Udara dingin pada malam ini terasa menusuk hingga ke tulang. Tubuh menggigil kedinginan lantaran udara malam yang kelewatan dinginnya. Padahal bulan ini belum memasuki musim dingin.
Mau berpikir seberapa kritis dan cermatpun Hysteria tak menemukan jawabannya. Menurut ramalan cuaca pada hari ini tak akan ada badai atau semacamnya, tetapi sekarang udara terasa dingin menusuk serta kabut pun yang mulai naik menutupi pandangan.
Ini pertama kalinya ia merasakan dingin sehebat ini. Sebelumnya, walaupun akan terjadi hujan, dingin tak akan seberlebihan ini.
Sambil mengetatkan hoodienya, Hysteria berjalan menyusuri jalan setapak yang begitu sunyi. Kresek belanjaan digenggamnya dengan erat.
Tanda-tanda kehidupan tak terlihat sedikitpun. Hanya dialah satu-satunya orang yang terlihat di jalan sepi itu.
Lingkungan di malam hari seperti ini sudah biasa ia dapatkan. Sepi dan mencekam sudah biasa ia hadapi. Jadi, Hysteria tak lagi merasa takut..., mungkin.
Hysteria lebih sering merasa was-was jika saja menemukan orang asing berkelakuan aneh di sekitar lingkungan perumahannya.
Dan benar saja! Apa yang selama ini membuat dia khawatir telah terjadi.
Berjalan selama beberapa menit menuju rumah. Ketika sampai, Hysteria malah mendapati sesosok asing yang tengah berdiri di depan rumahnya. Terlihat begitu menyeramkan membuat bulu kuduk Hysteria meremang seketika.
Di depan sebuah rumah ber-cat merah dengan dua lantai. Terdapat seorang pria yang tengah berdiri diam sambil memandang rumah tersebut. Pria itu mengenakan setelan jas sambil memegang sebuah koper, tak lupa di kepalanya terdapat sebuah topi fedora yang membuat pria tersebut semakin misterius.
Pria itu sangat asing bagi Hysteria. Di perumahan ini tak ada seorangpun yang berciri-cirikan seperti pria itu.
Sejak tadi Hysteria telah berhenti di samping sebuah pohon yang tumbuh di pinggir jalan raya. Rasa penasaran Hysteria terasa begitu kuat ketika melihat sosok yang tengah menatap rumahnya dengan begitu intens.
Hysteria memutuskan untuk bersembunyi sekaligus memperhatikan sosok misterius tersebut. Saat ini dia benar-benar ingin menelpon 911 untuk melapor pria misterius itu. Sayangnya dia meninggalkan ponselnya di rumah dan di sekitarnya tak terdapat telpon umum.
Sejak tadi Hysteria menunggu dengan perasaan panik. Sepuluh menit telah berlalu, tapi pria itu tak kunjung pergi. Posisinya masih sama dan dia masih bergemim ditempat.
Hysteria menoleh kesana kemari untuk mencari pertolongan. Sayangnya lingkungan sekitarnya begitu sepi. Rumah-rumah di sekitarpun gelap tanpa pencahayaan, seolah-olah tak berpenghuni.
Dalam hati gadis itu terus bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang harus dia lakukan? Ingin maju ia takut. Ingin pergi, takutnya pria itu langsung menerobos masuk dan membunuh neneknya yang ada di dalam rumah.
Terus berperang dengan batin, akhirnya Hysteria menentukan pilihannya.
Gadis remaja itu memutuskan untuk menghampiri si pria asing yang tengah berdiri di depan rumahnya. Dari postur tubuhnya yang agak bungkuk dan kulitnya yang kriput, sepertinya pria itu adalah kakek tua. Gadis itu berpikir, akan mudah untuk menghadapi orang tua rentan.
Mereka pasti mudah untuk ditumbangkan, pikir Hysteria sambil berusaha untuk menguatkan tekad menghampiri kakek tersebut.
Jantung Hysteria berdegup kencang. Ada perasaan panik, takut, gugup dan khawatir menjadi satu. Aura misterius yang menguar dari diri pria tua itu membuat Hysteria meneguk ludah susah payah. Ketika mendekat kearah pria itu rasanya begitu menakutkan. Perasaan Hysteria semakin tidak enak ketika dia berdiri tepat di belakang kakek tua itu.
"Per–"
Belum juga menyelesaikan ucapannya. Mulut Hysteria langsung terkatup ketika melihat pria di depannya berbalik.
