Mereka berhasil. Bapak dari gang itu sampai di Karyahusada hidup, masuk ke tangan yang lebih lengkap dari tangan Ranu. Tapi malam itu, setelah shift usai, Ranu tidak langsung pulang.
Ia duduk sendiri di garasi pos, di kursi plastik di samping Sangkala Satu yang lampunya sudah mati. Di tangannya, sebuah buku catatan kecil bersampul lusuh. Ia membukanya, tapi tidak membaca. Ia hanya menatap, dan ingatan datang sendiri, seperti selalu.
Setahun lalu. Hampir tepat di tanggal yang sama.
Waktu itu bukan bencana besar. Bukan banjir, bukan longsor, bukan kerusuhan. Hanya satu lelaki, lima puluhan tahun, di sebuah rumah di Tambaksari—kawasan yang sama yang membuat Ranu membeku saat dengar alamatnya kemarin. Namanya Pak Darmaji. Pedagang kelontong. Ia mengeluh nyeri perut hebat yang menjalar, wajahnya pucat, keringat dingin. Ranu membacanya sebagai sesuatu yang serius di pembuluh besar—jenis kondisi yang kalau benar, hitungannya bukan jam, tapi menit.
Ia menstabilkannya sebisanya dan membawanya. Lalu dimulailah putaran yang sampai sekarang masih ia mimpikan.
Rumah sakit pertama: "Maaf, dokter spesialis yang dibutuhkan tidak sedang jaga. Tidak bisa kami terima." Rumah sakit kedua: "ICU kami penuh." Ketiga: "BPJS pasien terdaftar di faskes lain, prosedurnya harus dari sana dulu." Keempat, yang sudah ia hubungi lewat dispatch, awalnya bilang siap, tapi saat ambulans sampai gerbang, berubah: "Maaf, tadi salah informasi, kamar yang dimaksud sudah terisi."
Ranu masih ingat wajah Pak Darmaji di brankar di belakang. Awalnya pria itu masih bisa bicara, masih sempat bertanya, "Masih jauh, Mas?" Lalu suaranya makin pelan. Lalu ia diam. Ranu, yang menyetir sambil berteriak ke radio mencari satu pintu yang mau terbuka, melihat di spion bagaimana tubuh itu pelan-pelan menyerah, sementara di luar jalan macet dan setiap rumah sakit menutup pintunya dengan alasan yang berbeda-beda tapi terdengar terlalu rapi.
Mereka berputar nyaris dua jam. Dua jam—di kota yang dari ujung ke ujung bisa ditempuh empat puluh menit di jalan kosong. Dua jam di mana yang Ranu lakukan bukan menyelamatkan, tapi membawa orang sekarat berkeliling mencari tempat untuk mati dengan layak.
Pak Darmaji mati di brankar Sangkala Satu, di antara rumah sakit keempat dan kelima, di sebuah lampu merah, dengan Ranu menekan dadanya sambil Cempaka memompa oksigen dan keduanya tahu—sudah tahu—bahwa mereka kalah bukan oleh penyakit, tapi oleh jarak dan pintu.
Ranu menutup buku catatannya. Sejak malam itu, ia mulai mencatat. Bukan untuk membongkar apa pun—ia bukan penyidik, ia tukang angkut, begitu Cempaka selalu bilang. Ia mencatat karena ia butuh bukti bahwa itu nyata, bahwa ia tidak gila, bahwa orang-orang memang mati di jalan bukan karena lukanya tapi karena pintu yang tertutup. Tanggal. Jam. Pasien. Rumah sakit yang menolak. Alasan yang diberikan. Ia mencatatnya seperti orang mencatat dosa, supaya tidak lupa, supaya tidak menjadi mati rasa.
Karena itu bahaya yang sebenarnya, ia tahu. Bukan kelelahan fisik. Bukan jam tidur yang kacau. Yang membunuh orang seperti dirinya pelan-pelan adalah godaan untuk berhenti peduli. Untuk berkata, "Sudahlah, sudah saya bawa, kalau ditolak ya bukan urusan saya." Beberapa rekan lamanya sudah menyerah pada godaan itu—mereka masih bekerja, masih mengangkut, tapi mata mereka sudah kosong, dan pasien bagi mereka cuma beban yang dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Ranu takut menjadi seperti itu lebih dari ia takut pada apa pun.
"Masih di sini?"
Ia mendongak. Cempaka berdiri di pintu garasi, jaketnya sudah dipakai, hendak pulang. Ia melihat buku di tangan Ranu, dan wajahnya berubah—ia tahu buku itu. Ia tahu apa isinya.
"Pak Darmaji lagi?" tanya Cempaka pelan. Itu satu-satunya nama yang tidak pernah benar-benar mereka ucapkan, tapi selalu ada di antara mereka.
Ranu tidak menjawab langsung. "Alamat kemarin. Kenanga Tiga. Aku kira itu rumahnya."
Cempaka menarik kursi plastik, duduk di sampingnya. Untuk sesaat keduanya diam, ditemani bau oli dan dingin malam.
"Itu bukan salahmu," kata Cempaka akhirnya. Kalimat yang sudah ratusan kali ia ucapkan, dan keduanya tahu kalimat itu tak pernah benar-benar mendarat.
"Aku tahu bukan salahku," Ranu menjawab, suaranya datar. "Aku tahu aku nggak bisa apa-apa. Itu justru yang nggak bisa kuterima. Aku tanganku tenang, Cempaka. Aku bisa hentikan pendarahan, aku bisa kembalikan jantung yang berhenti. Tapi aku nggak bisa buka pintu yang dikunci orang lain. Dan pintu itu yang bunuh dia, bukan penyakitnya."
Cempaka tidak membantah, karena tidak ada yang bisa dibantah. Ia hanya meletakkan tangannya sebentar di bahu Ranu, lalu menariknya kembali.
"Pulang," kata Cempaka. "Tidur. Besok shift lagi. Kota ini nggak akan berhenti roboh cuma karena kamu butuh istirahat."
Ranu mengangguk. Ia memasukkan buku catatan kecil itu ke saku dadanya, dekat jantung, tempat ia selalu menyimpannya. Lalu ia berdiri, mematikan lampu garasi, dan keluar ke malam Sangkala yang masih panas dan masih penuh dengan orang-orang yang belum tahu bahwa giliran mereka untuk roboh mungkin datang besok, atau lusa, atau di lampu merah berikutnya.