Bagas mondar-mandir di depan gerbang sekolah menegah pertama, di mana Imah bekerja. Sesekali dia menepuk telapak tangan kiri dengan kepalan tangan kanan perlahan, sambil menekuk bibirnya ke dalam. Sesekali pula dia melongok ke celah gerbang, menunggu jam pulang. Kentara sekali wajah gelisahnya saat itu. Bagai seorang lelaki yang baru akan menemui cinta pertamanya dan tidak tahu harus bagaimana bersikap.
“Masih sepuluh menit lagi,” gumam Bagas, menengok jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya.
Detik berlalu dengan cepat. Ingin rasanya Bagas beranjak saja dari situ, tapi teringat dorongan dari sang ayah membuatnya tetap membesarkan perasaan yang kembali muncul pada Imah. Tangannya dingin, jantungnya berdebar saat menunggu Imah keluar dari sekolahan. Ini rasanya seperti saat mereka berpacaran dulu dan dia menjemput Imah untuk pertama kalinya di tempat kerja. Rasanya romantis melihat senyum merekah gadisnya, setelah itu mereka selalu berjalan-jalan dulu di sepanjang pusat kota dengan motor Bagas. Ah, Bagas terbuai dalam angannya yang terbang ke masa lalu hingga suara seseorang mengagetkannya.
“Mas Bagas? Ngapain di sini sih?” tanya Imah membuat Bagas terperanjat dan mengelus dadanya. Jantungnya bagai ingin melompat jatuh saking kagetnya.
“I-Imah, aku jemput kamu.”
Imah mendekik, lalu tersenyum.
“Oalah, ada apa gerangan Mas Bagas jemput aku? Aku belum mau ke kantor pertanahan lagi buat ngurus kemarin itu,” sahut Imah bingung dan berpikiran mungkin Bagas ingin mengantarnya ke kantor pertanahan.
“Eh, nggak itu, Mah. Aku pengen ajak kamu ke rumah.”
Kedua mata Imah melotot.
“Mas Bagas, ngelindur ya? Istrinya kan masih di rumah? Kalian belum cerai, kan?” tanya Imah.
“Mah, bukan ke rumahku, tapi ke rumah bapak dan ibu. Mereka pengen ketemu kamu! Apa kamu nggak kepengen ketemu ibu? Dia mengharapkan kamu lho,” bujuk Bagas.
Wajah kebingungan Imah tampak. Dia menaikkan sudut bibirnya, tidak percaya akan omongan Bagas.
“Mah, aku benar-benar minta maaf waktu kejadian di rumah kamu itu. Aku merasa sangat bersalah sampai detik ini. Semalaman, aku nggak bisa tidur Cuma gara-gara mikirin kamu, Mah. Aku takut kamu marah sama aku,” cerocos Bagas mengungkapkan salah satu kegelisahannya.
Imah menghela napas dan tersenyum memandang Bagas, pria yang masih tampak tampan di matanya. Sepertinya benar kata orang bahwa pria yang berusia dewasa itu makin terlihat pesonanya sebagai lelaki.
“Mas, aku udah bilang kalo aku nggak marah. Cuma kaget aja kamu yang masih beristri mau—“
Wajah Imah bersemu merah mengingat kejadian kemarin di rumahnya. Dia pun nyaris khilaf kalau saja tidak ingat status Bagas. Imah tidak mampu meneruskan kata-katanya, hanya menunduk dengan rona merah di kedua pipi. Terlihat sekali di wajahnya yang putih dan glowing itu. Tangan nakal Bagas ingin sekali mencubit pipi perempuan yang menggemaskan itu, tapi dia berusaha menahan diri. Acara maaf-maafan baru saja terjadi, malah mau nambah lagi, kan lucu?
“Imah, kamu baik banget mau maafin aku. Nah, sekarang mau ya ke rumahku barang sebentar aja? Ibu udah masakkin kesukaan kamu, opor ayam dan sambal goreng ati. Kamu suka, kan?” tanya Bagas, padahal sang ibu belum memasak di rumah. Ngarang aja si Bagas.
Kedua mata Imah terbelalak mendengarnya.
“Mas Bagas masih inget makanan favoritku?”
