Sebulan setelah ketukan palu itu, ponsel Lily berdering di tengah kesibukan warung. Nama yang muncul di layar membuat jantungnya berhenti sesaat. Kak Juna. Bukan nomor tanpa foto itu, tapi nomor pribadinya, yang sudah bertahun-tahun tersimpan di ponsel Lily tanpa pernah sekali pun menelepon.
"Ly," suara Arjuna terdengar lebih berat dari biasanya. "Ibu jatuh di kamar mandi tadi subuh. Darah tingginya naik. Sekarang dirawat di rumah sakit umum."
"Ibu enggak apa-apa?"
"Sadar. Bicaranya agak pelo. Kata dokter harus dirawat beberapa hari." Arjuna diam sebentar. "Ibu nanya cucu."
Lily menatap panci soto yang mengepul. Ia teringat semua kata-kata yang pernah dilemparkan mertuanya. Keledai. Pemalas. Enggak berguna. Lalu ia teringat Husen yang memeluk neneknya di teras sambil berkata, nanti Husen main ke sini.
"Minggu aku bawa anak-anak, Kak," jawabnya.
****
Rumah sakit umum itu ramai dan berbau karbol. Bu Erna dirawat di bangsal kelas dua, di ranjang paling ujung dekat jendela. Wajahnya pucat, sebelah sudut bibirnya sedikit turun. Selang infus menempel di punggung tangan yang dulu begitu sering menunjuk-nunjuk.
Rizal duduk di kursi di samping ranjang, memegang mangkuk bubur. Ia sedang mencoba menyuapi ibunya, tapi caranya kikuk sekali. Sendoknya terlalu penuh. Bubur menetes ke dagu Bu Erna. Rizal panik, mencari tisu, menjatuhkan sendok, lalu memungutnya lagi.
"Pelan-pelan, Mas. Sendoknya jangan penuh-penuh," kata Lily dari ujung ranjang.
Rizal menoleh. Wajahnya terlihat lega dan malu sekaligus. "Ly ...."
"Nenek!" Husen sudah berlari ke sisi ranjang. Abi menyusul dengan langkah lebih hati-hati, membawa sekantong jeruk.
Mata Bu Erna yang sayu langsung berbinar. Tangannya yang tidak diinfus terangkat gemetar, mengelus pipi Husen. Bibirnya bergerak, mengucapkan sesuatu yang tidak jelas. Tapi Husen sepertinya mengerti. Ia meletakkan kepalanya di samping tangan neneknya.
Tak lama kemudian, sepasang suami istri tua masuk ke bangsal membawa sebungkus roti. Lily mengenali mereka. Bu Wati dan Pak Ibrahim, tetangga sepuh di ujung gang rumah lama. Dulu, Rizal sering menjadikan mereka contoh: lihat itu, sudah tua hidup menyendiri, semua anaknya laki-laki, tidak ada menantu yang mau mengurus.
Bu Wati menghampiri ranjang dan menggenggam tangan Bu Erna.
"Sabar, Na. Untung masih ada anak yang mau ngurus, ya," katanya, melirik Rizal dengan senyum tulus. "Anak laki-laki juga bisa, kok, asal mau. Anak-anak saya juga gantian jaga waktu Bapak sakit dulu."
Rizal menunduk dalam-dalam, menatap mangkuk bubur di tangannya.
****
Menjelang sore, Bu Erna memberi isyarat agar Rizal mengajak cucu-cucunya membeli es krim di kantin. Lalu, dengan gerakan tangan yang lemah, ia meminta Lily duduk mendekat.
Lily duduk di kursi yang tadi diduduki Rizal. Bu Erna menatapnya lama. Ketika bicara, suaranya pelan dan sedikit pelo, sehingga Lily harus mendekatkan telinga.
"Ly ... Ibu mau ngaku."
"Ibu istirahat saja dulu."
"Dengar dulu," Bu Erna menggenggam pergelangan tangan Lily. Genggamannya lemah sekali. "Dulu Ibu senang Rizal nikah sama kamu ... karena kamu kerja. Gajimu besar. Ibu pikir ... Rizal anak yang nurut. Gajinya bisa Ibu pegang. Gajimu buat kalian. Ibu yang suruh Rizal cepat-cepat melamar."