"Hysteria Kloves," ucap kakek tua itu dengan suara beratnya yang terdengar begitu dingin. Nadanya begitu datar, sedatar tatapannya menatap Hysteria. Mata biru kelamnya menatap Hysteria begitu dalam dan tajam, membuatnya terlihat semakin menakutkan.
Mendengar pria itu memanggil nama lengkapnya, sontak saja tubuh Hysteria membeku ditempat.
Bagaimana bisa pria tua ini mengetahui nama lengkapnya. Bahkan dia tak mengenalnya, melihatnyapun baru kali ini.
Pikiran Hysteria di penuhi oleh hal-hal negatif tentang kakek tersebut. Namun, belum juga mengambil tindakan untuk membela diri, ucapan kakek itu memutuskan niatnya.
"Suratmu." kakek itu menyodorkan Hysteria sebuah amplop berwarna coklat yang dilengkapi dengan sebuah bunga kecil berwarna merah.
Untuk sesaat pikiran Hysteria kosong. Surat? Surat? Surat?
"Y-ya?" bingungnya.
"Undangan dari Akademi Medhurst," jawab pria itu masih datar.
Masih dengan kebingguannya Hysteria menerima surat itu. Pikirannya saat ini masih kacau.
Baru juga beberapa detik dia memegang surat tersebut. Pria tua yang ada di depannya mengambil sebuah ranting kayu kecil berwarna coklat dengan panjang sekitar 30 cm. Sambil berucap, "Phlyttacio."
Pria tua itu langsung menghilang dalam sekejap mata tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Hawa dan aura menakutkannya pun hilang.
Hysteria yang sedari tadi melihat langsung jatuh ke atas tanah. Rasanya benar-benar terkejut ketika melihat seseorang melakukan trik sihir tepat di depan matanya.
Di liriknya surat yang tengah dia pegang dengan tangan gemetar.
Kantung belanjaannya serta isinya telah jatuh mengenaskan di atas tanah.
"Medhurst," gumamnya pelan.
Ekspresi yang tadinya terlihat takut sekaligus terkejut kini telah berganti dengan ekspresi senang.
°°°♡♡♡°°°
Hysteria menutup pintu rumahnya. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru ruang tamu dan ruang tengah. Gadis itu tak mendapati sosok sang nenek yang telah merawatnya sejak bayi.
"Nenek?" panggil Hysteria.
"Ya, sayang?" Seorang wanita dengan usia hampir satu abad keluar dari sebuah ruangan dan menghampiri Hysteria. "Kenapa lama sekali? Kenapa bajumu kotor begitu?"
"Ah!" sontak saja Hysteria menatap ke arah pakaiannya. Benar saja, pakaiannya kotor karena tanah. "Ini... Aku tidak sengaja jatuh."
"Kalau begitu segera bersihkan dirimu. Biar Nenek yang mengurus belanjaan ini." Zilka mengambil dua kantong kresek yang sedari tadi dipegang oleh Hysteria. Wanita tua itu berjalan menuju dapur untuk menata bahan masak yang dibeli oleh Hysteria.
Hysteria masih diam di tempat ketika neneknya berjalan menuju dapur. Ketika tubuh Zilka telah hilang dari balik pintu, buru-buru Hysteria menuju sebuah nakas yang ada di bawah tangga. Di bukanya sebuah laci dan mencari-cari kunci untuk membuka ruang penyimpanan. Ketika menemukan kunci yang cocok. Hysteria segera menuju sebuah pintu yang catnya terlihat lebih kusam dari pintu lainnya di rumah ini.
Sebuah pintu menuju basement. Hysteria membuka pintu tersebut, dan berhasil.
Ketika membuka pintu, debu-debu beterbangan menggangu pernapasan. Tanpa mematahkan niatnya, Hysteria menuruni tangga menuju sebuah lemari yang berada di bagian pojok. Dia membuka laci di deretan terbawah. Terlihat laci itu hanya diisi oleh sebuah kotak sepatu yang terlihat usang.
Hysteria mendudukkan dirinya di atas lantai sambil mengambil kotak tersebut. Maniknya terlihat berkaca-kaca ketika telah membuka kotak itu. Di dalam kotak itu terdapat sebuah bingkai foto. Foto tersebut menunjukkan dua insan berbeda jenis kelamin yang tersenyum bahagia menghadap kamera.
Hatinya menghangat menatap kedua orang tuanya yang terlihat begitu bahagia. Dalam ingatan Hysteria, gadis itu tak pernah melihat kedua orang tuanya secara langsung. Dia hanya melihat wajah kedua orang tuanya dari sebuah foto saja.
