Ranu menunggu sampai Pos Sangkala hampir sepi sebelum mengetuk pintu ruang Pak Damar. Lampu neon di lorong berdengung, satu batang di ujung berkedip seperti tak sanggup memutuskan hidup atau mati. Di tangannya, dua lembar formulir insiden yang sudah ia isi tiga kali; dua salinan pertama ia sobek karena tulisannya bergetar, karena kalimatnya terlalu marah, karena ia tahu setiap kata akan dibaca orang yang tak menginginkannya ditulis.
"Masuk," kata Pak Damar tanpa mengangkat kepala.
Ranu meletakkan formulir itu di meja, di antara tumpukan berkas dan cangkir kopi yang sudah membentuk cincin cokelat di dasarnya. Pak Damar menatap kertas itu sebentar, lalu menatap Ranu, lalu kembali ke kertas—seperti berharap benda itu lenyap kalau dipandang cukup lama.
"Laporan insiden," kata Ranu. "Kasus perancah di Simpang Arteri Wanaraja, subuh kemarin. Pasien jatuh dari lantai tiga. Kami sudah pasang collar, sudah fiksasi di papan spinal, sudah pantau di monitor jantung. Kondisi stabil buat dipindah. Tapi RS Sentana menahan kami hampir dua puluh menit di depan pintu. Alasannya administrasi. Deposit belum ada, katanya. Dua puluh menit, Pak, buat pasien yang bisa jadi ada cedera tulang belakang."
Pak Damar menghela napas panjang. Ia menarik cangkir, meneguk kopi yang pasti sudah dingin, dan meletakkannya lagi tanpa suara. "Pasiennya selamat?"
"Selamat. Tapi bukan itu—"
"Kalau selamat, buat apa formulir ini?"
Ranu merasa sesuatu mengeras di rahangnya. "Karena lain kali mungkin tidak selamat. Karena dua puluh menit itu bukan milik administrasi, Pak. Itu milik pasien. Itu menit emasnya. Kalau kita diamkan, mereka pikir menahan ambulans di depan pintu itu hal biasa."
Di luar, sirene sebuah kendaraan lewat di jalan raya, meninggi lalu memudar. Pak Damar seolah menunggu suara itu habis sebelum bicara lagi. Ketika ia menatap Ranu, matanya bukan mata atasan yang marah, melainkan mata orang yang lelah dengan sesuatu yang jauh lebih tua dari malam ini.
"Kamu tahu apa yang terjadi kalau formulir ini masuk?" Pak Damar mengetuk kertas itu dengan telunjuk. "Ini bukan cuma nyeberang ke meja saya. Ini nyeberang ke Dinas. Ke rumah sakitnya. Dan RS Sentana bukan warung, Ranu. Direkturnya, dr. Prayoga, punya telepon yang bisa sampai ke tempat-tempat yang kamu dan saya tak pernah lihat isinya."
"Jadi kita biarkan?"
"Saya tidak bilang begitu." Pak Damar bangkit, berjalan ke jendela yang menghadap halaman pos, tempat Ambulans Sangkala Satu terparkir dengan lampu mati dan bodi masih bercak lumpur kemarin. Ia berdiri membelakangi Ranu. "Saya di sini sudah dua puluh dua tahun. Saya kenal pos ini waktu kita cuma punya satu ambulans dan radio yang separuh mati. Yang menjaga pos ini tetap hidup bukan formulir, Ranu. Anggaran. Dan anggaran itu ditandatangani orang-orang yang makan siang dengan dr. Prayoga."
"Jadi kalau saya laporkan penolakan itu—"
"Kalau kamu laporkan, mereka akan cari cara. Bukan besok. Bukan dengan gebrakan. Tapi pelan-pelan. Jatah bahan bakar dikurangi. Penggantian alat ditunda. Shift kamu diatur ulang sampai kamu capek sendiri." Pak Damar berbalik. "Dan yang kena bukan cuma kamu. Cempaka. Gilang. Bu Harni yang tinggal menghitung hari sampai pensiun. Anak-anak kita semua."
Ranu diam. Ia teringat wajah pekerja bangunan itu di subuh yang basah, bibirnya membiru sedikit, matanya mencari-cari di antara wajah-wajah yang menunduk membaca kertas. Ia teringat suara Cempaka yang menahan geram sambil terus menekan sungkup oksigen. Ia teringat—dan ini yang paling tak bisa ia usir—sebuah gang sempit dua tahun lalu, brankar yang tak sempat sampai ke mana-mana, dan sebuah nama yang tak pernah benar-benar hilang dari dadanya.
"Saya tahu Bapak tidak salah," kata Ranu akhirnya, pelan. "Tapi kalau kita hitung terus siapa yang kena, kita tidak akan pernah masukkan satu formulir pun."
Pak Damar memandangnya lama. Ada sesuatu yang bergerak di wajah itu—bukan persetujuan, tapi juga bukan penolakan penuh. Rasa terjepit yang tak punya tempat untuk mendarat.
"Saya bukan menyuruh kamu diam," katanya, suaranya turun. "Saya cuma minta kamu mengerti harganya sebelum kamu bayar. Karena begitu formulir ini masuk, tidak ada tombol untuk menariknya kembali."
Ia mengambil kertas itu, membacanya sekali lagi dari atas ke bawah. Jari-jarinya berhenti di kolom waktu—jam kedatangan, jam pasien diterima, selisih dua puluh menit yang ditulis Ranu dengan tinta hitam tebal. Pak Damar menahannya di udara, seolah menimbang berat dua salinan yang tak kelihatan.
"Tinggalkan di sini," katanya. "Biar saya pikir dulu."
"Bapak akan meneruskannya?"
"Saya bilang, biar saya pikir." Pak Damar meletakkan formulir itu di laci meja, bukan di tumpukan berkas keluar, bukan pula di keranjang buang. Sebuah tempat di antara. "Malam ini kamu masih ada shift. Urus itu dulu. Jangan bawa perang ini ke kabin. Pasien tidak butuh paramedis yang pikirannya di ruangan ini."
Ranu mengangguk. Ia berbalik ke pintu, lalu berhenti dengan tangan di gagang. "Pak."
"Apa lagi."
"Ayah saya mantri desa. Kalau ada orang sakit tengah malam, dia bangun. Dia tidak pernah tanya dulu orang itu punya deposit atau tidak." Ranu tidak menoleh. "Saya cuma tidak mau jadi orang yang bertanya duluan."
Ia menutup pintu pelan di belakangnya. Di lorong, lampu neon di ujung akhirnya menyerah, padam, meninggalkan sepetak gelap yang harus Ranu lewati untuk keluar. Ia melewatinya tanpa memperlambat langkah. Di halaman, Ambulans Sangkala Satu menunggunya dengan bodi berlumur lumpur kemarin, dan malam yang baru saja mulai.