tak pernah ada yang menanyakannya kepada Gento seumur hidup.
Kenapa kau tahan pukulanmu?
Gento sudah dipukul ribuan kali. Sudah memukul orang sampai mati dua kali. Ia tahu bunyi tulang yang patah, ia tahu rasa tenggorokan lawan yang lumpuh di bawah kepalannya. Tapi belum pernah, belum sekali pun, ada orang yang berdiri di atasnya dengan kemenangan di tangan dan memilih untuk tidak menghancurkannya.
Ia mengangkat tangan, perlahan, menyentuh dagunya yang bengkak—dagu yang seharusnya sudah remuk.
"Kenapa," gumamnya, terlalu pelan untuk didengar siapa pun.
Di luar gudang, udara pelabuhan dingin dan bau garam. Arga berjalan di samping Bima, masih gemetar, lalu tiba-tiba berhenti.
"Bang." Suaranya pecah. "Aku bebas? Beneran bebas?"
Bima menatap langit yang mulai memucat ke arah subuh. Ia tidak menjawab dengan kata "iya". Ia tahu lebih baik dari itu.
"Kita jalan dulu," katanya. "Pelan-pelan. Jangan lari." Ia menoleh ke belakang, ke arah gudang gelap yang baru mereka tinggalkan. "Orang seperti dia paling senang lihat orang lari."
Mereka pulang dalam diam, dua bayangan kecil di jalan pelabuhan, menang—tapi merasa ada mata yang terus mengikuti dari kegelapan.