Kedua orang tua Hysteria telah lama meninggal dunia. Kedua orang tuanya telah meninggal ketika dia baru berumur tiga bulan. Terjadi sebuah kecelakaan yang mengakibatkan mereka berdua meninggal. Kecelakaan tersebut telah lama terjadi. Sekitar lima belas tahun yang lalu.
Selama ini Hysteria di asuh oleh Neneknya. Neneknya yang bernama Zilka telah mengasuhnya sejak ia bayi. Dia adalah seorang wanita tua yang telah kehilangan suami ketika masih muda. Dulunya dia hanya tinggal bersama anaknya, Tom Kloves. Namun, sekarang dia hanya tinggal bersama Hysteria.
Ayah Hysteria, yaitu Tom Kloves adalah seorang dokter. Tom Kloves rela keluar dari pekerjaannya demi mengikuti Istrinya ke sebuah kota rahasia. Kota yang rata-rata hanya di isi oleh para penyihir.
Sedangkan Ibu Hysteria, Rena Kloves adalah seorang penyihir. Rena merupakan seorang Professor yang mengajar di Akademi Medhurst. Rena adalah seorang penyihir yang tinggal di kota Medhurst. Berkat Renalah, Tom memilih untuk ikut pindah ke Medhurst.
Hubungan keduanya tidak direstui oleh Zilka, tetapi mereka masih meneruskannya sampai ke jenjang pernikahan dan telah memiliki anak. Ketika telah meninggal, Zilka memilih untuk merawat Hysteria karena Hysteria adalah anak Tom.
Orang tua Hysteria meninggal berkat insiden yang dinamakan kereta berdarah.
Insiden tersebut terjadi saat lima belas tahun yang lalu. Sebuah kereta yang mengangkut semua murid Akademi Medhurst beserta tenaga kerjanya mengalami sebuah kecelakaan yang cukup ganjil. Hampir semua penumpang kereta tersebut tewas di tempat dalam keadaan mengenaskan bersimbah darah, bahkan masinis dan para kondektur.
Seorangpun yang ada dalam kereta tersebut tak ada yang selamat. Ada laporan yang menyatakan bahwa empat orang penumpang dinyatakan hilang. Jasad penumpang tersebut tak di temukan dimanapun. Jadi, orang-orang menganggapnya telah meninggal dunia bersama para penumpang lainnya walaupun jasadnya tak ditemukan.
Berita tersebut sangat heboh hingga mengguncang dunia penyihir. Bahkan Kementrian Sihir ikut turun tangan menyelidiki kasus pembunuhan berantai sadis tersebut. Sayangnya pelaku pembunuhan semua penumpang sampai saat ini belum juga diringkus. Bagi para penyihir, kejadian lima belas tahun lalu adalah kejadian kelam yang menyisakan luka dan trauma bagi banyak orang. Bahkan Akademi yang harusnya ramai oleh para murid-murid, malah menjadi tak berpenghuni karena semua murid pada tahun tersebut telah meninggal dunia. Satupun murid yang bersekolah pada tahun tersebut tak ada yang selamat. Maka dari itu, kereta yang biasanya beroperasi kini telah dihentikan. Akademi Medhurst tak lagi menggunakan transportasi Kereta Api karena menyisakan trauma untuk banyak orang, terutama orang tua murid yang anaknya meninggal berkat tragedi kereta berdarah.
Orang tua Hysteria menggunakan Kereta Api tersebut. Ayah Hysteria yang seorang dokter bekerja sebagai tenaga kesehatan Akademi Medhurst dan Ibunya yang seorang tenaga pengajar. Kedua orang itu dinyatakan telah meninggal. Rena adalah salah satu dari empat orang yang dinyatakan hilang. Walaupun jasadnya tidak ditemukan, tapi Rena telah dinyatakan meninggal bersama dengan tiga orang hilang lainnya.
Sebenarnya Hysteria tak percaya jika Ibunya meninggal. Dia memiliki keraguan, Ibunya menghilang dan bisa saja masih hidup pada saat itu. Walaupun Ibunya memang meninggal pada lima belas tahun silam. Dia ingin mengetahui penyebab sebenarnya kematian kedua orang tuanya. Bagaimana bisa hampir seluruh penumpang dinyatakan meninggal di tempat dan bahkan pelakunya belum ditemukan. Bahkan kecatatan yang menyebabkan kecelakaan tidak di temukan pada Kereta tersebut.