Senyum Imah dengan kedua mata membulat membuat Bagas makin klepek-klepek dibuatnya. Dia bangga sekali sebagai lelaki masih ingat apa yang disukai seorang wanita dan itu membuat si wanita sangat takjub.
“Iya dong, kamu aja masih ingat kesukaanku, kan?” tukas Bagas.
Senyum Imah belum juga pudar. Memang dalam hatinya, Bagas masih nomor satu karena lelaki itu tahu betul segala kesukaannya. Berbeda dengan lelaki pengganti Bagas yang dipilihkan oleh mendiang ayahnya dulu. Dia lelaki yang cuek dan tidak perhatian sama sekali padanya. Sampai sang ayah meninggal, Imah belum juga mau menikah dengan lelaki itu, malah memutuskan hubungan mereka. Pucuk dicinta ulam tiba, Imah bertemu Bagas saat dia telah sendiri. Ya... meski Bagas sudah menikah.
“Iya, Mas.”
Jantung Bagas rasanya ingin berhenti berdetak karena degubnya yang terlalu kencang melihat setiap tingkah laku Imah. Dia yakin bahwa Imah benar-benar cinta sejatinya.
“Ya udah, yuk bonceng aku,” ajak Bagas pada akhirnya, memungkas pertemuan mereka di depan gerbang karena anak-anak mulai berjalan keluar dari area sekolahan dan beberapa di antara mereka bersiul pada gurunya, Bu Imah, yang sedang berdiri bersama seorang lelaki.
“Mas, tapi motorku?” tanya Imah, meraih tangan Bagas.
Bagas menatap tangan Imah yang memegangi tangannya. Rasanya lembut sekali. Imah sadar dan segera melepaskan tangannya, kembali wajahnya bersemu merah. Entah kenapa hari ini dia seperti memakai blush on berkali-kali.
“Tinggal aja di sekolahan, Mah. Bilang sama Penjaga Sekolah. Urusan besok, kamu aku jemput, tenang aja selama ada aku, Mah.”
Bagai superhero, Bagas laksana menepuk d**a, menjadi pahlawan bagi perempuan cantik di depannya itu. Imah tersenyum senang. Dia mengangguk setuju dengan usulan Bagas.
“Baik, Mas. Aku ke dalam dulu, ambil tas, ya?” tutur Imah, disusul dengan anggukan Bagas.
***
Dina merasa kesal di rumah. Sampai siang dia selesai membersihkan setiap sudut rumah kontrakannya, tapi Raka hanya bangun ketika ingin makan. Dilahapnya semua masakan di atas meja dengan nasi yang menggunung, lalu dia kembali tidur lagi di depan televisi yang menyala, padahal sudah dimatikan oleh Dina.
“Kenapa tumben sekali itu anak nggak pulang-pulang?” desis Dina, berdecak.
Dia harus kembali memasak di dapur demi menyuguhkan makan untuk sang suami, meski uang belanjanya mepet untuk akhir bulan. Saat melihat jam di dinding, sebentar lagi sang suami pulang. Dina memasak cah sawi dengan telur goreng sebagai lauknya. Disimpannya di dalam lemari agar Raka tidak menghabiskannya lagi. Kepalanya pusing kalau menuruti nafsu makan adik iparnya itu.
Usai memasak, Dina kembali membersihkan halaman depan. Dia melihat sebuah benda yang dirasanya penting. Satu kantong kunci pass dengan tulisan nama ayah mertuanya. Keningnya berkerut dan ingat bahwa waktu itu Deddy memarkir mobil angkot tepat di situ.
“Bapak pasti lupa, ah gimana ya? Pasti ini penting, padahal angkot yang dikendarai bapak kan sedang rusak?” gumam Dina, yakin bahwa kunci pass itu adalah milik sang ayah mertua.
Dina menyelesaikan urusan menyapunya, lalu membawa sekantong benda itu ke dalam rumah. Dia melihat ke arah Raka yang mendengkur keras, dengan tidur yang sangat nyenyak sekali.
“Kalau aku titipin ke Raka, aku nggak tahu kapan dia pulang. Nanti keburu dipakai sama bapak,” desis Dina, bermonolog.
Dina menghela napas, mencuci wajah lalu mengganti pakaiannya. Dia menyiapkan gendongan untuk bayinya.