Pagi datang seperti biasa tanpa kejutan, tanpa sambutan, dan tanpa harapan.
Eliora bangun bukan karena alarm, melainkan karena rasa sesak yang menekan dadanya. Lagi-lagi mimpi yang sama, ia berdiri di tepi jurang, dengan tubuh yang terlalu berat untuk maju dan dunia yang terlalu kejam untuk mundur.
Di kamarnya yang sempit, langit-langit penuh bercak lembap dan cat mengelupas tampak seperti peta menuju kehancuran. Hanya ada satu jendela kecil di sudut, dan bahkan matahari enggan masuk melalui kaca buram itu.
Eliora duduk di tepi ranjang, menatap jari-jarinya sendiri. Tubuhnya mulai melemah. Setiap pagi kini terasa seperti ujian napas apakah hari ini akan dimulai… atau berakhir.
Dari dapur, terdengar suara piring beradu dan tawa kecil yang familiar. Tawa itu bukan miliknya.
Itu milik anak perempuan lain. Adik tirinya. Yang dicintai ibunya. Yang dianggap
"berkah setelah bencana".
Dan bencananya adalah Eliora,Ia melangkah pelan ke ambang pintu kamar dan berdiri diam, mengamati dua sosok di ruang makan. Ibunya menuangkan s**u ke dalam gelas berwarna pink. Sang adik duduk di meja sambil menggambar, rambutnya diikat dua, pipinya bersemu merah karena tawa.
“Kalau kamu besar nanti, mau jadi apa?” tanya ibunya lembut.
“Mau jadi dokter! Biar bisa sembuhin semua orang!”
“Tentu bisa, Sayang,” jawab sang ibu sambil mengelus rambutnya.
“Kamu pembawa terang.”Eliora memutar badan, menutup pintu kamarnya kembali.
Ia sudah kenyang dengan kata-kata manis yang bukan untuknya. Sudah hafal dengan kehangatan yang tidak pernah mampir ke kulitnya sendiri.
Ia mengenakan seragam sekolah seperti robot. Rambutnya dikuncir seadanya. Tak ada lipstik, tak ada bedak, tak ada niat untuk terlihat hidup.
Di dalam bus sekolah, ia duduk di pojok, sendirian seperti biasa. Remaja-remaja lain bercanda, bermain ponsel, atau saling merekam video pendek untuk konten.
Dunia mereka terlalu penuh untuk menyisakan tempat bagi seseorang seperti Eliora,Seseorang yang tengah mati perlahan.
Setibanya di gerbang St. Helora High School, ia menarik napas panjang. Sekolah itu terlihat megah dan rapi dari luar dengan cat putih, taman yang terawat, mural yang konon dibuat oleh alumni berbakat. Tapi semua itu hanya ilusi.
Di dalamnya, ada bau luka yang tidak semua orang bisa cium. Tapi Eliora bisa. Karena ia membawanya.
Langkah-langkahnya menyusuri lorong sekolah. Pandangan para siswa menghindarinya. Beberapa malah mencibir pelan.
“Gadis aneh yang kemarin itu…”
“Ada aura serem, sumpah.”
“Dia murid baru, kan? Tapi kayak mayat hidup.”
Eliora hanya menunduk. Ia sudah kebal dengan penolakan. Sudah lama.
Eliora Zephyer tidak pernah percaya bahwa sekolah bisa menjadi tempat menyembuhkan.
Bagi gadis itu, sekolah hanyalah panggung tempat semua orang mengenakan topeng. Tempat luka disembunyikan di balik seragam rapi dan tawa palsu.
Namun pagi itu, ada yang berbeda.
Bukan pada udara. Bukan pula pada suasana sekolah. Tapi... pada tatapan seseorang.
Hari keduanya di St. Helora High School dimulai dengan dingin yang seolah merayap masuk ke dalam nadi. Ia masih asing. Masih dijauhi. Tapi sudah terbiasa menjadi bayangan yang dilewati begitu saja. Yang membuatnya heran hanyalah satu hal:
pria itu seseorang yang sejak kemarin mengamatinya diam-diam, seolah Eliora adalah teka-teki yang ingin ia pecahkan tapi tak ingin disentuh.
Galen.
Guru muda itu terlalu tenang untuk disebut biasa. Terlalu dalam sorot matanya untuk disebut baik.
Pagi itu, Eliora melihatnya berdiri di balkon atas ruang guru, mengisap rokok yang hampir habis.
Mata mereka bertemu hanya sepersekian detik, namun cukup untuk membuat detak jantung Eliora menghantam keras dadanya.
Lalu Galen menghilang. Seolah tak pernah ada.
Di dalam kelas, Eliora duduk di pojok ruangan. Dara belum datang Mungkin telat Atau mungkin sengaja menjauh setelah melihat betapa “tidak normalnya” Eliora kemarin.
Ia menatap papan tulis yang masih kosong, tapi pikirannya penuh gema kenangan semalam yang masih membekas.
Ibunya memeluk adik tirinya sambil berbisik pelan, “Kamu anak yang membawa terang. Beda dengan… dia.”
Eliora hanya berdiri di balik tembok waktu itu, menelan luka dalam diam.