Hysteria tidak ingin menjadi sok tahu karena menyelidiki kasus yang bahkan orang dewasa saja tidak bisa pecahkan, tapi, tetap saja Hysteria adalah seorang anak yang sejak bayi tak memiliki orang tua. Orang tuanya meninggal dalam sebuah insiden tragis, tapi titik terang kasus tersebut belum juga terlihat. Sebagai seorang anak yang telah di tinggalkan sejak bayi, tentu saja Hysteria ingin mengetahui kronologi lengkap kematian orang tuanya. Siapakah pembunuhnya, tujuannya dan lain sebagainya. Maka dari itu Hysteria memutuskan untuk menjadi murid Akademi Medhurst.
Selain menyelidiki kasus pembunuhan itu, dia juga dapat belajar sebagaimana seseorang yang keturunan penyihir. Garis keturunan penyihir tentu saja harus di lanjutkan. Hysteria juga tidak ingin menyia-nyiakan bakat yang telah diturunkan oleh Ibunya. Dia ingin belajar sihir dan sejak dulu dia memiliki cita-cita untuk menjadi tenaga pengajar untuk Akademi Medhurst. Dia memiliki cita-cita untuk mengajar para penyihir-penyihir muda, sama seperti yang dilakukan Ibunya.
Walaupun dia belum pernah bertemu Ibunya. Bagi Hysteri, Ibunya adalah panutan. Kisah-kisahnya yang di ceritakan oleh Bibinya membuat Hysteria mengangumi sosok Ibunya. Dan dia ingin menjadi seperti Ibunya, dia ingin menjadi seperti panutannya.
Mungkin Neneknya akan menentangnya dengan keras, tapi Neneknya tidak bisa menghentikannya dalam mengejar apa yang telah ia cita-citakan. Lagipula Zilka juga telah berubah. Zilka bukan lagi Neneknya yang dulu.
Zilka telah berbeda. Dia menjadi berbeda dari tahun ke tahun. Pribadi yang hangat dan penyanyang telah berubah. Di satu sisi dia terkadang terlihat ramah dan lembut, di sisi lain dia akan terlihat sangat menyeramkan hingga membuatnya ingin melarikan diri.
Mungkin karena fisik Hysteria yang semakin tumbuh dewasa semakin mirip dengan Rena, Ibunya. Dan orang yang paling di benci oleh Zilka adalah Ibunya. Menurut Zilka, Ibunya telah merebut putranya darinya. Rena merebut segalanya darinya. Hingga kebenciannya pun semakin besar.
"Hu uh..," helaan napas berat dikeluarkan oleh Hysteria. Neneknya benar-benar telah berubah.
Sudah cukup untuk nostalgianya. Hysteria kembali ke dunia nyata. Dunia abad-21. Tepatnya di tahun 2022.
Hysteria memilih untuk fokus membuka amplop surat berwarna coklat yang diikat dengan tali rotan. Sebuah bunga berwarna merah ikut dililit oleh tali rotan tersebut. Terlihat ada secarik kertas kecil bertuliskan nama Hysteria Kloves tertempel pada amplop tersebut.
_______________________________________
MEDHURST
School of Wichtcraft and Wizardry
Kepada,
Hysteria Kloves
XX XXXXXXXX
San Andreas
Dengan hormat,
Kami menginformasikan kepada Saudara/i, bahwa Anda telah diterima di Akademi Sihir Medhurst.
Silahkan temukan daftar terlampir yang diperlukan. Masa Penerimaan dimulai tanggal 1 Januari. Kami menunggu konfirmasi Anda paling lambat tanggal 28 Februari.
Sambil menunggu kabar dari Saudara/I, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Hormat saya,
Duscha Francois
Wakil kepala Akademi
_______________________________________
"Tunggu!" pekik Hysteria.
Hysteria semakin mendekatkan kertas tersebut pada wajahnya. "28 Februari?! Padahal sekarang tanggal 26 Februari. Tinggal dua hari lagi!"
Wajah Hysteria terlihat sangat panik. Pikirannya kini kacau untuk mencari jalan keluar dari masalah yang tengah ia hadapi.
Tiba-tiba nama Bibinya terlintas di pikirannya. Di dalam kotak sepatu yang ia ambil terdapat sebuah buku catatan kecil. Hysteria mulai membuka buku tersebut untuk mencari catatan yang sempat ditinggalkan oleh Bibinya.
_________
For My Love,
Hysteria, jika kau membutuhkanku atau merindukanku. Cukup tulis pada selembar kertas nama lengkap Bibi serta alasan mengapa kau membutuhkanku. Jangan lupa juga tulis namamu agar aku tahu bahwa keponakanku Hysteria yang membutuhkanku. Setelah semua itu kau lakukan, bakarlah kertas itu.
Love you
________
Itulah isi catatan yang ditinggalkan oleh Bibinya.
