Ternyata bukan gang yang itu.
Tambaksari luas, dan Gang Kenanga bercabang tiga. Yang ini cabang yang berbeda—rumah berbeda, orang berbeda. Seorang kakek tujuh puluh dua tahun yang sesak karena paru-parunya basah, bukan hantu dari masa lalu Ranu. Ia menstabilkan kakek itu dengan oksigen dan posisi setengah duduk, membawanya ke puskesmas rawat inap terdekat yang untungnya mau menerima. Sepanjang perjalanan, jantung Ranu baru pelan-pelan turun dari tenggorokannya kembali ke tempatnya.
Cempaka tidak bertanya. Itu yang Ranu hargai darinya. Mereka sudah dua tahun jadi partner, dan Cempaka tahu kapan harus diam. Tapi Ranu menangkap matanya beberapa kali di spion, menimbang.
Kembali ke pos saat matahari sudah naik, mereka disambut bau kopi sachet dan suara Pak Sulastomo yang sedang mengomel pada radio kuno di pojok.
"Pertandingan tadi malam dirampok wasit," kata sopir senior itu tanpa menoleh. Rambutnya sudah putih semua, kulitnya keras seperti ban yang terlalu lama kena matahari. "Penalti jelas-jelas nggak dikasih. Sangkala ini memang kota yang nggak pernah dapat keadilan, dari bola sampai jalanan."
"Pak Sulas dramatis pagi-pagi," Cempaka melempar diri ke kursi. "Tujuh bulan lagi pensiun, masih sempat marahin wasit."
"Justru karena tujuh bulan lagi pensiun, saya boleh marah sesuka hati." Pak Sulastomo akhirnya menoleh, dan senyumnya melunakkan semua omelannya. Empat puluh tahun ia menyetir di kota ini—dari taksi, truk, sampai ambulans. Tidak ada gang yang tidak ia kenal, tidak ada jam macet yang tidak ia hafal. "Mana anak baru? Belum datang?"
Seolah dipanggil, pintu pos terbuka dan masuklah Gevira, paramedis termuda mereka, dengan wajah yang sudah pucat padahal shift-nya belum mulai. Tasnya terlalu rapi, sepatunya terlalu bersih. Tanda orang yang belum cukup lama di lapangan untuk berhenti peduli pada hal-hal kecil.
"Maaf telat, jalan macet di depan terminal," Gevira menunduk.
"Di kota ini, kalau kamu nungguin jalan nggak macet, kamu nggak akan pernah berangkat ke mana-mana," Pak Sulastomo terkekeh. "Aturan pertama jadi orang ambulans: macet itu bukan halangan, macet itu medan perang. Kamu belajar lawannya, atau kamu kalah tiap hari."
Ranu menuang kopi untuk dirinya dan untuk Gevira. "Duduk. Istirahat selagi bisa. Di sini, tenang itu mewah."
Dari ruang sebelah, kepala Bu Harni muncul. Wanita paruh baya itu menghabiskan separuh hidupnya di depan radio dispatch, dan suaranya—yang menenangkan ratusan penelepon panik—sudah jadi bagian dari pos ini seperti dinding dan atap. "Ranu, monitor jantung yang nomor dua ngadat lagi. Angkanya loncat-loncat. Sudah dilaporin ke dinas, katanya tunggu anggaran."
"Tunggu anggaran," Ranu mengulang, datar. Itu kalimat yang ia dengar sampai mati rasa. Tunggu anggaran untuk monitor. Tunggu anggaran untuk tabung oksigen yang cukup. Tunggu anggaran untuk unit ambulans kedua yang seharusnya ada sejak dua tahun lalu. Satu ambulans yang benar-benar berfungsi untuk melayani seperempat kota—itu bukan layanan gawat darurat, itu lelucon yang setiap hari ada yang membayarnya dengan nyawa.
Gevira memandang berkeliling, menyerap semuanya. "Cuma segini krunya?"
"Per shift, ya," jawab Cempaka. "Total kita ada belasan orang, dibagi tiga shift. Tapi yang benar-benar bisa diandalkan di lapangan? Yang kamu lihat di sini." Ia menunjuk dengan dagunya. "Ranu paramedis sekaligus sopir—dua peran, satu badan, karena kita kurang orang. Pak Sulas sopir. Saya perawat. Bu Harni di radio. Kamu, anak baru, dilempar ke kolam dalam dan disuruh berenang."
Gevira menelan ludah.
"Jangan ditakut-takutin," Ranu menyela. "Cempaka, dia juga dulu pucat di hari pertama."
"Aku nggak pernah pucat."
"Kamu muntah di belakang ambulans waktu kasus pertama."
Cempaka melempar bungkus kopi ke arah Ranu, yang menangkapnya sambil tertawa kecil. Untuk sesaat, ruang pos itu hangat—tawa kru yang tahu bahwa tawa adalah satu-satunya cara bertahan dari hal-hal yang mereka lihat tiap hari.
Lalu radio berbunyi.
Semua diam serentak. Itu refleks yang tertanam: saat radio bicara, dunia berhenti.
"Pos Sangkala," suara Bu Harni dari posisinya. "Ada laporan orang pingsan di kantor kelurahan Wanaraja. Diduga gula darah, riwayat diabetes. Sadar tapi lemas."
"Itu deket. Bisa kita," Ranu sudah berdiri. "Gevira, ikut. Belajar dari yang ringan dulu."
Di perjalanan, Gevira gemetar memegang tas. "Saya... saya takut salah, Mas Ranu."
"Bagus. Yang nggak takut salah itu yang bahaya." Ranu menyetir tenang, menyelip di antara dua angkot yang berhenti seenaknya. "Dengar. Di lapangan, kamu nggak punya lab, nggak punya rontgen, nggak punya dokter di sampingmu. Kamu cuma punya mata, tangan, dan otakmu. Lihat pasien, dengar napasnya, raba nadinya. Tubuh manusia itu memberi tahu, asal kamu mau mendengar."
Pasien di kelurahan ternyata benar—gula darahnya anjlok. Lemas, keringat dingin, bicara melantur. Ranu membimbing tangan Gevira memasang infus, memberi cairan gula. Tangan anak itu gemetar di tusukan pertama, gagal. Ranu tidak memarahinya. Ia hanya memegang lengan Gevira, menstabilkannya. "Pelan. Tarik napas. Yang kedua." Tusukan kedua masuk. Wajah Gevira berubah—campuran lega dan tak percaya pada dirinya sendiri.
Dalam dua puluh menit, pasien sadar penuh, bisa duduk, bisa bicara normal. Bukan kemenangan dramatis. Hanya seorang ibu setengah baya yang lupa makan dan kini bisa pulang dengan selamat. Tapi di mata Gevira, Ranu melihat sesuatu menyala—pemahaman pertama bahwa pekerjaan ini, di balik teror dan kelelahannya, kadang menyimpan hal-hal kecil yang membuatnya layak.
Di perjalanan pulang, oksigen tabung cadangan mendesis pelan saat Ranu mengeceknya. Hampir habis lagi. Ia mencatat dalam hati untuk mengisi ulang—kalau stasiun isi ulang punya stok hari ini.
Radio berdesir. Bu Harni. Tapi kali ini suaranya cepat, lebih cepat dari biasa.
"Sangkala Satu, ada darurat. Pasar Wanaraja. Seorang ibu mau melahirkan di lapak, nggak sempat ke bidan. Air ketuban sudah pecah. Cepat."