Om Ryan membari jarak setelah cukup lama. Aku yakin wajahku pasti sudah bersemu merah saat ini. Mataku masih memejam, lalu membukanya secara perlahan. Kulihat wajah Om Riyan masih di depan wajahku dengan senyuman. Aku yang terbiasa bicara tanpa jeda kali ini hanya diam, sementara Om Ryan masih tak berhenti menatap. Saat ia akan kembali mendekat, aku menahan dadanya dengan tanganku yang menekuk di tengah-tengah d**a kami.
"Kenapa, Kay?" tanyanya lirih.
Aku bahkan sampai menelan salivaku beberapa kali. Dia masih bertanya mengapa? Harusnya dia paham ini yang pertama buatku, aku tak akan bisa semudah ini melewatinya.
"Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanyanya dengan wajah sedikit menunduk, memperhatikan.
"Om, aku ... aku haus."
"Kamu mau minum?"
Aku mengangguk samar. Om Ryan beranjak dan berjalan ke arah dispenser untuk mengambilkanku minuman, tapi sebelum dia kembali aku sudah berkelebat melarikan diri masuk ke kamar.
"Kay, katanya haus?!" teriaknya.
"Udah nggak lagi, Om!" balasku, langsung menutup pintu kamar rapat-rapat.
Aku memegang d**a yang detaknya masih tak beraturan. Kemudian pelan meraba bibirku sendiri.
‘Ya Tuhan, kenapa rasanya seperti itu? Aku merasa ... ingin melakukan hal yang lebih dari itu.
Astaghfirullah, Kayla! Sadar! Sadar!’ Aku memukul kepalaku sendiri, kesal.
***
Hingga Om Ryan berangkat bekerja aku tak tahu sama sekali, karena pintu masih saja tertutup rapat. Aku tak mau bertemu dengannya sementara waktu, malu. Entah bagaimana nanti malam saat ia pulang. Tidak lama setelah Om Riyan pergi bekerja, diam-diam aku juga pergi menuju ke perkebunan dimana rumah ayah berada. Sampai di rumah Ayah, ternyata beliau tidak ada, jelas saja dia, ‘kan pergi bekerja. Untungnya aku membawa kunci serep rumah sejak dulu, sehingga bisa masuk. Ya ampun, Rumah kami sangat berantakan.
Jika biasanya Ayah melarang aku melakukan apa saja, kali ini aku bebas membereskan rumah. Aku bisa menyapu, meskipun kata Ayah tidak bersih. Aku bisa meletakkan bantal dan menyusunnya di kamar, meskipun beliau bilang kurang rapih. Aku juga bisa melipat selimut meskipun tidak serapi lipatan ayah, tapi ya itu, setelahnya, keringat mengucur sebesar-besarnya biji jagung di wajah. Setelah membereskan rumah Ayah aku memutuskan menunggunya. Karena bosan aku meneleponnya.
"Ya, Assalamualaikum, Kay. Kenapa?"
"Ayah, aku di rumah, jam berapa pulang. Eh, jangan bilang-bilang sama Om Riyan, ya!"
"Loh kenapa emang?"
"Aku soalnya nggak bilang datang ke sini."
"Oh." Kemudian terdengar Ayah berteriak. "Pak Riyan, istri Anda pergi dari rumah menuju ke rumah Ayahnya."
"Oh gitu, makasih laporannya ya, Pak!"
Aih, Ayah!
Aku memejamkan mata, lalu mematikan teleponnya. Tidak berapa lama terdengar suara deru mobil dari luar.
Tok!tok!tok!
"Kay, Assalamualaikum. Om tahu kamu di dalam. Kamu ngambek?"
Aku diam saja, duduk di balik pintu.
"Karena Om cium kamu tadi pagi, ya?" Lalu hening.
