Sirene sudah meraung sebelum Ranu sempat mengencangkan tali sepatunya. Suara Bu Harni menyeruak dari radio, biasanya rata seperti permukaan air tenang, kini retak di ujung kalimat. "Sangkala Satu, bus malam terguling di jalur arteri, sebelum Simpang Arteri Wanaraja. Penumpang penuh. Ulangi, penumpang penuh."
Gilang memutar kemudi sebelum pintu belakang benar-benar tertutup. Cempaka sudah memeriksa tas trauma di pangkuannya, menghitung collar, menghitung sungkup oksigen, bibirnya bergerak tanpa suara seperti orang berdoa. Ranu tahu itu bukan doa. Itu hitungan. Mereka hanya membawa empat collar. Untuk sebuah bus, empat collar terasa seperti membawa satu ember ke kebakaran.
Mereka tiba saat asap masih tipis menggantung di atas aspal. Bus itu berbaring miring seperti hewan raksasa yang roboh, kaca-kacanya berhamburan menjadi butir-butir yang memantulkan lampu darurat. Orang-orang berteriak dari dalam. Beberapa penumpang sudah merangkak keluar lewat jendela yang pecah, menyeret kaki, memegangi kepala yang berdarah. Seorang perempuan duduk di pembatas jalan, memangku anak lelaki yang matanya setengah terpejam, dan ia tidak menangis, hanya menggumamkan nama anak itu berulang-ulang seolah nama bisa menahan nyawa agar tak lepas.
Ranu melompat turun. Untuk sesaat, hanya sesaat, aspal basah dan lampu berputar itu berubah menjadi kabin ambulans dua tahun lalu, menjadi napas Wira yang memendek di bawah tangannya. Ia menutup mata sekejap, lalu membukanya. Bukan sekarang. Sekarang ada belasan orang yang butuh ia tetap utuh.
"Cempaka, kau ke arah depan. Yang bisa jalan, arahkan ke pembatas jalan, tandai mereka." Ranu berlutut di samping penumpang pertama, menekan dua jari ke leher, merasakan denyut yang cepat dan tipis. "Gilang, radio Bu Harni. Minta semua unit yang ada. Minta juga polisi mengatur macet, jalur ini akan tersumbat sebentar lagi."
Triase. Ranu bergerak dari tubuh ke tubuh dengan cepat, menandai dengan penilaian yang dingin karena kedinginan itulah satu-satunya cara ia bisa terus bekerja. Yang bisa berjalan, tunggu. Yang bernapas cepat tapi sadar, prioritas. Yang diam, yang dadanya tak lagi naik, ia sentuh sekali, dua kali, lalu ia harus meninggalkannya untuk yang masih bisa diselamatkan. Setiap kali ia beranjak dari tubuh yang diam, ada sesuatu di dadanya yang ikut ditinggalkan di aspal itu.
Bu Harni mengudara lagi. "Sangkala Satu, unit dua sedang di jalan, perkiraan sepuluh menit. RS Sentana... " Ada jeda. "RS Sentana bilang mereka meninjau kapasitas dulu."
"Meninjau kapasitas," Ranu mengulang, dan kata itu terasa busuk di mulutnya. Ia memasang collar pada laki-laki tua yang lehernya tak boleh bergerak, membaringkannya di papan spinal bersama Cempaka. "Bu Harni, saya kirim dua kritis ke Sentana sekarang. Mereka terdekat. Tidak ada waktu untuk ditinjau."
Ambulans Sangkala Satu melaju dengan dua pasien, Gilang di kemudi menembus kepadatan yang mulai menggumpal. Ranu tinggal di lokasi bersama Cempaka dan unit kedua yang baru tiba, terus menandai, terus menekan luka yang tak henti mengalir. Radio di pinggangnya hidup lagi, dan kali ini suara Gilang yang datang, muda dan gemetar menahan sesuatu.
"Mas Ranu... Sentana menahan kami di depan. Katanya ranjang penuh. Katanya yang laki-laki tua ini... dokumennya belum lengkap, tidak ada penjamin."
