Kabar itu datang lewat grup kos Sekar, bukan grup Tari, pukul setengah enam pagi.
Salah satu teman sekamar Sekar—Tari sudah lama menyusup ke grup itu sebagai "kakak senior dari kampung", samaran yang ia jaga agar bisa memantau dari jauh—menulis dengan panik. Ada yang lihat Sekar? Kasurnya kosong dari semalam. Tasnya masih di sini tapi orangnya gak ada. Hpnya juga gak diangkat.
Tari sudah berdiri sebelum ia sadar telah turun dari kasur. Tangannya bergerak sendiri, menyambar jaket, menyambar kunci, sambil otaknya menghitung dingin dan cepat, cara yang sudah ia pelajari pahit-pahit. Sekar menghilang semalam. Ponselnya tak diangkat. Dan ini bukan Sekar yang pertama kali mendengar suara; ini Sekar yang sudah berminggu-minggu dibisiki, yang ritual terangnya masih mentah, yang setengah-setengah percaya dan setengah-setengah menolak.
Ia menelepon teman sekamar itu di jalan, di atas motor pinjaman, sambil menyetir dengan satu tangan di gang yang masih basah embun. "Hp-nya nyala atau mati?"
"Tadi sempat nyala, Mbak. Sekali. Terus mati lagi."
"Terakhir dia ngomong apa? Kemarin malam dia gimana?"
Suara di seberang ragu. "Aneh, Mbak. Dia... tersenyum-senyum sendiri. Saya kira dia lagi seneng. Dia bilang dia akhirnya tahu cara nyelesain masalah ibunya. Ibunya sakit, Mbak. Sekar mikirin terus."
Tari hampir menabrak gerobak sayur. Ia menepi, jantungnya jatuh ke perut. Cara menyelesaikan masalah ibunya. Ia tahu kalimat itu. Ia pernah mendengarnya, dulu, dari mulutnya sendiri—rasa terpilih, rasa bahwa nyawa bisa ditukar, bahwa pengorbanan bisa membeli keselamatan orang yang dicintai. Itu umpan tertua benda itu. Itu yang membuat Rani naik ke lantai tiga.
"Dengar," kata Tari, suaranya dipaksa tenang, "lacak hp-nya. Ada fitur cari lokasi di grup kalian, kan? Kalian saling tahu lokasi. Cari Sekar sekarang. Kirim ke saya."
Ia menunggu di pinggir jalan, mesin motor masih hidup, sementara kota perlahan bangun di sekelilingnya—pedagang menggelar dagangan, anak sekolah berjalan rombongan, tukang sapu menyeret sampah. Begitu banyak orang. Begitu banyak terang. Dan di suatu titik di tengah semua itu, satu gadis duduk sendirian dengan benda menyala di tangannya, di tempat yang cukup sepi untuk membuat benda itu kenyang.
Pesan masuk. Titik lokasi, biru, berdenyut di peta. Sebuah halte di tepi jalan lingkar, di pinggiran, jauh dari kos, di area yang Tari tahu lengang pagi-pagi begini—belum ada bus pertama, belum ada penumpang.
Lalu ponsel Tari sendiri berkedip. Bukan dari grup kos. Dari grup miliknya. Sebuah pesan yang tidak ia kirim, dari nomor tanpa nama yang seharusnya sudah keluar tiga malam lalu.
Dia sudah duduk, Tari. Tenang sekali. Dia mendengarkan dengan baik. Kalau kau datang terlalu cepat, kau hanya akan jadi saksi. Kau ingat rasanya jadi saksi, kan?
Tari mematikan layar tanpa membalas. Bukan karena takut. Karena ia tahu, balasan dalam panik adalah makanan, dan ia tidak akan menyuapinya. Ia memasukkan ponsel ke saku, memutar gas, dan melaju.
Tapi ia tidak melaju buta. Sambil menyetir, ia menelepon Yusuf, satu tangan menjepit ponsel ke pipi. "Sekar di halte jalan lingkar dekat pasar loak. Saya menuju ke sana. Kumpulkan grup. Semua yang melek, suruh standby buat nelepon serempak kalau saya kasih aba-aba." Lalu ia menelepon Bu Sri, membangunkannya, dan suara perempuan tua itu yang serak karena baru bangun justru menenangkannya. "Sabar, Mbak. Jangan kamu yang panik. Dia mancing kamu biar panik. Datang, tapi datang sebagai orang, bukan sebagai pemburu."
Halte itu muncul di kejauhan, kotak beton kelabu di tepi jalan kosong, atapnya berkarat. Dan di bawah atap itu, satu sosok kecil duduk di ujung bangku, punggung membungkuk, kepala menunduk ke arah cahaya yang memantul dari pangkuannya. Layar. Menyala. Dini hari yang hampir habis, dan gadis itu masih menatap layar seperti orang menatap pintu yang sebentar lagi akan terbuka.
Tari memperlambat motor. Ia tidak ingin Sekar mendengar mesin dan kaget. Ia memarkir agak jauh, mematikan mesin, dan berjalan kaki sisanya, pelan, di atas aspal yang sepi, sementara matahari mengintip kelabu di balik gedung-gedung. Jaraknya tinggal dua puluh meter. Sepuluh. Dan ia bisa melihat sekarang bahwa bibir Sekar bergerak, bicara pada layar, bicara pada sesuatu yang menjawabnya, persis seperti yang dulu didengar Bu Sri dari balik pintu kamar Rani.
Tari berhenti. Ia tahu ia hanya punya satu kesempatan untuk masuk ke pagi itu dengan cara yang benar. Bukan dengan teriakan. Bukan dengan tarikan. Ia menarik napas, dan dengan suara yang ia buat selembut mungkin, ia memanggil nama yang benar.
"Sekar."
Gadis itu tidak menoleh. Tapi jempolnya berhenti di atas kaca.