Senin pagi, setelah warung dititipkan pada Acil Imah, Lily dan Arjuna berdiri di depan etalase Toko Emas Sejati. Kak Ina berdiri di antara mereka dengan gaya pengawal yang lebih galak dari Romy.
"Jaraknya satu meter, ya. Belum sah," bisik Kak Ina, membuat Lily tersipu dan Arjuna pura-pura sibuk memandangi gelang.
Pak Hamdan keluar dari ruangan belakang. Begitu melihat Lily, wajahnya langsung berseri-seri.
"Bu Lily! Masya Allah, lama tidak mampir."
"Assalamualaikum, Pak Hamdan."
Pak Hamdan melirik Arjuna yang berdiri kaku dengan kemeja batik yang sama seperti hari Sabtu, lalu melirik Lily lagi. Ia tidak bertanya apa-apa, tapi senyumnya mengatakan bahwa ia sudah menebak segalanya.
Lily memilih sebentuk cincin sederhana dan seuntai kalung tipis dengan liontin kecil berbentuk daun. Beratnya tidak sampai sepuluh gram. Arjuna membayarnya tunai.
Pak Hamdan sendiri yang membungkus perhiasan itu ke dalam kotak beludru biru. Lalu ia menulis surat pembeliannya dengan tulisan tangan yang rapi, membubuhkan cap toko, dan menyerahkannya pada Arjuna.
"Yang ini asli, Bu Lily," katanya sambil mengedipkan mata. "Saya jamin."
Lily tertawa. "Saya percaya, Pak."
Pak Hamdan merendahkan suaranya sedikit. "Bu, waktu itu mertua Ibu dan menantu barunya datang ke sini. Saya tidak cerita apa-apa soal barang yang Ibu jual kembali ke toko ini. Sampai hari ini, tidak ada yang tahu dari mulut saya."
"Saya tahu, Pak," jawab Lily tulus. "Terima kasih."
"Urusan pelanggan itu amanah, Bu," Pak Hamdan tersenyum. "Selamat, ya. Semoga yang ini awet."
****
Hari Minggu, ketika Rizal datang menjenguk anak-anak, Lily memintanya duduk di teras ruko. Ia ingin menyampaikannya sendiri, bukan lewat orang lain.
Rizal mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya tidak banyak berubah. Ia sepertinya sudah menduga.
"Juna sudah bilang ke aku dua minggu lalu," katanya akhirnya. Ia tersenyum kecil, getir. "Pantas dia enggak kawin-kawin."
"Mas ...."
"Enggak apa-apa, Ly." Rizal menatap Abi dan Husen yang sedang bermain kelereng di halaman parkir. "Dia lebih pantas. Dari dulu."
Arjuna, yang datang belakangan dan berdiri di dekat mobilnya, berjalan mendekat. Kedua kakak beradik itu saling menatap. Lily menahan napas, takut kejadian di parkiran beberapa bulan lalu terulang.
Tapi Rizal hanya mengulurkan tangannya.
"Jaga anak-anakku, Kak."
Arjuna menjabat tangan adiknya, cukup lama. "Kamu tetap papanya, Zal. Datang tiap Minggu."
"Iya." Rizal melepaskan tangannya, lalu berdeham. "Ibu nitip salam. Ibu bilang ... maaf. Dan Ibu mau datang."
****
Akad nikah dilangsungkan di rumah Romy di kampung, tiga minggu kemudian, pada sebuah pagi yang cerah.
Tenda besar dan pelaminan sengaja ditiadakan. Ruang tamu diperluas sampai ke teras, tikar-tikar digelar, dan tetangga-tetangga kampung datang membawa wadai dan doa. Bau masakan dari dapur Kak Ina bercampur dengan wangi melati yang dironce Acil Imah sejak subuh.
Lily memakai kebaya putih sederhana dan kerudung putih. Ia duduk di kamar Kak Ina, mendengarkan suara-suara dari ruang tamu. Jantungnya berdebar keras sekali, lebih keras daripada saat ia pertama kali menikah dulu.
