Keheningan di kamar itu terlalu sempurna. Tidak ada suara klakson taksi yang membahana dari jalanan Brooklyn, tidak ada deru pipa tua yang berisik, tidak ada suara-suara teriakan pasangan muda yang bertengkar di lorong, dan tidak ada aroma kopi basi dari arah dapur.
Stefani membuka mata dan menatap langit-langit putih yang tinggi. Butuh beberapa detik bagi otaknya yang masih berkabut untuk menyadari di mana dia berada.
Ingatan hari kemarin kembali menghantamnya secara beruntun. Telepon dari rumah sakit. Wajah ibunya yang pucat dan lemah. Alexander yang menawarkan kontrak dengan tatapan yang tidak bisa dibantah. Dan yang paling menyakitkan, tangannya yang gemetar saat menandatangani dokumen itu.
Dia duduk di tepi tempat tidur yang luas, menarik napas dalam-dalam. Ini bukan mimpi. Dia benar-benar menandatangani kontraknya. Dia milik Alexander sekarang.
Dengan wajah panik, tangan Stefani meraba ponselnya di atas meja nakas. Dia harus memastikan. Dia harus tahu apakah pria itu benar-benar menepati janjinya atau hanya mempermainkannya. Jari-jarinya gemetar saat dia menekan nomor Rumah Sakit Presbyterian.
"Selamat pagi, Rumah Sakit Presbyterian. Ada yang bisa saya bantu?"
"Halo, ini Stefani Wolden. Saya ingin mengecek kondisi ibu saya, Rachel Wolden."
Ada suara ketikan keyboard di seberang sana. "Tunggu sebentar, Nona Wolden." Jeda itu terasa seperti satu jam bagi Stefani. "Oh, Nona Wolden. Ibu Anda baik-baik saja. Pagi ini kami sudah memindahkannya ke ruang perawatan VIP. Semua tagihan bulan ini dan estimasi biaya operasi sudah dilunasi oleh pihak Mr. Audrey. Kami juga sudah menyiapkan obat-obatan khusus sesuai permintaan beliau."
Stefani menutup telepon. Ponsel itu hampir jatuh dari genggamannya. Dia lega. Air mata kelegaan menggenang di pelupuk matanya. Ibunya selamat. Ibunya akan mendapatkan perawatan terbaik. Tapi di saat yang sama, rasa berat yang luar biasa mendarat di daɗanya. Alexander tidak berbohong. Janji itu nyata. Dan sekarang, dia benar-benar terikat tanpa ada jalan keluar.
Stefani keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan. Aroma kopi hitam yang pekat dan roti panggang langsung menyapa indra penciumannya. Alexander sudah duduk di ujung meja makan panjang. Dia tidak memakai jas seperti yang biasa dipakainya ketika mengajar. Hanya kemeja warna krem dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang kekar dan urat-urat yang menonjol saat dia memegang tablet.
Dia tidak menyapanya. Alexander hanya menunjuk kursi kosong di hadapannya. Di atas meja, sudah tersaji piring berisi sarapan bergizi lengkap dan secangkir teh yang masih mengepul.
"Makan," ucap Alexander. Suaranya tenang, datar, dan mutlak. Bukan sebuah pertanyaan.
Stefani berdiri kaku di samping kursi. "Saya tidak lapar."
Alexander akhirnya mendongak dari tabletnya. Mata biru-abunya menatap Stefani dengan tatapan yang membuat udara di ruangan terasa menipis. Dia mengangkat alisnya sedikit.
"Aturan 4, Stefani. Makan teratur. Jangan memaksaku mengulanginya."
Stefani mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Dia akhirnya duduk dan mengambil garpu. Dia makan dalam diam, tapi matanya terus menatap cangkir teh di depannya. Chamomile. Teh favoritnya. Bagaimana pria ini tahu? Alexander tidak menjawab pertanyaan yang tidak dia ucapkan. Dia hanya kembali menatap tabletnya, membiarkan Stefani makan dengan pikiran yang penuh tanda tanya.
Stefani makan dengan pelan sambil sesekali melihat pada Alexander dengan ujung matanya.
Setelah piring Stefani kosong, Alexander berdiri.
"Ikut aku."
Stefani mengikuti langkah panjang pria itu menuju sebuah pintu ganda di ujung koridor. Alexander membukanya, dan Stefani langsung terdiam. Itu adalah sebuah walk-in closet raksasa. Lampu-lampu LED menyala otomatis, menerangi deretan rak yang penuh dengan pakaian baru. Gaun-gaun elegan dari bahan sutra, sepatu hak tinggi yang mengkilap, dan bahkan laci khusus yang berisi lingerie mahal dari renda hitam. Di sudut ruangan, ada tumpukan kecil pakaian lamanya yang dilipat rapi. Terlihat seperti barang bekas yang tidak berharga.
