Hujan tidak turun di Sangkala malam itu. Hujan menyerbu.
Langit pecah sejak sore, dan menjelang malam air sudah naik lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun. Pinggiran kota yang rendah—Kampung Cibadak, sepanjang bantaran Kali Sangkala—tenggelam dalam hitungan jam, bukan hari. Tanggul jebol di satu titik, dan air bah yang datang membawa lumpur, sampah, dan teror.
Radio pos meledak. Bu Harni, yang memaksakan diri datang meski belum sembuh benar, mengatur kekacauan dengan suara yang tetap—entah dari mana ia menyimpan ketenangan itu—sementara panggilan datang bertubrukan: orang terjebak di atap, lansia tak bisa dievakuasi, anak terpisah dari keluarga, dan korban-korban yang terseret arus.
Kru PSC 119 berubah dari layanan ambulans biasa menjadi garda depan pra-rumah-sakit untuk bencana. Mereka mendirikan pos medis darurat di tanah tinggi dekat masjid Cibadak—satu-satunya bangunan yang tidak terendam—dengan tenda terpal, lampu darurat, dan apa pun alat yang bisa mereka bawa.
"Kita nggak bisa angkut satu-satu pakai ambulans," Ranu berteriak di tengah hujan, mengoordinasi. "Air terlalu tinggi buat masuk. Kita bikin titik kumpul di sini. Relawan dan warga bawa korban pakai perahu karet dan ban ke sini, kita triase, stabilkan, baru yang paling parah kita evakuasi pakai ambulans pas air agak surut."
Mereka menjalankan triase massal—sistem yang Gevira baru pelajari minggu lalu, kini dalam skala yang mengerikan. Ranu memimpin: setiap korban yang masuk dinilai dalam detik dan diberi penanda warna. Hijau untuk yang bisa menunggu—luka ringan, basah dan menggigil tapi kuat. Kuning untuk yang butuh perawatan tapi belum mengancam nyawa. Merah untuk yang harus ditangani sekarang—sesak, tak sadar, pendarahan. Dan penanda terakhir, yang paling berat untuk dipasang, untuk mereka yang sudah tak bisa diselamatkan dengan sumber daya yang ada.
Gevira, di hari hujan ini, tidak gemetar lagi. Atau kalau ia gemetar, ia tidak membiarkannya menghentikannya. Ia menangani korban demi korban di tenda kuning, tangannya kini lebih percaya diri, suaranya menenangkan anak-anak yang ketakutan. Ranu memperhatikan sekilas dan merasakan sesuatu yang mirip kebanggaan—anak yang dulu pucat lihat darah kini berdiri di tengah bencana.
Cempaka memegang tenda merah, tempat kasus terberat. Seorang lansia yang nyaris tenggelam, paru-parunya penuh air, ditangani dengan oksigen dan posisi yang tepat. Seorang lelaki dengan luka robek dalam di kaki dari benda tajam yang terbawa arus, pendarahan ditekan dan diikat. Satu per satu, mereka mencuri nyawa dari air.
Tapi oksigen menipis. Itu selalu masalahnya. Tabung-tabung yang mereka bawa terkuras lebih cepat dari yang bisa diisi ulang, dan stasiun pengisian terdekat sendiri kebanjiran. Ranu menjatah dengan keras hati: oksigen hanya untuk merah, bukan kuning. Keputusan yang membuat dadanya sakit setiap kali ia harus mengambilnya, tapi keputusan yang menyelamatkan lebih banyak.
Lalu, di tengah kekacauan, terjadi yang ditakuti semua orang.
Sebuah perahu karet relawan yang membawa tiga korban terbalik di arus deras dekat tanggul jebol, sekitar lima puluh meter dari pos medis. Teriakan pecah. Pak Sulastomo—yang seharusnya menjaga ambulans di tanah tinggi—adalah yang paling dekat dengan tepi air, dan tanpa berpikir dua kali, sopir tua itu menerjang.
"Pak Sulas, JANGAN!" Ranu berteriak, tapi suaranya tenggelam dalam deru hujan dan air.
Empat puluh tahun di jalan kota tidak mengajari Pak Sulastomo berenang melawan arus banjir. Ia berhasil meraih satu korban—seorang ibu—dan mendorongnya ke arah ban yang dilempar warga. Tapi arus menariknya sendiri, kakinya terjerat sesuatu di bawah air, dan dalam sekejap kepala putih itu hilang di balik permukaan cokelat yang berputar.
Ranu sudah berlari sebelum kepalanya memutuskan. Ia mengikat tali ke tubuhnya—satu hal yang ia ingat dari masa relawannya dulu—melempar ujung lain ke Cempaka, dan menerjang air. Dingin, deras, penuh lumpur dan benda tak terlihat yang menghantam kakinya. Ia menyelam ke titik terakhir Pak Sulastomo, tangannya meraba di air gelap, sekali, dua kali, paru-parunya membakar—lalu jarinya menyentuh kain, lalu lengan, lalu ia mencengkeram sekuat tenaga dan menarik.
Cempaka dan warga menarik tali dari tepi. Ranu dan Pak Sulastomo terseret ke darat, keduanya batuk memuntahkan air, lumpur di mata dan mulut. Pak Sulastomo tak sadar sesaat—lalu, saat Ranu menekan dadanya dan memiringkannya, sopir tua itu memuntahkan air, terbatuk hebat, dan bernapas. Hidup. Lecet, syok, kedinginan, tapi hidup.
"Bodoh," Ranu berbisik di antara batuknya sendiri, memeluk lelaki tua yang menggigil itu, suaranya pecah. "Pak Sulas bodoh. Tujuh bulan lagi pensiun."
"Ada... ada orang tenggelam," Pak Sulastomo masih sempat bicara, gemetar. "Masa saya cuma... lihat..."
Mereka membawanya ke tenda, membungkusnya, memberinya oksigen meski jatahnya menipis—karena ada batas, dan menjaga keluarga sendiri adalah batas itu. Korban yang ia selamatkan, ibu itu, juga hidup.
Malam terus berjalan. Hujan akhirnya mereda menjelang dini hari, dan air pelan-pelan mulai surut, meninggalkan lumpur dan kelelahan. Pos medis darurat telah menangani lebih dari empat puluh korban malam itu. Sebagian besar selamat. Beberapa tidak—dan nama-nama itu, Ranu tahu, akan ikut ke dalam tidurnya nanti.
Ia berdiri di pos yang berlumpur saat langit mulai kelabu, basah kuyup, menggigil, lelah sampai ke tulang. Krunya tersebar di sekelilingnya, sama hancurnya, sama hidupnya. Mereka kewalahan, sistem kewalahan, kota kewalahan—tapi mereka masih berdiri.
Lalu radio berbunyi.
Bu Harni. Suaranya, untuk pertama kalinya dalam ingatan Ranu, tidak tenang.
"Sangkala Satu... ada satu lagi. Kritis. Dari arah hilir, terbawa arus, baru ketemu. Laki-laki, nggak sadar, napas payah." Jeda. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar di balik desis radio: "Ranu... kamu harus lihat sendiri siapa dia."