Hysteria mengikuti instruksi Bibinya. Gadis itu merobek selembar kertas pada buku tersebut. Tak lupa mengambil sebuah pena yang ada di dalam kotak sepatu.
Dia mulai menuliskan pesannya pada sang Bibi yang telah lama tak ia jumpai.
______
Dear Feyna Moger,
Bibi, aku membutuhkanmu.
Aku mendapatkan undangan dari Akademi Medhurst. Waktu penerimaan untuk murid baru akan segera berakhir dalam dua hari. Tolong bantu aku. Aku tidak tahu harus bagaimana.
Hysteria Kloves
_________
Hysteria mulai mencari-cari sebuah korek api pada ruang penyimpanan. Mungkin saja korek api ada di ruang penyimpanan.
Setelah lama mencari, akhirnya Hysteria menemukan korek api kayu.
Sambil berdoa dalam hati, Hysteria membakar surat tersebut hingga menjadi abu. Menunggu beberapa menit, tapi tak terjadi apapun.
Merasa bingung, Hysteria memutuskan untuk segara pergi dari ruang penyimpanan. Gadis itu takut jika sang Nenek memergokinya. Kotak sepatu yang ia temukan ikut ia bawa.
Dengan mengendap endap Hysteria keluar dari ruangan. Tak lupa ia mengunci kembali pintu dan buru-buru menuju lantai dua. Kamarnya terletak di lantai dua.
Dengan wajah lesuh gadis itu terduduk di atas ranjangnya. Ranjang yang biasa menjadi tempat menyenangkan untuk memanjakan diri dari keletihan kini tak manjur. Gadis itu tak henti-hentinya menghela napas berat, sebab pikirannya di penuhi oleh kegagalan dalam memasuki Akademi Medhurst dan memanggil Bibinya. Sungguh kegagalan yang tidak menyenangkan serta meresahkan.
Sorot Hysteria terlihat sedih ketika memandangi amplop surat coklat dengan sebuah bunga merah kecil menghiasinya.
Dalam pikiran Hysteria di penuhi oleh kegagalan. Bibirnya bergetar diikuti suara tangis yang dipendam. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangan gadis itu mengabur. Hampir saja setetes air mata lolos, jika tidak ada sebuah benda yang melesat cepat dengan kecepatan cahaya hingga menghancurkan kaca jendela dengan naasnya.
Sontak saja Hysteria bangun dari posisi duduknya diikuti sorot terkejut. Matanya membelalak kaget menatap sesosok makhluk berjubah hitam dengan pakaian minim yang tengah terbaring di atas lantai. Kaca jendela yang pecah berhamburan di atas lantai membuat Hysteria agak panik. Panik jika saja sosok berbaju minim dengan jubah hitamnya akan terkena pecahan kaca dan terluka.
Satu kata lolos dari bibir Hysteria. "Bibi!"
Hysteria menuju makhluk yang tengah terbaring di atas lantai bersama dengan sebuah sapu ajaibnya. Di goncang-goncangkan tubuh wanita dewasa itu dengan kepanikan.
"Bibi, Bibi, Bibi!" panik Hysteria.
"Hysteria! Apa itu tadi?!" pekikan dari Zilka mengundang atensi Hysteria. Wajahnya semakin panik ketika mendengar derap langkah mendekati kamarnya.
Buru-buru Hysteria keluar dari ruangan dan menutup pintu dengan rapat. Benar saja, dia menemukan Zilka yang sedang mendekati kamarnya.
"Suara gaduh apa itu tadi? Bahkan Nenek mendengar suara barang pecah," tutur Zilka memandang Hysteria curiga.
"Itu— a-aku tadi baru saja yoga. Dan ada pose yang mengharuskanku hanya bertumpu pada dua tangan. Jadi, aku kehilangan keseimbangan lalu jatuh. Tanpa sengaja aku menyenggol vas bunga. Maaf jika kegaduhan itu mengusik nenek. Aku akan membereskan kekacauannya." Hysteria menundukkan kepalanya, berusaha terlihat bersalah.
Zilka menatap gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kau yoga sambil memakai hoodie?"
"Ah, iya. Soalnya malam ini udaranya lebih dingin dari biasanya. Apa salah melakukan yoga dengan hoodie, Nek?"
Zilka menggeleng kecil. "Segera bersihkan. Hati-hati, nanti kau terluka."
Ketika Zilka telah meninggalkan Hysteria. Buru-buru Hysteria menuju kamarnya. Tak lupa ia mengunci pintu agar tak seorangpun dapat masuk ke ruang pribadinya.