Di sebuah perusahaan besar, perusahaan kosmetik yang terkenal, Devan sebagai anak pemilik perusahaan sekaligus manager keuangan di tempat itu, sedang mengerucutkan bibir karena desakan ibunya untuk segera memiliki istri di usianya yang kepala tiga itu. Semalam, kedua orang tuanya mendesak agar menikahi anak pengusaha teman sang ayah.
Devan yang tidak suka dengan perjodohan, berdecak duduk di kursi putarnya, memainkan pulpennya. Para pegawai yang butuh berurusan dengannya pun, tidak berani masuk menemui pria itu.
Usai menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan omongan orang tuanya, Devan menyuruh seorang pegawai untuk mencarikan profil wanita yang akan dijodohkan dengannya.
“Tara, sini. Udah ketemu nama Bellinda Ardani dalam pencarianmu?” tanya Devan lagi, nyelonong masuk ke ruangan sekertaris sang ayah.
“Sudah, Tuan. Dia itu adalah seorang selebgram terkenal. Cantik, juga sepertinya ramah pada para netizen. Dia memakai nama Bella Larose,” beber Tara, menunjukkan foto dan profil seorang selebgram.
Karena malas mencari dan Devan sendiri tidak mau berupaya dalam perjodohan yang tidak dia inginkan itu, dia hanya melengos melihat gambar seorang selebgram dengan nama samaran itu.
“Biasa,” sahut Devan, mengembalikan tab yang disodorkan oleh Tara.
“Lalu, seperti apa wanita yang diinginkan Tuan Muda?” tanya Tara.
Devano Firdaus Steven, pria blasteran Indonesia-Inggris itu, hanya melotot mendengar pertanyaan Tara, bawahan ayahnya.
“Kamu nanya?”
Tara menunduk, menahan senyum mendengar tuannya balik bertanya.
“Ini sudah, Tuan? Saya akan hapus informasi tentang Nona Bellinda Ardani.”
“Udah, hapus aja. Ingat untuk jangan bilang sama Papi kalo aku cari profil Bella itu. Dikira kepo, padahal aku memastikan aja bahwa dia bukan wanita yang aku inginkan.”
Tara menghela napas, lalu menghapus segala informasi dan jejak yang dia lakukan untuk menyelidiki seperti apa Bellinda Ardani, putri pengusaha tekstil yang menjadi teman tuannya, Sebastian Steven.
“Ya?” ulang Devan.
“Apanya, Tuan Muda?” tanya Tara tak mengerti.
“Tadi itu, aku minta kamu jangan bilang ke papi,” ulang Devan merengut kesal.
“Oh, baik, Tuan. Rahasia ini akan disimpan rapat.”
“Oke, sekarang aku mau keluar dulu. Kamu kerja yang baik ya. Papi kan lagi ada urusan di luar negeri, jadi kamu bisa gantikan dia. Aku sumpek di sini, mau jalan-jalan cari angin dulu.”
“Baik, Tuan Muda.”
Devan tersenyum smirk pada Tara dan keluar dari ruangan Tara dengan menempelkan dua jari di dahinya lalu menyeringai lagi dengan mengedipkan sebelah matanya. Tara bergidik melihat tuannya. Namun, dia hanya bisa menuruti perintah tuannya itu. Pria unik yang seperti tidak berhasrat pada perempuan.
“Aneh, wanita tadi dibilang biasa, padahal kan ya cantik. Jangan-jangan Tuan Devan itu penyuka sesama jenis? Ih,” desis Tara, kembali bergidik membayangkan Devan bersama dengan pria-pria. Padahal dirinya sendiri adalah pria. Tara berpura-pura seolah membasuh dirinya.
***
Dina melongok-longok saat Tanti berusaha mendorongnya untuk berbalik pulang.
“Bu, iya, itu motornya Mas Bagas. Aku tau dari stikernya yang belakang itu. Bu, biar aku bareng aja sama Mas Bagas. Irit ongkos,” tutur Dina, berjalan kembali karena yakin dengan penglihatannya.
Tanti berdecak. Dia sangat kesal, kenapa menantunya itu tidak mau menuruti perkataannya dan mempercayai kebohongannya tentang motor yang dia bilang bukan milik Bagas. Akhirnya, dia membiarkan Dina berjalan mengikuti kakinya melangkah.
“Kamu lewat pintu belakang, ikut aku,” ujar Tanti.
“Lho, emang kenapa, Bu?” tanya Dina.