Ketika ia mengintip dari celah pintu, ia melihat Bu Erna di sana. Duduk di kursi roda yang dibawa Rizal untuk perjalanan jauh, di sudut ruang tamu, memakai kerudung krem, sebelah tangannya memegang tasbih. Wajahnya masih sedikit miring karena sakitnya, tapi matanya basah dan tenang.
Lalu Lily melihat ke arah jendela. Di halaman, di dekat pohon jeruk bali milik Romy, mobil hitam Rizal terparkir. Rizal duduk di balik kemudi. Ia hanya mengantar ibunya, dan memilih menunggu di luar. Tapi ia juga tidak pergi.
Abi dan Husen duduk di samping Arjuna, memakai baju koko dan peci baru. Husen tidak berhenti bergoyang-goyang. Abi berkali-kali menyikutnya supaya diam.
Sebelum akad dimulai, Romy sempat masuk ke kamar dan berdiri di depan Lily. Beberapa saat ia tidak berkata apa-apa. Lalu ia mengusap kepala adiknya, persis seperti dulu, waktu Lily kecil dan baru jatuh dari sepeda.
"Kalau Mak masih ada, Ly, pasti Mak yang paling senang hari ini," katanya serak.
Lily mengangguk, matanya panas. Ia teringat lagi pesan ibu mereka, yang dulu ia kira sudah gagal. Ternyata pesan itu hanya butuh waktu untuk terbukti.
Romy kembali ke ruang tamu dan duduk di hadapan penghulu sebagai wali. Ia menjabat tangan Arjuna.
Suara Romy terdengar berat dan jelas saat mengucapkan ijab. Lalu suara Arjuna menyambutnya, lancar dan mantap dalam satu tarikan napas, dengan mas kawin seuntai kalung dan sebentuk cincin emas, dibayar tunai.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
"Saaah!" sahut Husen paling keras, terlambat setengah detik, membuat seisi ruangan tertawa.
Lily memejamkan mata di balik pintu. Dua kali dalam hidupnya ia mendengar kata itu ditujukan untuk dirinya. Yang pertama dulu, dengan mas kawin yang ia kira akan membawanya ke rumah tangga yang hangat. Yang kedua hari ini, di rumah kakaknya, dengan mas kawin yang kecil tapi asli, dari laki-laki yang sebelas tahun berdiri di dekatnya tanpa pernah meminta apa pun.
Ketika ia akhirnya keluar dan duduk di samping suaminya, Bu Erna mengulurkan tangan dari kursi rodanya. Lily menyambut tangan itu dan menciumnya. Bu Erna berbisik sesuatu yang tidak jelas karena bibirnya masih pelo. Tapi Lily mengerti. Ia sudah mendengar kalimat itu di rumah sakit, dan ia sudah memaafkannya sejak hari itu.
****
Sore harinya, setelah tamu-tamu pulang, Lily berjalan sendirian ke kebun jeruk di belakang rumah Romy. Ratusan pohon kecil berbaris rapi, daun-daunnya mengilap tertimpa cahaya matahari yang mulai condong. Belum ada satu pun yang berbuah.
Sabar, kata Kak Romy dulu. Paling cepat tiga tahun.
Lily menyentuh daun salah satu pohon. Ia teringat semua yang telah terjadi. Kotak merah berisi emas-emasan. Teras dengan ayunan besi. Rawon asin. Kalung putus di tangan Nessa. Toko Emas Sejati. Ruang sidang. Tangga dengan pegangan besi yang baru.
Ia hanya menolak terus-menerus menjadi keledai, dengan caranya sendiri. Tenang, sabar, dan selalu selangkah lebih dulu. Mungkin itu yang orang sebut main cantik.
Langkah kaki terdengar di belakangnya. Arjuna berhenti satu meter darinya, kebiasaan yang rupanya belum juga hilang.
"Sudah sah, Kak," kata Lily tanpa menoleh, menahan senyum. "Jaraknya enggak usah satu meter lagi."
Arjuna diam sebentar. Lalu ia melangkah maju, berdiri di samping Lily, dan ikut memandangi barisan pohon jeruk yang belum berbuah itu.
"Dua tahun lagi," katanya.
"Iya. Dua tahun lagi."
Lily menyandarkan kepala di bahu suaminya. Bahu yang ternyata tidak sedingin yang selama ini ia kira.
TAMAT