"Mulai hari ini, kau tidak akan memakai baju lusuh itu lagi di depanku," ucap Alexander tanpa menoleh.
Stefani merasakan amarah kecil menyala di daɗanya.
"Kau pikir kau bisa mendandani aku seperti boneka? Ini tubuhku, Alexander."
Alexander berbalik. Dia melangkah mendekati Stefani, memangkas jarak di antara mereka hingga Stefani harus mendongak.
"Kau mewakili aku sekarang, Sayang," bisiknya, suaranya rendah dan berbahaya. "Dan aku tidak suka hal yang berantakan atau murahan. Pilih salah satu dari sini. Kau punya waktu lima menit."
Stefani menatap keras, tapi mata di depannya sangat teduh, membuatnya menurutinya.
Stefani memilih sebuah dress lengan pendek model A line di bagian bawah berwarna hijau zamrud yang potongannya sederhana tapi elegan. Saat dia mengenakannya dan menatap cermin, dia terdiam. Gaun itu membuat lekuk tubuhnya dengan sempurna, membuat kulitnya terlihat lebih cerah dan posturnya lebih tegak. Dia terlihat cantik. Sangat cantik. Dia membenci fakta bahwa dia menyukai versi dirinya yang diciptakan oleh Alexander.
Perjalanan menuju NYCU terasa seperti perjalanan menuju medan perang. Di dalam mobil Maybach yang gelap, Alexander berubah total. Topeng esnya kembali terpasang sempurna. Dia tidak lagi memanggilnya 'Sayang'. Dia bahkan tidak menatapnya.
"Ingat Aturan 5," suara Alexander bergema di dalam kabin yang sunyi.
"Di dalam gerbang NYCU, aku adalah Professor Audrey. Kau adalah mahasiswiku yang mendapat nilai C. Jangan menatapku. Jangan bicara padaku kecuali dipanggil. Jika kau melanggar, konsekuensinya akan kita diskusikan nanti malam di The Still Room."
Stefani menelan ludah. Kata-kata itu menamparnya. Pria yang tadi pagi secara diam-diam membuat teh kesukaannya sekarang berbicara tentang hukuman dengan nada sedingin es.
Kelas sastra siang itu terasa berbeda. Stefani duduk di barisan depan, mengenakan dress hijaunya. Beberapa teman sekelas laki-laki, termasuk Liam, mahasiswa yang katanya paling tampan di NYCU duduk di sebelahnya.
Sebelum Alexander datang, suasana kelas sangat santai. Liam melempar lelucon tentang tugas esai yang menumpuk, dan teman-temannya tertawa. Stefani, yang untuk sejenak lupa tentang kontrak, tentang aturan, dan tentang pria yang akan segera masuk, tertawa lepas. Dia tertawa keras, kepalanya sedikit menunduk, bahunya berguncang. Dia merasa seperti dirinya yang dulu.
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka.
Suara langkah kaki yang ritmis dan berat membuat seluruh ruangan mendadak hening. Alexander masuk. Wajahnya datar, matanya menyapu ruangan. Tapi tatapan itu tidak berhenti di papan tulis. Tatapan biru-abu yang tajam itu langsung terkunci pada Stefani.
Tertawa Stefani mati di tenggorokan. Dia menatap Alexander yang berjalan menuju podium. Dan tiba-tiba, ingatan itu menghantamnya. Aturan 5. Tidak ada interaksi yang terlalu akrab. Tidak ada pembicaraan pribadi di depan umum. Dia baru saja tertawa lepas dengan pria lain. Di depan Alexander.
Darah Stefani terasa membeku. Dia menatap punggung lebar pria itu yang kini berdiri di depan kelas. Alexander tidak mengatakan apa-apa tentang kejadian tadi. Dia mulai mengajar dengan suara yang lebih dingin dari biasanya, lebih tajam, lebih kejam pada mahasiswa yang menjawab salah. Tapi Stefani bisa merasakan tatapan itu.
Tatapan yang menembus punggungnya, berbisik, "Kau sudah melanggar aturanku, Sayang."
Stefani menarik napas panjang, dan selama mata kuliah berjalan dia tidak fokus.
Perjalanan pulang adalah siksaan. Hujan turun di luar, membuat jalanan New York bercahaya redup dan buram. Di dalam mobil, Alexander tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya menatap Stefani. Tatapannya tidak berkedip, gelap, dan mengintimidasi. Stefani duduk di sudut kursi, tubuhnya kaku. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, membuat kain dress hijaunya menempel di kulit. Dia tahu dia bersalah. Dia tahu bakal ada hukuman yang menantinya.