“Itu ada tamu, aku mau masak buat tamunya. Kamu bantu-bantu dulu di dapur,” tukas Tanti pada akhirnya menemukan ide agar Dina tidak lewat pintu depan.
“Oh, ya, ya, Bu.”
Mereka pun berjalan lewat pintu belakang, memasuki rumah Tanti. Rumah yang luas dan Tanti memastikan bahwa Dina tidak mendengar percakapan antara Bagas, Imah dan suaminya.
“Tuh, kamu bersihin dulu ayam sama ati ampelanya. Trus masak sana, jadi opor ayam sama sambel goreng ati ya?” titah Tanti, menyodorkan plastik yang tadi dia tenteng, tidak jadi dibantu bawakan oleh Dina.
“Lho, Ibu mau ke mana?” tanya Dina.
Tanti mengangkat kedua alis sambil menarik napas dan melepaskannya dengan jengkel.
“Ya nemuin tamunya lah, kamu masak sendiri. Tsabita taruh aja di dipan dekat dapur, nanti kalo nangis biar cepet-cepet kamu susuin. Jangan lama-lama, nggak enak sama tamunya!” pesan Tanti sembari menggerutu.
Dina terdiam dan menautkan kedua alisnya, merengut. Kedua bola matanya mengekori langkah Tanti yang keluar dari dapur dan menuju ke ruang tamu.
“Tadi bilangnya bantuin, tapi sekarang aku yang suruh masak sendiri. Gimana ini ceritanya,” omel Dina, tapi tak urung juga dilakukan perintah sang ibu mertua, meletakkan bayinya di atas dipan dengan hati-hati lalu mulai membersihkan ayam dan ati ampela. Dina bertanya-tanya dalam hati, siapa tamu yang datang sampai ketiganya harus menemui berbincang. Hanya terdengar samar-samar saja obrolan tak jelas dengan disertai gelak tawa sesekali. Sepertinya orang-orang di ruang tamu bahagia sekali.
“Gas, di belakang ada Dina,” bisik Tanti saat Deddy mengajak ngobrol Imah.
“Dina siapa, Bu?” tanya Bagas mengerutkan dahi.
“Ya bojomu!” seru Tanti kesal hingga Deddy dan Imah menoleh padanya.
“Eh, maaf, maaf.”
Tanti meringis, lalu menarik lengan Bagas agar masuk ke dalam.
“Bu, kenapa dia malah ke sini?” tanya Bagas berbisik dengan wajah pucat. Keringat dingin mulai luruh di punggungnya.
“Dia itu ngembaliin kunci pass bapakmu yang ketinggalan, trus ketemu Ibu, mau ikut ke sini. Ibu juga taunya dia udah jalan sampai depan gang! Kamu juga sih, taroh motor di depan situ! Kelihatan banget! Dia ngeyel itu motormu trus waktu Ibu suruh pulang, dia nggak mau. Ngueyel minta bareng kamu, Gas! Piye ini?” gerutu Tanti, gemas.
“Lho, kata Bapak, Raka udah jaga Dina biar nggak keluar-keluar!” desis Bagas.
“Raka, dia paling molor sampe Dina bisa ke sini. Gimana, Gas?” desak Tanti.
Bagas tidak tahu apa yang harus dilakukan. Keduanya hanya duduk di ruang tengah. Lalu Bagas berdiri.
“Bu, aku mau antar Dina pulang dulu.”
Tanti ikut berdiri mendengarnya.
“Gas, biar Dina nyelesein masak dulu, Ibu capek. Trus nanti pas udah mau selesai, baru dia kamu antar pulang. Jangan sampai dia tahu kalo Imah yang ke sini. Bisa-bisa Imah nggak mau lagi ke sini,” ujar Tanti.
Bagas merengut kesal. Dia baru akan menyergah ibunya untuk kembali ke ruang tamu, tapi wanita paruh baya itu sudah terlanjur ke depan karena tidak mau capek memasak.
“Gimana sih, aku kan mau antar pulang Dina, lebih cepat lebih baik biar dia nggak sempat tau. Malah nggak mau capek.”
Bagas mendengkus, tapi seketika mengubah wajahnya saat melihat Imah masuk dari ruang tamu.
“K-kenapa, Mah?” tanya Bagas gugup. Belum juga menyembunyikan Dina, Imah sudah nongol aja.
Namun, Imah meringis ditanya oleh Bagas.
“Mau pipis, Mas.”