Sakit kepala mulai menyengat pelipisnya ketika sebuah suara mengejutkannya.
“Eliora Zephyer?ia mendongak.
Di ambang pintu berdiri Galen, dengan map berkas di tangan. Senyumnya tipis, hampir tak terlihat. Namun tatapannya menusuk.
“Bisa ikut saya ke ruang konseling sebentar?”
Kelas seketika menjadi sunyi. Bisik-bisik mulai terdengar.
Pandangan mengarah padanya seperti racun halus yang merembes ke udara.
Eliora mengangguk dan berdiri.
Ia tahu ini bukan soal nilai Dan entah kenapa, ia tidak bisa menolak.
Ruang konseling sunyi. Hanya ada dua kursi dan satu meja tua. Galen duduk di seberangnya, membuka map tanpa berkata sepatah kata pun.
“Kenapa kamu terlihat seperti seseorang dari masa lalu...” gumamnya pelan, seolah lebih kepada dirinya sendiri.
Eliora diam. Tidak tahu harus menjawab atau bahkan bereaksi.
“Kamu tahu, nama Eliora artinya ‘Tuhan adalah cahayaku’.” Tatapannya menajam.
“Tapi kau tampak seperti seseorang yang berusaha mati perlahan dalam kegelapan.”
“Apakah itu penting bagi Anda?” tanyanya, suaranya datar namun mengandung duri kecil.
Galen menyandarkan punggung ke kursi, menghela napas.
“Saya pernah hidup dalam bayangan juga. Saya tahu apa artinya tatapan ingin mati tapi belum mati. Kamu punya itu.
Tak ada kata yang keluar dari bibir Eliora. Ruangan itu terlalu penuh luka untuk diisi dengan kebohongan.
“Kalau kamu butuh tempat bicara,” lanjut Galen,
“jangan bicara pada siapa pun tapi dengarkan ini jangan berpikir tak ada yang peduli.”
Peduli? Gadis itu nyaris ingin tertawa. Dunia bahkan tidak tahu bahwa ia sedang sekarat.
Ketika ia kembali ke kelas, Dara sudah duduk di kursinya.
“Eh, kamu… dari mana?” tanyanya.
“Dipanggil,” jawab Eliora singkat.
“Guru Galen?”
Eliora mengangguk.
“Aneh ya dia.” Dara memandang ke papan.
“Tapi... ada sesuatu yang bikin orang nggak bisa berhenti mikirin dia.”
Eliora ingin mengatakan bahwa ‘sesuatu’ itu bukanlah pesona, melainkan kehancuran. Tapi ia memilih diam.
Dara tiba-tiba bersandar ke bangkunya dan berbisik,“Kamu tahu? Katanya dulu dia bukan guru.”
Eliora menoleh. “Maksudmu?”
“Katanya dia direkomendasi oleh orang dalam. Tapi... latar belakangnya aneh, Gak jelas kuliah di mana. Kayak nyembunyiin sesuatu.”
“Kayak... masa lalu yang belum selesai?” tanya Eliora lirih.
Dara menatapnya sesaat. “Kamu juga ngerasa begitu?”
Eliora tidak menjawab.
Saat istirahat, ia pergi ke taman belakang. Tempat sunyi yang jarang didatangi siswa kecuali untuk merokok atau pacaran diam-diam.
Ia duduk di bangku tua di bawah pohon rindang, mengeluarkan selembar kertas yang sudah lecek dari tasnya hasil MRI terakhirnya.
Kanker otaknya memburuk.
Waktu yang tersisa... tinggal hitungan bulan.
Tak seorang pun tahu Bahkan ibunya tak ingin tahu.
Ia ingin menyerah. Tapi ada bagian dalam dirinya yang menolak mati tanpa makna. Tanpa seseorang yang bisa berkata:
“Kamu pernah hidup dengan layak.”
Eliora mendongak Langit biru Tapi perih di kepalanya menutupi semua warna.
“Kamu sering ke sini?”Suara itu membuatnya terkejut. Ia menoleh cepat.
Galen berdiri tak jauh darinya. Tangannya baru saja menyimpan sesuatu ke dalam saku kilatan logam yang sekilas tampak seperti pisau lipat... atau korek.
“Tempat ini tenang,” jawab Eliora.
“Orang sekarat memang suka tempat sunyi,”katanya ringan, seolah membicarakan cuaca.
Eliora menegang. “Kenapa bilang begitu?”
“Karena saya dulu begitu juga.”Ia duduk di sampingnya. Jarak mereka hanya beberapa jengkal. Tapi terasa seperti jurang yang dipenuhi rahasia.
“Ada sesuatu di matamu yang familiar,” gumam Galen.
“Seperti seseorang yang pernah saya cintai. Dan saya bunuh.”
Eliora membeku.
Tawa tipis keluar dari bibir pria itu sebelum ia berdiri dan beranjak pergi.
“Jangan terlalu percaya pada saya, Eliora Zephyer Karena saya pun tidak percaya pada diri saya sendiri.”
Dan ia pun pergi.
Meninggalkan Eliora dengan ribuan pertanyaan dan satu kenyataan menyesakkan bahwa rasa penasarannya terhadap pria itu kini mulai tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Sesuatu yang berbahaya.