Daniel, sang sopir, sepertinya bisa merasakan ketegangan yang mencekam di kursi belakang. Tanpa menoleh, Daniel menekan sebuah tombol di dashboard. Perlahan, kaca pembatas antara kursi sopir dan penumpang belakang naik dengan suara halus yang nyaring di keheningan mobil.
Sekarang, mereka benar-benar sendirian di dalam ruang tertutup yang kedap suara.
Privasi itu justru membuat ketakutan Stefani meningkat. Alexander perlahan menggeser duduknya, mendekat ke arah Stefani. Aroma tubuhnya tercium, kayu cedar dan mint-nya langsung memenuhi indra penciuman Stefani.
Sesampainya di penthouse, Alexander tidak membawanya ke ruang tamu. Dia menggandeng tangan Stefani, memimpin gadis yang panas dingin karena takut itu menuju sebuah pintu kayu gelap di ujung koridor lantai bawah. Alexander membuka pintu itu dan menyalakan lampu.
"Masuk," perintahnya.
Stefani melangkah masuk dan langsung membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Itu adalah The Still Room. Ruangan itu tidak menyeramkan seperti yang dia bayangkan. Dindingnya dilapisi panel kayu gelap dan peredam suara yang membuat keheningan di dalam ruangan terasa mutlak. Lantainya berkarpet tebal berwarna hitam. Di tengah ruangan ada sebuah sofa beludru merah marun yang lebar dan terlihat mewah.
Di dinding, tergantung beberapa alat dengan tata letak yang sangat rapi dan artistik. Ada borgol berbulu lembut, dasi sutra, penutup mata, dan beberapa alat lainnya yang terbuat dari kulit dan logam mengkilap. Ruangan ini berbau kayu cedar dan sesuatu yang sangat maskulin.
Insting Stefani berteriak, menyuruhnya berbalik dan berlari sejauh mungkin dari ruangan ini. Kakinya terasa berat, seolah tertanam di lantai. Jantungnya menghantam tulang rusuknya dengan irama yang menyakitkan.
Dia seharusnya takut. Dia tahu dia harus takut. Tapi saat matanya menatap borgol berbulu lembut dan dasi sutra yang tergantung rapi, ada rasa panas aneh yang menjalar di perutnya. Rasa penasaran yang gelap dan memalukan. Dia tidak berlari karena kakinya lemas, tapi juga karena dia tidak benar-benar ingin pergi.
Alexander melangkah masuk dan mengunci pintu dari dalam. Suara pintu yang dikunci terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi. Dia mendekati Stefani. Tidak ada teriakan, tidak ada amarah. Hanya d******i yang tenang dan mutlak.
"Kau tertawa dengan pria lain hari ini," ucap Alexander pelan, suaranya bergema di ruangan kedap suara itu.
"Kau lupa di mana tempatmu, Stefani."
Stefani menelan ludah, tidak bisa menjawab.
Alexander meraih sebuah dasi sutra hitam dan sebuah blindfold dari rak. Dia berdiri di belakang Stefani. "Tanganmu di belakang punggung."
Stefani mematuhi, tubuhnya gemetar. Alexander mengikat pergelangan tangan Stefani di belakang punggungnya dengan dasi sutra itu. Ikatan itu tidak menyakitkan, tapi sangat mengikat, membuat Stefani tidak bisa bergerak. Kain sutra yang lembut itu kontras dengan ketegangan di otot-otot Stefani.
Kemudian, Alexander menutup mata Stefani dengan blindfold.
Dunia Stefani menjadi gelap total. Indra penglihatannya mati, dan secara otomatis, indra lainnya menjadi sangat tajam. Dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang memburu. Dia bisa merasakan hembusan napas Alexander yang berat dan hangat di dekat telinganya. Dia bisa mencium aroma pria itu yang semakin kuat, memabukkan, dan mengintimidasi.
Alexander tidak menyentuhnya. Dia hanya berdiri di belakangnya, membiarkan Stefani menunggu di dalam kegelapan. Ketidakpastian itu jauh lebih menyiksa daripada rasa sakit. Stefani merinding, kulitnya terasa sensitif terhadap udara dingin di ruangan itu.
Alexander membisikkan kata itu tepat di telinga Stefani, suaranya serak dan penuh gairah yang terkendali.
"Ingat, Sayang. Jika ini terlalu banyak, ucapkan Suffit. Dan aku akan berhenti."
Stefani gemetar di dalam kegelapan. Dia tahu dia harus takut. Dia tahu ini adalah hukuman. Tapi saat jari Alexander akhirnya menyentuh kulit lehernya yang terekspos, mengirimkan gelombang panas ke seluruh tubuhnya, Stefani menyadari satu hal yang jauh lebih menakutkan.
Dia tidak ingin mengucapkan kata itu. Dia tidak ingin Alexander berhenti.