Mereka melepas kayu itu di pagi hari pertama, dengan obeng dan linggis kecil, sementara Yoga memegangi tubuh Sutejo agar tak terjatuh. Paku-paku yang dulu ayahnya tancapkan dengan tangis kini dicabut satu-satu. Ketika balok terakhir terlepas dan kaki itu bebas untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, Sutejo tidak melompat, tidak mengamuk, tidak melarikan diri. Ia hanya menatap kakinya sendiri seolah benda asing—pergelangan yang terbenam parut, betis yang tinggal tulang—lalu mencoba menggerakkannya, dan meringis. Sendi itu sudah terlalu lama kaku. Kaki itu bebas, tapi belum bisa berjalan.
Itulah pelajaran pertama tujuh hari ini: pembebasan bukan satu peristiwa, melainkan pekerjaan yang baru dimulai.
Rani membagi tugas dengan Yoga, bergantian datang pagi dan sore. Mereka melatih kaki Sutejo perlahan—gerakan kecil, regangan, memapahnya beberapa langkah di dalam gudang yang kini dibersihkan dan diberi tikar. Bu Inah datang membawakan bubur bergizi. Hari kedua, Sutejo bisa duduk di kursi tanpa dipegangi. Hari ketiga, ia minta dimandikan dengan air dari sumur, di luar, di bawah langit yang sudah belasan tahun tak ia lihat utuh, dan ketika air dingin mengguyur kepalanya ia menutup mata dan diam sangat lama, dan tak seorang pun berani mengganggu.
Kampung mengintip dari balik pagar. Sebagian dengan iba, sebagian dengan curiga. Pak Hardi lewat tiap hari, menghitung mundur.
Krisis datang di hari kelima, dan datang dari arah yang tak diduga siapa pun—bukan dari penyakit jiwanya, tapi dari obat yang seharusnya menyembuhkannya.
Rani sedang di Puskesmas ketika Yoga menelepon dengan suara tercekat. "Mbak, Sutejo aneh. Lehernya... lehernya muter ke samping, kaku, nggak bisa dibalikin. Matanya melotot ke atas, ke langit, kayak ketarik. Lidahnya nyembul. Dia panik, Mbak, dia nggak bisa ngomong jelas. Keluarganya teriak-teriak bilang setannya balik!"
Di kepala Rani, diagnosis menyala seketika: reaksi distonia akut. Efek samping antipsikotik yang, meski tidak mematikan, terlihat persis seperti mimpi terburuk sebuah kampung yang percaya kerasukan—otot leher dan mata yang tertarik kaku ke posisi mustahil, tubuh yang seolah dikuasai sesuatu. Dari semua waktu, di hari kelima dari tujuh, tubuh Sutejo memilih untuk membuktikan ketakutan terdalam keluarganya.
"Yoga, dengar baik-baik. Ini bukan kambuh, bukan setan. Ini efek samping obat, namanya distonia. Nggak bahaya tapi sakit dan nakutin. Ada obatnya, cepet sembuh." Rani sudah berlari ke lemari obat sambil bicara. "Tahan keluarganya, jangan biarin mereka pasung ulang. Aku bawa difenhidramin injeksi, lima belas menit lagi."
Ia ngebut menembus gang. Saat tiba, gudang sudah penuh orang. Pak Wira si orang pinter sudah dipanggil lagi dan tengah berseru bahwa inilah buktinya, obat dokter membangunkan yang gaib. Pak Hardi berdiri di pintu dengan lengan bersedekap. Bu Surti menjerit minta kayu dipasang lagi. Dan di tengah semua itu, Sutejo—lehernya tertarik kaku ke kiri, matanya terkunci ke atas, air liur menetes, tubuhnya kejang ketakutan karena ia sadar penuh dan tak bisa menggerakkan apa pun—menatap ke arah pintu mencari satu wajah.
Rani menerobos. Ia tidak meladeni Pak Wira, tidak meladeni Pak Hardi. Ia jongkok di depan Sutejo, memegang bahunya, dan bicara langsung ke matanya yang terkunci. "Pak Tejo, ini Rani. Saya tahu sakit. Saya tahu Bapak takut. Ini cuma reaksi obat, bukan setan, dan saya bisa hilangin sekarang. Lihat saya. Tarik napas." Sambil bicara, tangannya sudah menyiapkan suntikan, menemukan otot lengan, menyuntik dengan tenang.
Dan kemudian, di depan seluruh kampung yang berkerumun, terjadi hal yang tak bisa diberikan oleh dupa mana pun. Dalam beberapa menit, otot leher Sutejo melemas. Matanya turun dari langit, kembali ke wajah Rani. Lidahnya masuk. Napasnya melambat. Tubuh yang tadi seperti dirasuki itu, perlahan, kembali jadi tubuh seorang lelaki yang kelelahan dan menangis tanpa suara.
Gudang itu senyap. Pak Wira menutup mulutnya. Bahkan Pak Hardi menurunkan lengannya.
Sutejo, dengan suara yang sangat lemah, mengucapkan namanya sendiri—"Sutejo"—seolah memastikan ia masih ada, masih utuh, masih manusia. Lalu ia menyebut nama Rani. Dua nama, di gudang yang sama yang belasan tahun hanya mengenalnya sebagai "orang gila".
Rani menyesuaikan dosis malam itu, menambah obat untuk mencegah distonia berulang, dan menjelaskan semuanya pada keluarga dengan sabar berkali-kali. Tujuh hari hampir habis. Sutejo selamat melewatinya—kakinya masih lemah, jalannya masih dipapah, tapi ia tidak mengamuk, tidak membahayakan siapa pun, dan untuk pertama kali keluarganya melihatnya sebagai anak yang sakit, bukan monster yang harus dirantai. Di teras, Pak Darmin berkata pelan, hampir tak percaya pada mulutnya sendiri, "Kayunya... nggak usah dipasang lagi, ya, Mbak?"
Rani mengangguk. Tapi di dalam dadanya, kemenangan kecil itu terasa licin, seperti sesuatu yang dipegang terlalu erat justru paling mudah terlepas.