Ponsel Mira menyala dalam gelap walau baterainya copot, dan itu yang kembali membawa Tari ke konter servis sempit milik Dimas.
Sejak gudang dan log daya, Dimas sudah lama jadi bagian lingkaran terang—tangan yang mengukur apa yang hanya bisa Tari rasakan. Tapi ada satu benteng terakhir yang tak pernah benar-benar ia lepas: ia menerima bahwa benda itu nyedot daya, bahwa grafiknya naik tiap orang sendirian, tapi ia masih bersikeras bahwa di balik semua itu pasti ada sumber listrik yang belum ia temukan. Lalu Mira, yang kini ikut lingkaran terang setelah malam di Sidoarjo, melaporkan sesuatu yang menghantam benteng terakhir itu: ponsel retaknya, yang sudah ia copot baterainya atas saran Yusuf, tetap menyala sesekali di laci kamarnya, hijau pucat, dalam gelap. Tari membawa ponsel itu langsung ke konter Dimas, karena ia tahu hanya Dimas yang bisa membuktikan—atau gagal membuktikan—apakah itu mungkin secara mesin.
Konter Dimas terselip di antara toko aksesori, penuh ponsel terbongkar, obeng presisi, dan bau timah solder. Di sini, di antara alat-alatnya, Dimas selalu lebih berani daripada di mana pun, jenis orang yang bicara cepat dan menertawakan hal-hal yang menurutnya bodoh, yang ternyata masih mencakup gagasan bahwa sebuah ponsel bisa menyala tanpa daya.
Tari menaruh ponsel Mira di meja dan menjelaskan soal layar yang menyala tanpa baterai. Dimas tertawa sebelum Tari selesai, tawa yang Tari kenal sebagai pertahanan terakhirnya.
"Tari, itu nggak mungkin. Titik. Nggak ada listrik, nggak ada cahaya. Pasti baterainya nggak benar-benar copot, atau ada baterai cadangan kecil buat jam internal. Sini, aku bongkar, aku tunjukin di mana salahnya." Ia mengulurkan tangan, percaya diri, separuh meremehkan. "Lima menit. Aku kasih tahu di mana sumber dayanya. Soalnya semua yang nyala pasti ada sumbernya. Itu satu hal yang masih aku pegang."
Dimas menyambar ponsel Mira, membaliknya, dan kepercayaan dirinya tergelincir satu langkah saat ia melihat retakan itu—retakan yang sama yang sudah berbulan ia petakan di layar laptopnya. "Layar retak lagi. Sama persis kayak punya Sekar." Ia membuka tutup belakang dengan gerakan terlatih, mencongkel baterai dengan alat pipih. "Nih. Aku copot baterainya. Total. Sekarang ini cuma kaca, plastik, sama logam mati. Nggak ada nyawanya."
Ia meletakkan ponsel yang sudah terbongkar itu di meja, baterai di sebelahnya, terpisah jelas. Lalu ia bersandar, menyilangkan lengan, menunggu Tari mengaku kalah.
"Sekarang tunggu," kata Tari pelan. "Matiin lampu konter sebentar. Lima detik aja."
Dimas memutar mata, tapi ia menurut, mungkin untuk membuktikan poinnya lebih telak. Ia menekan saklar. Konter sempit itu tenggelam dalam gelap, hanya cahaya remang dari gang pasar di luar.
Untuk beberapa detik, tidak ada apa-apa. Dimas mulai tertawa kecil, hendak menyalakan lampu lagi.
Lalu ponsel di meja itu—yang baterainya tergeletak terpisah dua jengkal dari bodinya—menyala. Hijau pucat. Retakan membelah cahaya yang mustahil itu jadi serpihan-serpihan di kegelapan. Dan di kaca yang retak, untuk satu detik yang panjang, garis-garis itu bergerak, menyusun sesuatu yang nyaris seperti wajah, dengan lubang gelap di tempat seharusnya ada mata.
Tari mendengar Dimas berhenti bernapas.
Ia menyalakan lampu sendiri, cepat, dan ruangan kembali terang, dan ponsel itu kembali mati, sekeping kaca dan logam tak bernyawa di atas meja servis, baterai terpisah di sebelahnya.
Dimas berdiri kaku, kaca pembesar di dahinya, mulutnya terbuka. Lelaki yang sudah berbulan mengukur grafik daya benda ini, yang sudah memotret wajahnya di Gang Mawar, kini menatap ponsel mati itu seakan baru benar-benar melihatnya. Ia mengulurkan tangan, ragu, lalu menariknya kembali. Ia mengukur jarak antara bodi dan baterai dengan matanya, sekali, dua kali, seakan mencari kabel tersembunyi, sumber daya tersembunyi, lelucon tersembunyi.
"Itu... " suaranya serak. Ia berdehem. "Itu nggak mungkin. Nggak ada listrik di benda itu. Aku yang copot baterainya. Aku sendiri."
"Aku tahu," kata Tari, tenang, hampir lembut. "Selama ini kamu ukur dia nyedot daya, dan kamu selalu bilang pasti ada sumbernya. Sekarang nggak ada sumbernya, dan dia tetap nyala. Itu yang baru, Dimas. Itu benteng terakhir yang barusan kamu lihat runtuh sendiri."
Dimas menarik bangku dan duduk, agak terjatuh ke sana, masih menatap ponsel itu. Keskeptisannya tidak sepenuhnya hilang—Tari bisa melihat itu, otaknya masih berputar, masih mencari penjelasan, masih menolak menyerah pada kata "hantu". Tapi pegangan terakhirnya—bahwa apa pun yang nyala pasti punya sumber listrik—baru saja lepas dari tangannya. Dan justru itu yang Tari butuhkan. Bukan orang yang percaya hantu. Orang yang akhirnya berhenti bisa menyangkal apa yang alat-alatnya sendiri tunjukkan.
"Aku butuh bukti yang bisa diukur," kata Dimas akhirnya, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Tari. "Selama ini aku pegang itu. Konsumsi daya. Frekuensi. Sesuatu. Benda nggak nyala dari nol. Tapi ini..." Ia menelan ludah. "Ini nyala dari nol."
"Iya." Tari tersenyum, kecil dan lelah. "Dan dia udah ngambil dua belas orang sebelum aku berhenti ngitung. Kamu udah tahu itu. Sekarang kamu juga tahu mesin nggak bisa jelasin semuanya."
Dimas mengangkat wajah dari ponsel itu, menatap Tari, lalu menatap Sekar dan Mira yang berdiri di ambang pintu konter—dua gadis yang sudah ia kenal dari grup, yang dari cara mereka berdiri jelas pernah melihat sesuatu yang sama. Lelaki itu menghela napas panjang, mencabut kaca pembesar dari dahinya, dan meletakkannya di meja di samping ponsel yang mustahil itu.
"Aku tetap bakal cari sumbernya," katanya. "Aku nggak bisa berhenti jadi tukang servis. Tapi aku berhenti pura-pura ini cuma mesin nakal. Apa pun benda ini, aku bakal cari tahu sumbernya dari mana, walaupun jawabannya bikin aku nggak bisa tidur."
Tari menarik bangku, dan untuk pertama kali ia melihat benteng terakhir lelaki itu benar-benar runtuh—bukan lagi orang yang mengukur sambil menyangkal, tapi orang yang mengukur sambil percaya. Di luar, pasar berdengung, ribuan orang lalu lalang, dan di salah satu konter sempitnya, sebuah lampu menyala lebih terang dari sebelumnya.