Setahun. Rani menyadarinya bukan dari kalender, tapi dari peta.
Ia berdiri sendirian di ruang konseling pada sore yang sepi, menatap peta kecamatan Tanjung Wuni yang terpaku di dinding—peta yang dulu, di hari ia pertama menggambarinya, membuat tangannya gemetar. Saat itu titik-titik merah bertabur seperti luka cacar: rumah-rumah yang menyembunyikan tubuh terantai di gudang, kandang, kamar belakang. Ia ingat malam ketika ia selesai menandai dan duduk di lantai ruang ini, kewalahan oleh skala penderitaan yang selama ini tersembunyi di balik pintu-pintu yang ia lewati tiap hari sejak kecil.
Kini ia menatap peta yang sama dan hampir tak mengenalinya.
Spidol biru telah menelan hampir semua merah. Tiap titik biru adalah sebuah nama, sebuah wajah, sebuah rantai yang lepas. Wuni Lor: Sutejo, biru, bekerja di bengkel Pak Wandi. Gang pasar: Mbah Ginem, biru, dirawat dengan penitipan siang alih-alih rantai. Topan, biru, kembali bersekolah. Wulan, biru, menggendong bayinya sendiri. Ratri, biru, mengiris bawang di antara perempuan-perempuan lain. Dan belasan lagi—nama-nama yang dulu disembunyikan, kini hidup, dirawat, sebagian pulih, sebagian belajar hidup bermartabat dengan penyakit yang dikelola.
Ia mengizinkan dirinya, untuk satu menit, merasakan sesuatu yang jarang ia beri ruang: kelegaan. Bukan kemenangan—ia tahu sekarang kemenangan bukan kata yang tepat untuk pekerjaan ini, yang tak pernah benar-benar usai. Tapi kelegaan, ya. Bukti bahwa setahun pembakaran—dan kolaps yang mengikutinya—tidak sia-sia. Bahwa rumah-rumah yang dulu jadi mimpi buruknya kini, sebagian besar, terbuka.
"Cantik ya, kalau dilihat begini," kata Yoga, masuk membawa dua gelas kopi. Ia mengikuti pandangan Rani ke peta. "Saya masih inget pas Mbak gambar yang pertama. Saya pikir Mbak gila. Terlalu banyak. Nggak mungkin."
"Saya juga mikir gitu," aku Rani, menerima kopi. "Tiap hari setahun ini saya mikir gitu."
Mereka berdiri berdampingan, dua perawat menatap setahun kerja di dinding. Yoga sudah jauh berbeda dari pemuda idealis yang dulu nyaris putus asa di rumah Sutejo. Ada kelelahan yang matang di wajahnya sekarang, jenis kelelahan yang dulu hanya Rani miliki, dan ada juga keteguhan baru.
"Kita hampir selesai, Mbak," kata Yoga pelan, dan ada harapan yang nyaris malu di suaranya. "Maksud saya—nggak selesai-selesai, saya tahu, bakal ada kasus baru terus. Tapi yang lama, yang ketumpuk bertahun, yang dipasung dan disembunyiin—itu hampir habis. Tinggal—" ia menunjuk peta— "beberapa titik."
Rani mengikuti jarinya. Beberapa titik merah masih tersisa, tersebar di pinggiran. Sebagian besar ia kenal—keluarga yang masih ragu, yang butuh kunjungan lebih, yang pelan-pelan didekati. Itu pekerjaan yang ia tahu cara melakukannya.
Lalu matanya jatuh pada satu titik.
Di tepi paling barat peta, di mana permukiman menipis menjadi sawah sisa dan kebun, ada satu titik merah yang berbeda dari yang lain. Bukan karena letaknya—meski rumah itu memang terpencil, terjepit di antara rumpun bambu dan parit, jauh dari gang ramai. Tapi karena spidol di sekitarnya. Rani sendiri yang menandainya, dan ia ingat sekarang—ia menandainya berkali-kali, melingkarinya lagi dan lagi tiap kali ia mencoba dan gagal, sampai garisnya menebal jadi noda. Titik itu adalah satu-satunya yang, sepanjang setahun, tak pernah sekali pun ia berhasil masuki.
"Rumah Kowi," gumamnya.
Yoga mengikuti pandangannya, dan Rani melihat sesuatu mengeras di wajah pemuda itu. "Iya. Yang itu." Ia menyeruput kopinya, menghindari menatap titik itu lebih lama. "Tiap kali Bu Inah coba, ditolak. Tiap kali saya coba, ditolak. Pernah Mbak suruh saya ke sana, inget? Saya bahkan nggak sampai ke pintu. Anjingnya dilepas. Pagernya ditutup. Yang buka cuma celah, terus ditutup lagi."
Rani mendekat ke peta, menyentuh titik merah tebal itu dengan ujung jari. Kertasnya hampir sobek di sana, terlalu sering ditandai, terlalu sering dilingkari dengan frustrasi.
"Warga juga aneh kalau ditanya," lanjut Yoga, suaranya turun. "Bukan kayak yang lain—yang malu, yang takut aib. Ini beda. Mereka kayak... takut beneran. Bu Inah bilang ada satu ibu yang langsung pucat pas saya sebut nama Kowi, terus buru-buru masuk rumah."
Rani teringat sesuatu—desas-desus yang ia dengar sejak kecil, sejak ia masih main di gang-gang ini sebelum jadi perawat. Rumah di ujung barat itu. Anak-anak dilarang mendekat. Ada cerita yang tak pernah utuh, selalu setengah-setengah, selalu dibisikkan: keluarga Kowi menyimpan sesuatu. Atau seseorang. Sudah lama sekali. Lebih lama dari ingatan siapa pun.
Ketika ia masih kecil, ia mengira itu cerita hantu, jenis dongeng yang dipakai orang tua menakuti anak agar tak main jauh. Tapi sekarang, sebagai perawat yang telah membuka belasan pintu yang menyembunyikan tubuh terantai, ia tahu—dongeng paling menakutkan biasanya bukan tentang hantu. Tentang manusia.
"Setahun saya nyimpen yang ini paling akhir," katanya pelan, lebih pada diri sendiri daripada pada Yoga. "Saya bilang ke diri saya, itu karena yang lain lebih gampang dijangkau, lebih mendesak. Tapi—" ia menarik tangannya dari peta— "saya pikir saya cuma takut."
Yoga menatapnya. "Mbak? Takut?"
Rani tidak menjawab. Ia menatap titik merah itu, satu-satunya merah di antara lautan biru, membandel, menebal, menunggu. Sesuatu di perutnya mengencang—naluri yang sama yang dulu membuatnya tahu, sebelum membuka pintu gudang Sutejo, bahwa apa yang ada di balik pintu itu akan mengubahnya.
Setahun ia membebaskan tubuh dari rasa malu, dari kemiskinan, dari ketidaktahuan. Tapi firasatnya berbisik bahwa rumah di ujung barat itu bukan tentang malu atau miskin atau tak tahu. Ada sesuatu yang lebih kelam di sana—sesuatu yang membuat seluruh kampung memilih buta dan tuli selama bertahun-tahun. Dan ia, yang akhirnya belajar merawat dirinya cukup untuk tahan jangka panjang, kini punya satu titik merah terakhir yang menanti—yang, ia mulai mengerti, ia sengaja simpan paling akhir bukan karena paling mudah, tapi karena paling ia takuti.
"Besok," katanya, menghabiskan kopinya. "Besok kita ke ujung barat."