Ranu berhenti bergerak. Di sekelilingnya orang-orang masih merintih, air masih menetes dari body bus yang penyok, dan untuk sekian detik ia hanya berdiri memegang radio itu seperti memegang batu. "Denyutnya bagaimana?"
"Melemah, Mas."
"Bawa ke Karyahusada. Sekarang. Cari dr. Saraswati, sebut namaku." Suaranya keluar lebih keras dari yang ia mau. "Jangan berhenti di pintu mana pun yang menyuruhmu menunggu. Kau dengar, Gilang? Jangan berhenti."
Ia tahu Karyahusada jauh. Ia tahu setiap kilometer tambahan adalah menit emas yang menetes habis. Tapi pintu yang menutup lebih mematikan daripada jalan yang panjang.
Malam itu terasa tak berkesudahan. Unit-unit datang dan pergi, membawa yang hidup, meninggalkan yang tak lagi bisa ditolong ditutupi kain di tepi jalan. Cempaka merawat seorang gadis yang tulang pahanya patah menembus kulit, tangannya setenang permukaan telaga meski keringat membanjiri pelipisnya. Ketika akhirnya jumlah tubuh di aspal habis terangkut, langit di timur sudah mulai kelabu.
Di IGD RS Karyahusada, dr. Saraswati menyambut mereka dengan mata yang kuyu tapi menyala. Ia telah membuka koridor, menggeser ranjang, memaksa ruang yang tak ada menjadi ada. Laki-laki tua yang ditahan di depan Sentana masih bernapas, walau tipis. "Kalau dia sampai lima belas menit lebih cepat," kata dr. Saraswati pelan, memasang sungkup oksigen sendiri, "aku tidak perlu bertaruh sebanyak ini."
Ranu tidak menjawab. Ia bersandar ke dinding koridor, tangannya masih berbau darah dan antiseptik, dan menghitung di kepalanya. Tiga yang tak tertolong malam ini. Dari tiga itu, ia yakin, dua sebenarnya masih bisa hidup seandainya pintu yang paling dekat tidak menutup untuk meninjau kapasitas, untuk memeriksa dokumen, untuk mencari penjamin yang tak sempat dilahirkan oleh sebuah kecelakaan pukul dua pagi.
Cempaka duduk di lantai di sampingnya, menyandarkan kepala ke lutut. "Ini bukan seperti biasanya, Mas," katanya lirih. "Ini bukan satu pasien yang ditolak lalu kita marah lalu kita lupa. Ini... banyak sekaligus. Semua orang lihat berapa yang kita bawa. Semua orang tahu berapa yang tinggal."
Ranu menoleh padanya. Ia mengerti apa yang Cempaka maksud tanpa harus dijelaskan. Selama ini penolakan terjadi satu demi satu, dalam gelap, dalam sunyi kabin ambulans, mudah disangkal, mudah dilupakan oleh kota yang sibuk. Malam ini penolakan itu berdiri di depan pintu terang IGD, di depan puluhan mata, sementara sebuah bus penuh manusia terguling menuntut jawaban.
Di luar, kabar sudah mulai bergerak. Ranu bisa merasakannya seperti orang merasakan hujan sebelum tetes pertama jatuh. Ia mengeluarkan buku catatan kecil dari saku dadanya, buku yang selalu ia bawa sejak malam-malam ia mulai menyalin diam-diam, dan menuliskan waktu. Waktu bus terguling. Waktu Sentana menahan. Waktu Gilang disuruh menunggu di depan pintu. Nama yang ia tahu, dan nomor bagi yang tak sempat ia tahu namanya.
Tangannya berhenti di atas satu baris kosong. Untuk yang tidak selamat, ia tidak punya nama, hanya angka. Dan ia tahu, sambil menutup buku itu, bahwa kota tidak akan bisa lagi berpura-pura angka-angka ini tak pernah ada.
Fajar merambat masuk lewat jendela IGD. Sirene ambulans lain melintas jauh di jalan, memanggil, seperti selalu memanggil. Ranu bangkit, mengusap wajahnya sekali, dan bersiap untuk hari yang belum juga selesai.