Sinyal satelit datang pada pukul setengah delapan pagi, dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba di lembah, sinyal itu penuh, stabil, tanpa putus. Maharani memandang layar tablet yang dipinjamkan petugas komunikasi di tenda penghubung. Wajah ibunya muncul utuh, tidak pecah, tidak membeku di tengah kalimat seperti biasanya. Selama berbulan-bulan ia merindukan justru ini: ibunya yang jelas, suara yang sampai tanpa terpotong. Tapi pagi itu, melihat wajah ibunya yang penuh dan tegang, Maharani menyadari sesuatu yang tak pernah ia duga. Sinyal yang putus dulu adalah belas kasihan. Ia bisa menyembunyikan banyak hal di balik gambar yang pecah.
"Rani," kata ibunya, dan suara itu bergetar. "Ibu lihat di televisi. Ada berita. Pasukan kita, helm biru, ada yang melanggar perintah. Ada yang masuk ke daerah perang. Mereka tidak sebut nama, tapi mereka bilang tenaga medis perempuan, dari Indonesia." Ibunya berhenti, menelan sesuatu. "Itu kamu, Nak?"
Maharani menatap layar. Di belakang ibunya ia bisa melihat dinding rumah mereka di Klaten, kalender lama, gantungan kunci yang ia kirim dari pelatihan bertahun-tahun lalu. Dunia itu terasa begitu jauh sehingga hampir tidak nyata, dan kini dunia itu menatapnya dengan ketakutan yang ia sendiri yang sebabkan.
Ia sudah menyiapkan jawaban. Sepanjang malam ia menyusunnya di kepalanya, di barak, di antara Wanto yang tidur gelisah di ranjang seberang. Ia bisa berkata bahwa itu salah paham, bahwa berita selalu melebih-lebihkan, bahwa ia baik-baik saja dan tak ada yang perlu dicemaskan. Ia bisa melindungi ibunya dari berat yang sesungguhnya. Itu hal yang baik untuk dilakukan, pikirnya. Itu hal yang dilakukan anak yang menyayangi.
Tapi ia memandang wajah ibunya, dan ia tahu ibunya akan tahu kalau ia berbohong. Perempuan yang membesarkannya sendirian, yang menjual jamu dari subuh sampai siang selama dua puluh sembilan tahun, yang membaca wajah pembeli untuk tahu siapa yang sungguh sakit dan siapa yang sekadar ingin diperhatikan — perempuan itu tidak bisa ditipu oleh anaknya sendiri.
"Itu aku, Bu," kata Maharani.
Ia mendengar ibunya menarik napas. Bukan teriakan, bukan tangisan. Hanya napas yang ditahan, seperti orang yang menerima pukulan yang sudah ia duga akan datang.
"Aku menyeberang sungai, Bu. Ada perempuan di seberang, namanya Fatou. Aku berjanji akan menolong waktu dia melahirkan. Malam itu desanya diserang. Aku tahu kalau aku diam, dia dan bayinya akan mati. Aku diperintahkan tetap di pos. Aku tidak patuh." Maharani berbicara pelan, kata demi kata, seperti meletakkan batu satu per satu. "Fatou hidup, Bu. Bayinya hidup. Banyak orang lain juga hidup. Tapi aku melanggar perintah, dan sekarang mereka sedang menentukan hukumannya."
Untuk waktu yang lama ibunya tidak bicara. Layar yang stabil itu menunjukkan setiap kerut di wajahnya, setiap perubahan kecil, dan Maharani membenci kejelasan itu. Sinyal yang putus akan menyembunyikan ini darinya. Sinyal yang penuh memaksanya melihat hatinya sendiri tergambar di muka perempuan tua di seberang benua.
"Kamu ingat," kata ibunya akhirnya, "waktu kamu kecil, kamu bawa pulang anak kucing yang ketabrak motor. Kakinya patah. Ibu bilang sudah, lepas saja, biar mati di luar, jangan dibawa masuk. Kamu nangis semalaman. Kamu bilang, kalau aku biarkan dia mati sendirian, aku ingat seumur hidup." Perempuan itu tersenyum tipis, senyum yang sebagian air mata. "Kamu obati kucing itu sampai sembuh. Pincang seumur hidup, tapi hidup. Ibu marah waktu itu. Tapi ibu juga... ibu tahu kamu tidak akan jadi orang yang bisa menutup mata."
Maharani merasa matanya panas. Ia menunduk sebentar, lalu menatap layar lagi.
"Ibu tidak mengerti soal mandat, soal perintah, soal hukuman tentara," kata ibunya. "Ibu cuma tahu satu hal. Kalau kamu pulang nanti dan kamu bilang kamu biarkan perempuan itu mati supaya kamu aman, ibu tidak akan kenal kamu lagi. Tapi kalau kamu pulang dan bilang kamu menolong dan kamu menanggung akibatnya, itu anak ibu. Itu yang ibu besarkan."
Sinyal mulai melemah sekarang, gambar mulai berpecah di pinggir, dan Maharani merasakan campuran lega dan kehilangan. "Adik gimana, Bu?" tanyanya cepat, ingin memegang percakapan ini sebelum putus.
"Dia baik. Sudah mulai magang. Dia minta ibu bilang..." Suara itu mulai terpotong. "...bangga... jangan dengar kata orang..."
"Bu? Ibu masih dengar?"
Gambar membeku, lalu menjadi kotak-kotak, lalu hitam. Tulisan kecil muncul: koneksi terputus. Maharani duduk memandang layar gelap itu, dan untuk pertama kalinya ia bersyukur sinyal kembali putus. Ia tidak perlu ibunya melihatnya menangis. Ada hal-hal yang lebih baik disampaikan lewat gambar yang pecah, dan ada hal-hal, ia menyadari, yang seharusnya disampaikan lewat suara yang jelas, betapapun mahal harganya. Pagi itu ia membayar harga keduanya.