Lily diam. Ia sudah lama menduganya. Tapi mendengarnya langsung tetap terasa seperti ditusuk jarum.
"Ada lagi," Bu Erna menelan ludah dengan susah payah. "Kamu tahu ... kenapa Juna enggak mau dampingi Rizal nikah lagi?"
Lily menggeleng pelan.
"Dulu ... waktu Rizal pertama kali bawa kamu ke rumah ... Juna lihat kamu," Bu Erna memejamkan mata sebentar. "Ibu tahu. Ibu ibunya. Ibu lihat cara dia lihat kamu. Besoknya Ibu suruh Rizal cepat-cepat melamar. Juna itu ... enggak bisa diatur. Gajinya enggak bakal mau Ibu pegang. Rizal yang nurut."
Lily merasa dadanya sesak.
"Almarhum Bapak ... suruh Juna dampingi lamaran adiknya. Juna diam. Dia datang. Dia duduk paling belakang," air mata mengalir dari sudut mata Bu Erna, membasahi bantal. "Dari situ dia jadi es batu. Sama kamu. Sama Ibu. Sama semua orang."
Dulu sudah pernah. Untuk yang kedua aku enggak mau. Kalimat Arjuna di pagi keberangkatan ke rumah Nessa itu tiba-tiba bergema di kepala Lily. Selama ini ia mengira kalimat itu hanya keketusan biasa.
"Keledai itu Ibu, Ly," bisik Bu Erna. "Bukan kamu. Maafin Ibu."
Lily menatap perempuan tua di depannya. Perempuan yang dulu begitu berkuasa, dengan lidah yang menebar bisa. Sekarang tergolek lemah, menangis seperti anak kecil.
"Sudah, Bu," Lily menggenggam balik tangan mertuanya. "Sudah kumaafkan."
****
Sepanjang lorong rumah sakit menuju parkiran, Lily berjalan pelan di belakang anak-anaknya. Kepalanya penuh.
Ia teringat hari ketika Rizal pertama kali meminta izin menikah lagi. Ia teringat dirinya berdiri di depan cermin, menguatkan hati dengan pesan mendiang ibunya. Berbaik-baiklah dengan orang tua dan sanak saudara suamimu. Apabila suatu saat dalam rumah tanggamu ada masalah, pasti salah satu dari keluarga suamimu ada yang membela.
Waktu itu ia menaruh seluruh harapannya pada Bu Erna. Harapan itu hancur di depan pintu kamar mertuanya.
Tapi ternyata pesan ibunya tidak salah. Ada satu yang membela. Ia hanya tidak pernah menyangka pembelaan itu akan datang dari arah yang paling dingin. Dari orang yang membuntutinya pulang dari bank karena khawatir. Yang mendorong lemarinya. Yang menghabiskan rawon asinnya dengan tambahan air panas. Yang menangkap tangan Rizal sebelum sempat terayun.
Lily menyeka air matanya diam-diam.
Rizal menyusul mereka sampai ke pintu parkiran. Ia mengantar anak-anak ke motor Lily, lalu memasangkan helm Husen dengan hati-hati.
"Ly," katanya. "Ternyata ngurus orang tua enggak butuh anak perempuan, ya. Butuh anak yang mau."
Lily menatap mantan suaminya. Untuk pertama kalinya, ia melihat Rizal yang tidak sedang berpura-pura.
"Kamu mau, Mas. Itu sudah cukup."
****
Di ujung parkiran, mobil hitam Arjuna terparkir di bawah pohon. Arjuna bersandar di pintunya, seperti biasa, tangan di saku celana. Ia baru datang dari proyek, kemejanya masih berdebu semen.
Abi dan Husen berlari memeluknya. Arjuna mengusap kepala mereka satu per satu, kali ini tidak secanggung dulu.
Lily berhenti beberapa langkah darinya. Mereka saling menatap. Ada banyak hal yang ingin Lily katakan, tapi ia menelan semuanya. Masa idahnya belum selesai.
"Kak," ucapnya akhirnya. "Terima kasih sudah jaga Ibu."
Arjuna mengangguk. "Ibuku juga."
Hanya itu. Lily menggandeng anak-anaknya ke motor. Ketika ia menoleh sekali lagi dari ujung jalan, Arjuna masih berdiri di tempat yang sama, menatap ke arah mereka.