Telepon itu masuk pukul sepuluh malam, saat Ranu baru saja menaruh gelas kopi yang sudah dingin di meja Pos Sangkala. Nomor tak dikenal. Ia hampir mengabaikannya, tetapi ada sesuatu dalam getaran ponsel di lantai sepi itu yang membuatnya mengangkat.
"Mas Ranu?" Suara perempuan muda, tercekat. "Ini Lastri. Ibu... Ibu jatuh di dapur. Napasnya berat sekali, bibirnya membiru. Aku tidak tahu harus telepon siapa."
Nama itu—Lastri—menariknya berdiri sebelum otaknya sempat menyusun kalimat. Ia sudah tahu ke mana ini bermuara sebelum gadis itu menyebut alamatnya. Gang Kenanga Tiga. Kata-kata itu selalu jatuh ke dadanya seperti batu ke sumur tua.
"Berapa lama dia begitu?" Ranu sudah menyambar tas trauma, memberi isyarat pada Bu Harni yang menoleh dari meja dispatch. "Jangan ditidurkan telentang. Miringkan sedikit. Aku ke sana."
Cempaka menyusul tanpa banyak tanya, membaca wajah Ranu yang mengeras. Ambulans Sangkala Satu meluncur membelah malam Kota Sangkala, sirene memantul di dinding-dinding gang yang menyempit. Ranu menghafal jalan ini dalam mimpi buruknya. Tikungan yang sama. Selokan yang sama. Dua tahun lalu ia melewati jalan ini dengan seorang remaja bernama Wira di brankar, dan ia tidak pernah benar-benar keluar dari sana.
Rumah Bu Ipah kecil, lantainya lembap. Perempuan itu terbaring di lantai dapur, dada naik-turun terlalu cepat, kulit di sekitar bibirnya kelabu. Lastri berlutut di sampingnya, tangan gemetar memegang lengan ibunya. Ranu berlutut, memasang sungkup oksigen, membuka alirannya penuh.
"Bu Ipah, dengar suara saya? Ini Ranu." Ia menekan dua jari ke leher perempuan itu. Nadi cepat, tipis. Cempaka sudah menempelkan sadapan monitor jantung; garis di layar berlari terlalu kencang, tak beraturan di beberapa titik.
"Edema paru," gumam Cempaka. "Jantungnya kepayahan."
Ranu mengangguk. Bukan sesuatu yang bisa mereka tuntaskan di lantai dapur berbau minyak ini. Butuh rumah sakit. Butuh ranjang, butuh obat yang tak ada di tas trauma. Ia menatap wajah Bu Ipah—wajah yang pernah menangis di depan pintu ambulansnya dulu, wajah yang tak pernah sekali pun menudingnya. Justru itu yang membuatnya lebih sulit bernapas.
Mereka mengangkatnya ke brankar, menyusuri gang sempit dengan hati-hati. Di dalam kabin, Ranu menempelkan ponsel ke telinga sambil menahan sungkup pada tempatnya.
RS Sentana yang paling dekat. Ia menelepon lebih dulu, prosedur biasa.
"Malam. Ambulans Sangkala Satu, pasien perempuan lima puluh dua tahun, sesak berat, dugaan edema paru, saturasi delapan puluh dua." Ia mendengar suara di seberang menahan, menggantung.
"Sebentar, ya, Mas. Kami cek dulu ketersediaan. Pasiennya ada penjamin? Alamat mana?"
Ranu menutup matanya sesaat. Alamat. Selalu alamat. "Gang Kenanga Tiga, Tambaksari."
Jeda itu—ia sudah hafal jeda itu. Jeda yang panjangnya seperti seumur hidup. "Ranjang observasi kami penuh, Mas. Coba ke Karyahusada dulu, ya."
Ia tidak membantah, tidak berdebat. Malam ini bukan malam untuk berdiri di depan pintu. Ada perempuan yang paru-parunya perlahan tenggelam di belakangnya. Ranu memutus sambungan dan menekan nomor lain—nomor yang tersimpan sejak seorang dokter kelelahan menatapnya lurus di IGD dan berkata bahwa ia menolak menyerahkan pasien tanpa alasan.
"dr. Saraswati. Maaf malam-malam. Saya Ranu." Ia menelan sesuatu. "Saya butuh tolong. Bukan sebagai prosedur. Sebagai... titipan pribadi."
Ia tahu ia sedang menyeberang garis. Menelepon langsung, melompati alur penerimaan resmi, memakai nama seseorang untuk membuka pintu yang seharusnya terbuka untuk siapa saja. Aturan kecil yang ia bengkokkan. Cempaka meliriknya dari kursi kanan, tak berkata apa-apa, tapi Ranu tahu partnernya melihat.
"Bawa ke sini," kata dr. Saraswati di seberang, suaranya serak oleh lelah tapi tanpa ragu. "Saya siapkan. Langsung ke ruang tindakan, tak usah lewat pendaftaran dulu."
RS Karyahusada menerima mereka dengan pintu yang benar-benar terbuka. dr. Saraswati sudah menunggu di ambang IGD, rambut terikat asal, memberi instruksi bahkan sebelum brankar sepenuhnya masuk. Diuretik masuk lewat infus. Posisi setengah duduk. Dalam dua puluh menit, garis di monitor mulai jinak, warna kembali merayap ke bibir Bu Ipah, dan sesak yang mencekiknya melonggar sedikit demi sedikit.
Lastri menangis pelan di sudut, tangannya menutup mulut. "Terima kasih, Mas. Terima kasih."
Ranu tidak sanggup menjawab. Ia berdiri di lorong IGD, punggung menempel ke dinding dingin, menatap perempuan yang malam ini tidak jadi ia kehilangan. Satu nyawa. Ia menariknya kembali dari tepi. Seharusnya ada rasa lega, dan memang ada, tetapi rasa lega itu tipis dan getir, seperti pinggiran pisau.
dr. Saraswati keluar, melepas sarung tangan, berdiri di sampingnya. "Dia akan stabil. Malam ini beruntung."
Beruntung. Kata itu menusuk. Ranu memikirkannya. Bu Ipah tidak diselamatkan oleh sistem yang bekerja. Ia diselamatkan karena kebetulan Ranu punya nomor seorang dokter yang masih peduli, dan berani mengangkat telepon. Karena Ranu, malam ini, kebetulan mengenal seseorang.
"Kalau saya tidak punya nomor Anda," Ranu berkata pelan, lebih pada dirinya sendiri, "dia sudah dioper entah ke mana. Mungkin sampai terlambat."
dr. Saraswati menatapnya, dan tidak menyangkal.
Ranu memandangi pintu ruang tindakan itu, dan untuk pertama kalinya malam itu ia membiarkan pikiran yang selama ini ia hindari naik ke permukaan. Ia menyelamatkan Bu Ipah. Tapi berapa banyak Bu Ipah lain di malam ini, di gang-gang lain, tanpa Lastri yang punya nomornya, tanpa dokter yang mengangkat telepon? Berapa banyak yang alamatnya membuat mereka menunggu jeda panjang itu, jeda yang tak pernah usai?
Ia telah membengkokkan satu aturan untuk menyelamatkan satu orang. Dan justru karena berhasil, ia jadi tahu betul: masalahnya bukan satu orang. Masalahnya bukan malam ini. Masalahnya adalah pintu yang hanya terbuka bagi mereka yang kebetulan mengenal orang di baliknya.
Di luar, hujan mulai turun tipis di atas Kota Sangkala, dan Ranu tetap berdiri di lorong itu, tak lagi merasa cukup dengan satu yang selamat.