Senjata Rani melawan Pak Hardi bukan kemarahan. Senjatanya adalah daftar.
Kalau kampung lebih takut pada keributan daripada penderitaan, maka data resmi adalah ribut yang tak bisa ditolak—angka di atas kertas yang tak bisa dimarahi, tak bisa diusir, tak bisa dituduh mengganggu ketertiban. Maka pagi-pagi, dengan dalih yang sudah ia sempurnakan, Rani dan Bu Inah mulai mengetuk pintu satu demi satu, membawa timbangan bayi dan buku Posyandu sebagai kunci yang membuka rumah-rumah yang akan menutup diri di hadapan seragam Puskesmas.
Mereka tak menyebut kata pasung. Mereka tak menyebut kata gila. Mereka datang sebagai pendataan kesehatan keluarga, menanyakan balita, lansia, ibu hamil—dan di sela pertanyaan itu, dengan kehati-hatian seorang yang tahu pintu bisa membanting di wajahnya, Rani menyelipkan satu pertanyaan: apakah ada anggota keluarga lain di rumah ini yang sakit, yang lama tak keluar, yang butuh perhatian?
Kebanyakan menjawab tidak, terlalu cepat, mata melirik ke lorong belakang. Rani mencatat tidak itu sama telitinya dengan ia mencatat ya. Karena tidak yang terlalu cepat, dengan mata yang melirik, sering kali adalah ya yang belum berani.
Dua kasus baru muncul dari pagi-pagi itu, nyata di balik pintu yang selama ini terkunci. Yang pertama di Wuni Kidul: seorang lelaki paruh baya bernama Darji, yang katanya "sudah lama nggak keluar kamar", yang ketika Rani diizinkan mengintip dari ambang, terbaring di kamar pengap dengan tubuh yang lemah dan tatapan yang Rani kenali—depresi berat yang menahun, bukan kerasukan, bukan malas, melainkan penyakit yang membuat seseorang tenggelam terlalu lama sampai bangun pun terasa mustahil. Tidak dipasung dengan rantai. Dipasung oleh kelambu kamar yang tak pernah dibuka dan keluarga yang sudah menyerah memahami.
Yang kedua mengkonfirmasi tebakan lama Rani dari daftar Bu Inah: pemuda epilepsi di Wuni Kidul, yang selama ini hanya tertulis satu baris di halaman belakang buku kader. Rani mencatat alamatnya, menyimpannya untuk kunjungan tersendiri. Tiap nama adalah satu titik merah baru di peta, dan tiap titik merah baru adalah satu bukti tambahan yang tak bisa dibantah Pak Hardi: kampung ini punya pasung, punya orang yang ditelantarkan, dan menyembunyikannya saat pejabat datang bukan ketertiban—itu pembiaran yang bisa dicatat dan dipertanggungjawabkan.
Menjelang siang, di gang sempit di Wuni Tengah, mereka mengetuk satu pintu lagi—rumah kecil yang catnya mengelupas, halaman yang ditumbuhi rumput, jenis rumah yang biasanya dilewati orang tanpa menengok. Bu Inah ragu. "Yang ini saya nggak ada catatan apa-apa, Mbak. Cuma firasat. Ibunya jarang banget keluar."
Rani mengetuk. Lama tak ada jawaban. Ia hampir mengetuk lagi ketika pintu terbuka sejengkal, dan dari celahnya muncul wajah seorang perempuan tua—rambut beruban tak rapi, mata yang sayu dan waspada sekaligus, wajah orang yang sudah lama menjaga sesuatu seorang diri. Ia memandang Rani, memandang seragam dan timbangan bayi dan buku Posyandu, dan ekspresinya tak berubah, seolah sudah menebak bahwa orang-orang dengan timbangan bayi tak datang untuk hal yang sebenarnya.
Rani memulai dengan kalimat pendataannya yang biasa, lembut, tak menakuti. "Permisi, Bu. Saya dari Puskesmas, lagi mendata kesehatan keluarga. Di rumah ini ada balita, atau lansia, atau..."
Perempuan tua itu tak menjawab pertanyaan itu. Ia memandang Rani lama, sangat lama, dengan mata yang perlahan basah—bukan takut, bukan curiga, tapi sesuatu yang Rani tak siap menerimanya di gang sempit pada siang yang biasa. Ia membuka pintu sedikit lebih lebar, cukup untuk Rani melihat lorong gelap di belakangnya, dan dari dalam—samar, di balik kelam—terdengar bunyi yang Rani kenali sampai ke tulang: gemerincing rantai, pelan, gerakan tubuh di lantai semen.
Perempuan tua itu menengok ke arah bunyi itu, lalu kembali menatap Rani, dan ketika ia bicara, suaranya pecah seperti sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan agar tak pecah.
"Sudah lama saya nunggu," bisiknya, "ada yang nanya."