Tembakan pertama terdengar sekitar tengah malam, jauh di tepi timur, dua letusan terpisah yang menggema di dinding lembah lalu padam. Maharani terbangun dari tidur tipisnya dan langsung tahu bunyi itu bukan petasan, bukan ban pecah, bukan apa pun yang bisa ia bohongi pada dirinya sendiri. Sirine siaga berbunyi pendek. Pos hidup dalam gelap.
Di menara, Wanto dan Bagas sudah memantau. Tembakan datang sporadis, tak beraturan, dari arah salah satu dusun di seberang. Bukan pertempuran besar; lebih seperti seseorang melepaskan kekerasan dalam ledakan-ledakan pendek, lalu diam, lalu mengulang. Setiap kali letusan terdengar, Maharani merasakan seluruh pos menahan napas, dan ia tahu yang paling sulit bukan ketakutan, melainkan disiplin untuk tidak menembak balik ke arah suara yang bahkan tak mereka lihat asalnya.
"Itu pelanggaran gencatan," bisik Oddie di sampingnya, untuk sekali tanpa lelucon. "Kenapa kita diam aja?"
"Karena kita tidak tahu siapa menembak siapa," jawab Maharani, mengulang yang ia pelajari, mencoba meyakinkan dirinya sebanyak meyakinkan Oddie. "Kalau kita tembak ke arah suara, bisa jadi kita membunuh korban, bukan pelaku. Dan kita melanggar mandat lebih dulu."
Kata-kata itu benar, dan terasa busuk di mulutnya.
Menjelang dini hari tembakan berhenti. Dan seperti yang sudah Maharani duga sejak letusan pertama, tak lama kemudian datang yang terluka. Bukan satu, kali ini. Sebuah gerobak ditarik tangan menanjak ke gerbang, dengan dua tubuh di atasnya dan beberapa orang berjalan di sampingnya, sebagian menangis, sebagian terlalu syok untuk bersuara.
Maharani menyambut di tenda, dan Adama, yang entah bagaimana selalu muncul ketika dibutuhkan, datang dengan wajah kelabu. Korban pertama seorang lelaki paruh baya, tertembak di bahu, sadar, bisa diselamatkan. Korban kedua seorang perempuan, lebih tua, dan begitu Maharani menyibak kainnya ia tahu. Luka di dada, sudah lama, sudah dingin. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali menutup wajah itu kembali dengan lembut dan menghadapi keluarga yang menatapnya dengan harapan yang ia harus hancurkan.
Ia merawat yang hidup. Membersihkan, menstabilkan, menjahit, memasang infus, bekerja dengan tangan yang tenang dan hati yang tidak. Lelaki itu, di antara erangan, terus mengucapkan sesuatu yang Adama terjemahkan dengan suara tercekat: mereka bukan tentara, mereka petani, mereka sedang tidur, orang-orang bersenjata datang dan menembak ke rumah-rumah tanpa alasan, lalu pergi secepat datang.
"Faksi mana?" tanya Maharani, tangannya tak berhenti bekerja.
Adama menerjemahkan pertanyaan itu, dan lelaki itu hanya menggeleng putus asa. Dalam gelap, dengan senjata yang sama, dengan kekerasan yang sama, faksi kehilangan namanya. Yang tersisa hanya korban dan pelaku, dan dari sudut pandang gerobak ini, keduanya tampak sama saja: orang bersenjata yang datang dari kegelapan dan membawa kematian.
Ketika fajar menyingsing dan situasi stabil, Maharani keluar dari tenda dengan tangan yang masih bau antiseptik dan darah. Adama mengikutinya. Mereka berdiri di tepi kompleks, memandang lembah yang perlahan terang, asap tipis mengepul dari satu titik di seberang.
"Boleh saya bicara jujur, Bu Bidan?" tanya Adama pelan. Maharani mengangguk. Penerjemah itu memandang sekeliling sebelum bicara, kebiasaan orang yang tahu dinding pun punya telinga. "Tembakan malam ini bukan kebetulan. Saya kenal pola seperti ini. Salah satu faksi sengaja melepaskan kekerasan kecil di dekat pos kalian, di mana mereka tahu kalian melihat tapi tidak bisa bertindak. Lalu mereka menyalahkan faksi seberang. Mereka tahu helm biru harus tetap netral, harus mendokumentasikan, harus menunggu. Maka mereka menjadikan netralitas kalian sebagai perisai. Mereka berkata pada rakyat: lihat, bahkan helm biru tidak menolong kalian, karena helm biru sebenarnya berpihak pada musuh."
Maharani menoleh tajam. "Untuk apa?"
"Untuk membuat rakyat membenci kalian. Atau untuk membuat rakyat bergantung hanya pada faksi, bukan pada kalian. Perdamaian itu buruk untuk orang-orang yang dapat kekuasaan dari perang, Bu Bidan. Selama perang berlanjut, mereka jadi pelindung. Kalau perdamaian datang, mereka cuma orang bersenjata tanpa pekerjaan." Adama menatap asap di seberang. "Kehadiran kalian di sini mengganggu mereka. Maka mereka belajar memakai aturan kalian sendiri untuk melawan kalian. Mereka tahu kalian tidak akan menembak. Mereka tahu kalian akan menunggu otorisasi. Dan mereka memainkan jeda itu seperti memainkan biola."
Maharani berdiri lama dalam diam. Ia datang ke sini percaya bahwa netral berarti adil, bahwa dengan tidak memihak ia berdiri di tanah moral yang aman. Sekarang Adama menunjukkan padanya kemungkinan yang lebih kelam: bahwa netralitas, di tangan yang licik, bisa diperalat. Bahwa dengan menolak memihak siapa pun, ia mungkin tanpa sadar memihak pihak yang paling pandai memanipulasi aturan. Bahwa diam, yang ia kira sebagai keadilan, bisa menjadi kaki tangan ketidakadilan.
"Kenapa kamu memberitahuku ini?" tanya Maharani akhirnya. "Kamu dibayar misi untuk menerjemahkan, bukan untuk membuka rahasia faksi."
Adama tersenyum tipis, senyum tanpa kegembiraan. "Karena saya capek menerjemahkan kebohongan dengan rapi, Bu Bidan. Karena suatu hari kalian akan pergi, rotasi kalian selesai, dan saya akan tetap di sini bersama mereka. Saya ingin setidaknya satu orang asing tahu kebenarannya sebelum pergi. Supaya ketika kalian menulis laporan kalian yang rapi itu, ada satu kalimat yang benar di dalamnya." Ia menatap Maharani lurus. "Dan karena saya pikir Anda satu-satunya yang akan percaya."
Ia berbalik dan pergi menuruni jalur, meninggalkan Maharani sendiri di tepi kompleks dengan fajar yang menguning dan asap yang menipis. Di bawah, sungai mengalir tenang seakan tak ada yang terjadi semalam, membawa apa yang dibawanya ke hilir, tak peduli, tak berpihak, persis seperti yang mandat perintahkan padanya untuk menjadi. Dan untuk pertama kalinya, Maharani membenci kata netral dengan sepenuh hatinya.