"Kay, kamu tahu nggak Ayah bilang apa pas dia minta aku nikahin kamu?" Aku masih diam, tapi telingaku terus mendengarkan ia bicara di luar sana. "Katanya begini : Pak Riyan, saya tahu mungkin saya lancang. Saya memiliki seorang anak gadis yang manis, sayang saya mengasuhnya dengan cara yang salah menurut orang-orang. Ya, saya terlalu memanjakannya sehingga sampai ia berumur 18 tahun sikapnya masih seperti anak-anak. Saya hanya kasihan dan tidak tega ia melakukan apa saja. Jika ingat ibunya, lalu ingat kata-katanya itu membuat saya bersedih dan inginnya ia hidup enak tanpa beban. Saya tahu Anda sedang sibuk mencari jodoh.
Bahkan sudah beberapa orang sudah menawarkan beberapa wanita untuk Anda nikahi dan saya dengar Anda menolaknya. Mungkin saya bodoh menawarkan anak saya kepada Anda, mengingat anak saya tidak bisa melakukan apa-apa. Apa yang bisa dibanggakan dari seorang Kayla, tapi saya tetap dengan keyakinan saya. Jika Anda berkenan, nikahi anak saya. Tidak ada laki-laki lain yang lebih baik dari Anda di mata saya. Kesabaran Anda, kedewasaan Anda dan cara Anda bermain pun menghadapi anak-anak sangat telaten juga sabar, sehingga saya yakin anak saya berada pada pria yang tepat jika menikah dengan Anda."
Mendengar cerita Om Riyan membuat hatiku dilanda gerimis. Aku buru-buru menghapus air mata, dan berdiri. Aku yang sejak tadi diam, akhirnya tertarik untuk bertanya. Kubuka pintu dan kini kami berdiri berhadapan. Aku mempersilakannya masuk, lalu kami duduk berseberangan meja. Sempat ada jeda hening di antara kami, lalu membuka obrolan.
"Apa yang membuat Om mau menerima tawaran Ayah?"
Om Ryan diam, seolah menyiapkan sebuah jawaban. Tangannya bergerak merogoh saku celana, lalu mengambil dompet di sana. Detik berikutnya ia sudah membuka dompet itu dan mengambil sesuatu. Ternyata sebuah foto. Ia meletakkan foto itu ke meja, lalu menggesernya lebih dekat ke arahku.
"Foto siapa ini?" tanyaku bingung.
"Coba lihat baik-baik foto itu."
Aku meraih foto itu dan mengamatinya. Seorang gadis belia dengan senyum semringah. Wajahnya mirip sepertiku. Giginya rapi di pagar. Foto siapa ini?
"Dia Alana, adikku, Kay. Dia meninggal diusia 17 tahun, pas di hari kelahirannya. Melihatmu ... mengingatkanku dengannya. Sejak pertama kali melihatmu aku merasa Alana kembali ke dunia ini. Manjamu, tawa riangmu dan sikapmu sama persis dengannya."
"Jadi, Om mau menikahiku karena aku mirip Alana?"
"Awalnya, iya. Tapi seminggu bersamamu, tumbuh rasa sayang yang sesungguhnya."
"Sebagai adik?"
"Entah. Aku belum bisa menyimpulkannya. Yang aku tahu, aku ingin selalu ada buatmu, ingin selalu melindungimu dan rasa sayang ini nyata buatmu."
"Harusnya aku tahu, mana mungkin laki-laki matang dan sempurna seperti Om mau menikahi bayi besar sepertiku."
"Kamu ... marah?"
Aku menggeleng. Hanya saja entah mengapa, aku merasa sesak saat sadar dia menganggapku adik, bukan istri. Aku mendengkus tertawa, iyalah sebagai adik, mana ada seorang pria yang tampan dan mapan mau menikahi wanita sepertiku. Istri yang tak bisa melakukan apapun.
"Maaf jika ini menyakitimu. Nanti Om jemput setelah Om pulang kerja."
Aku diam saja. Membuang pandangan ke arah yang lainnya. Pria berwajah tampan dan matang itu beranjak, mengucap salam kemudian berlalu pergi dari halaman rumah membawa mobilnya. Mengapa ada yang berbeda di hatiku? Bukankah aku juga belum ada rasa apa-apa dengan pria itu? Tapi mengapa rasanya ada yang nyeri saat aku tahu, dia mau menikahiku hanya karena aku mirip dengan Alana, adik kesayangannya.
