Panggilan itu masuk pukul sepuluh lewat, saat matahari sudah cukup tinggi untuk memantul di kaca depan Ambulans Sangkala Satu. Bu Harni menyebut alamat sebuah kompleks di sisi utara kota, jalanan lebar berpaving, pagar-pagar tinggi dengan kamera di sudut. Ranu mengenali nama jalannya sebelum Bu Harni selesai membacakan. Di sana rumah-rumah tidak berdempetan, dan setiap halaman punya cukup ruang untuk memutar mobil.
"Laki-laki, enam puluh delapan, nyeri dada menjalar ke lengan kiri, keringat dingin," kata Bu Harni. Suaranya, seperti biasa, rata tanpa buru-buru, tapi Ranu menangkap sesuatu di ujungnya. "Yang menelepon menyebut nama. Katanya paman anggota dewan."
Cempaka, di kursi kanan, mengangkat alis. "Nama itu perlu buat apa?"
"Buat mereka," jawab Bu Harni singkat, lalu memutus sambungan.
Ranu tidak menjawab. Ia menekan pedal. Lalu lintas di jalur utara siang itu longgar; tak ada gerobak yang menghalang, tak ada gang sempit yang memaksa ambulans menyusut. Mereka sampai dalam sembilan menit—waktu yang, kalau saja bisa disalin dan ditempel ke Gang Kenanga dua tahun lalu, mungkin sudah cukup untuk menyelamatkan seorang anak.
Pintu pagar sudah terbuka lebar. Seorang perempuan menyambut mereka dengan wajah pucat dan sepasang tangan yang gemetar, menunjuk ke dalam. Di ruang tamu berpendingin, di atas sofa panjang, seorang lelaki tua berbaring dengan bibir membiru. Ranu berlutut, menempelkan dua jari ke leher pasien. Nadi ada, cepat dan tak beraturan.
"Pak, dengar saya? Buka mata sebentar." Ranu memasang sungkup oksigen sementara Cempaka merobek kancing kemeja lelaki itu dan menempelkan sadapan monitor jantung ke dada yang basah keringat. Garis di layar melonjak-lonjak—irama yang salah, jantung yang berpacu tanpa arah.
"ST elevasi," gumam Cempaka, menunjuk lengkung yang menanjak di layar. "Serangan jantung, Ran. Sungguhan."
"Aspirin," kata Ranu. Ia sudah mengeluarkannya dari tas trauma sebelum Cempaka mengangguk. Lelaki tua itu mengunyah pil dengan susah payah, matanya setengah terpejam. Ranu memasang jalur infus di punggung tangan yang keriput, tangannya bekerja cepat tapi tenang, seperti selalu. Menit-menit ini adalah miliknya. Di kabin ambulans, di lantai ruang tamu, di trotoar—di mana pun tubuh manusia sedang mencoba mati, Ranu tahu persis apa yang harus dilakukan. Yang tak pernah bisa ia kuasai adalah apa yang terjadi setelah pintu rumah sakit.
"RS mana?" tanya Cempaka sambil mengunci brankar.
"Sentana yang terdekat." Ranu menyebutnya dengan getir yang hanya Cempaka yang paham.
Perempuan tadi—keponakan pasien, rupanya—sudah menempel di telinganya sendiri, bicara di telepon. "Sudah kutelepon Mas Bagas. Dia bilang tinggal masuk saja, ranjangnya sudah disiapkan."
Ranu berhenti sejenak. Ranjang yang sudah disiapkan. Ia pernah berdiri di depan pintu RS Sentana sambil menggendong seorang buruh yang membiru, dan dijawab bahwa tak ada ranjang, tak ada deposit, tak ada tempat. Ia menelan kalimat itu bulat-bulat dan mendorong brankar ke ambulans.
Sepanjang jalan Cempaka memompa data ke radio, dan Ranu mendengar sesuatu yang jarang ia dengar: suara di seberang yang ramah, yang menyahut cepat, yang menyebut "sudah kami tunggu, Pak." Di depan IGD RS Sentana, dua perawat sudah berdiri dengan kursi dorong dan seorang dokter jaga yang biasanya tak pernah keluar. Pintu geser terbuka tanpa perlu didorong. Tak ada formulir yang ditahan, tak ada pertanyaan soal siapa yang menanggung, tak ada meja yang mengoper ke meja lain. Lelaki tua itu meluncur masuk seperti air yang menemukan salurannya.
Ranu berdiri di ambang, memegang papan spinal yang tak jadi dipakai, menatap punggung-punggung yang bergegas mengurus pasiennya. Ia tahu tindakannya benar. Ia tahu jantung yang berhenti tak pernah bertanya siapa pemiliknya. Tapi ia juga tahu bahwa yang membuat pintu ini terbuka bukanlah nyawa lelaki tua itu, melainkan nama seseorang yang duduk di gedung dewan.
Anggota dewan itu tiba tiga puluh menit kemudian, saat Ranu dan Cempaka sedang membereskan kabin. Ia turun dari mobil dengan wajah lega yang tulus, menghampiri Ranu, dan menjabat tangannya erat-erat. "Terima kasih. Sungguh. Paman saya satu-satunya keluarga yang tersisa," katanya. Seorang yang membawa kamera muncul entah dari mana, dan blitz menyala. Anggota dewan itu merangkul bahu Ranu, tersenyum ke arah lensa. "Ini pahlawan kita. Inilah wajah pelayanan yang harus kita banggakan."
Ranu membiarkan dirinya difoto. Ia tak tersenyum, tapi juga tak menepis. Di kepalanya, bukan lelaki tua di ranjang yang muncul, melainkan seorang perempuan tua di Gang Kenanga yang pernah ia bawa ke tiga pintu berbeda, dan ketiganya menolak. Perempuan itu tak punya keponakan yang bisa menelepon Mas Bagas. Perempuan itu meninggal di kabin ini, di brankar yang sama yang baru saja mengantar seorang paman anggota dewan melewati pintu tanpa hambatan.
"Kalau ada yang bisa saya bantu," kata anggota dewan itu, menyerahkan kartu nama, "jangan sungkan. Orang-orang seperti Anda ini yang harus dipermudah."
Ranu menerima kartu itu. Ia menatapnya sebentar—tinta emas di atas putih tebal—lalu memasukkannya ke saku dada. "Yang perlu dipermudah bukan saya, Pak," katanya pelan. "Tapi orang-orang yang tidak tahu nomor siapa yang harus ditelepon."
Senyum anggota dewan itu bergeming sedikit, seperti kalimat itu tak sepenuhnya masuk. Ia mengangguk sopan, tak paham, lalu berbalik masuk menemui pamannya.
Di dalam ambulans, Cempaka menutup pintu belakang dan bersandar. "Kau lihat mereka? Perawat sampai berdiri di pintu. Aku belum pernah lihat Sentana selincah itu."
Ranu menyalakan mesin. "Aku juga," katanya. "Cuma sekali ini."
Ia memutar setir keluar dari halaman IGD yang bersih. Radio berdesir sebentar, lalu diam. Di jok, kartu nama itu terasa berat di sakunya—bukan karena harganya, melainkan karena apa yang dibuktikannya. Bahwa ranjang selalu ada. Bahwa pintu bisa terbuka dalam sembilan menit. Hanya saja, tidak untuk semua orang. Dan selama ia tak bisa menyalin sembilan menit itu ke setiap gang di kota ini, pujian di depan kamera tadi terasa seperti sesuatu yang harus ia bayar, bukan yang ia terima.