***
Tepat pukul 5 sore Ayah dan Om Ryan datang bersama. Mereka nampak akrab berbincang di halaman rumah. Duduk di kursi teras sambil menikmati racinkan kopi torabika.
"Kay! Kay!"
Teriak Ayah dari luar sana. Gontai aku melangkah ke arah luar untuk menemui mereka. Wajah Om Riyan tetap terlihat semringah seperti biasanya.
"Duduk sini, Nak!"
Perintah Ayah. Aku menurut, duduk di sebelahnya. Ayah tersenyum melihat wajahku yang cemberut.
"Kenapa? Lain kali nggak boleh pergi dari rumah tanpa ijin sama suami."
"Aku mau bilang, tapi takut nggak boleh, Yah. Lagian Ayah kenapa sih nggak tinggal sama kami saja?"
"Ayah nggak bisa ninggalin rumah ini. Ayah tidak ingin hidup ketergantungan dengan anak sendiri. Lebih enak dan lebih leluasa jika hidup seperti ini, Kay."
"Tapi kan Ayah sudah tua." Aku terus memaksa.
"Pak, tidak ada salahnya tinggal bersama kami di sana."
"Terima kasih Pak Riyan, tapi saya merasa nyaman seperti ini. Untuk sementara biarlah seperti ini. Jika saya rindu dengan Kayla, saya akan main ke sana, begitu juga sebaliknya. Saya juga mohon maaf kalau Kayla sering menyusahkan."
Om Riyan hanya tersenyum mendengar penuturan ayah. Pria berumur 30 tahunan itu menunjukkan barisan giginya yang rapi.
"Kalau menyusalkan tidak, Pak. Alhamdulillah saya masih sanggup menghadapinya. Eh, panggil Riyan saja, Pak. Jangan 'Pak Riyan' saya jadi kikuk mendengarnya."
"Jangan, Pak. Jangan mentang-mentang Anda menantu saya, jadi saya seenaknya memanggil Anda dengan sebutan nama. Tolong, biarkan saya tetap memanggil Anda dengan sebutan itu."
"Baiklah kalau Bapak memaksa. Karena ini posisinya di rumah, buka di kebun, sehingga kalau bisa panggil nama saja, Pak. Rasanya kok formal sekali di panggil Bapak."
Mereka terus berbincang membicarakan banyak hal. Sementara aku masih menekuk wajah, memikirkan pembicaraanku dan Om Riyan saat berdua tadi. Apa aku harus merubah diri supaya Om Riyan tidak lagi menganggapku adiknya? Supaya dia bisa menganggapku sebagai istri sepenuhnya? Tapi, apa yang harus kulakukan?
***
Suasana perjalanan ke rumah dilanda kesunyian. Om Ryan fokus menyetir mobilnya, sesekali menoleh hanya untuk melempar senyum menawan. Jika dia menganggapku adik, lalu apa maksudnya menciumku tadi pagi? Tanyakan, jangan? Tanyakan, jangan? Tanyakan, jangan? Tanyakan. Oke baiklah akan aku tanyakan.
"Om."
"Ya?"
"Aku mau tanya sesuatu."
"Silakan, Kay."
"Yang Om lakukan tadi pagi, atas dasar apa?"
"Yang mana?"
"Yang tadi pagi, pas di meja makan."
"Kita makan mie kan?"
"Bukan, yang satunya."
"Yang mana, Kay?"
"Waktu aku niup mie."
"Ya supaya mie nya nggak panas lagi."
"Bukan yang itu, Om."
"Lalu?"
Hening. Aku memberanikan diri untuk mengatakannya, tapi kenapa malu sekali rasanya. Ah, jadi terbayang lagi kan kejadian tadi pagi.
"Kay, katanya mau bilang."
Aku meremas tas selempangku kuat-kuat. Khawatir, takut dia menertawakanku. Baik, akan kutanyakan. Aku memejamkan mata bersiap akan bertanya. Oke, satu, dua, tiga. Mata memejam, lalu berkata dengan cepat.
"Atas dasar apa om menciumku tadi pagi?!"
Langsung saja kuangkat tas ke depan muka untuk menutupi wajah, malu.