Kos Tari adalah sebuah kamar tiga kali tiga di lantai dua, dengan jendela menghadap tembok kos sebelah dan kipas angin yang berderak setiap kali berputar. Ia berbagi gang sempit ini dengan delapan penghuni lain, kebanyakan mahasiswa dan buruh pabrik, orang-orang yang datang dan pergi seperti angin, jarang saling tahu nama.
Malam itu Tari mengganti kartu SIM-nya ke ponsel baru, mengunduh ulang aplikasi-aplikasinya, dan menyetel ulang foto wallpaper-nya. Ia menghapus kontak bernama TARI itu sekali, dua kali, tiga kali. Setiap kali ia menekan hapus, ia merasa lega. Setiap kali ia menutup dan membuka lagi daftar kontaknya, nama itu sudah kembali di dasar layar, sabar menunggu.
Tari memutuskan untuk tidak memikirkannya. Mungkin bawaan sistem. Mungkin aplikasi rusak. Ia bukan orang yang paham mesin; ia hanya butuh benda yang menyala.
Pukul sebelas malam, saat ia berbaring di kasur tipisnya dan hampir tidur, ponsel di sampingnya bergetar.
Ia meraihnya dengan mata setengah terpejam. Notifikasi dari kontak TARI.
*Besok pagi, Pak Hardi yang jual koran di perempatan Gang Mawar akan meninggal. Sekitar pukul tujuh. Jantungnya. Jangan beri tahu siapa-siapa. Mereka tidak akan percaya. Kamu juga belum.*
Tari membaca pesan itu dengan mata yang perlahan terbuka penuh. Pak Hardi. Ia kenal Pak Hardi. Lelaki tua bertopi pet yang setiap pagi menggelar dagangannya di perempatan, yang selalu menyapanya "Cah ayu" saat ia lewat menuju halte. Bulu kuduk Tari meremang, lalu ia memaksa dirinya tertawa lagi, tawa yang sama tak meyakinkannya seperti sore tadi.
Ia mengetik balasan dengan jari yang gemetar tipis. *Siapa ini? Nggak lucu, ya.*
Pesan terkirim. Centang biru, langsung. Lalu, balasan.
*Ini kamu. Tidurlah, Tari. Besok pagi kamu akan tahu aku tidak pernah bercanda.*
Tari mematikan layar dan menaruh ponsel di lantai, jauh dari jangkauan tangan, seakan benda itu bisa menggigit. Ia menarik selimut sampai dagu. Di luar, hujan mulai turun, menampar seng atap dengan irama yang tak teratur. Ia menyuruh dirinya tidur, dan akhirnya tidur, walau dalam tidurnya ia bermimpi tentang layar retak yang melebar menjadi mulut.
Ia bangun pukul setengah tujuh oleh suara ribut di gang.
Mula-mula ia tidak mengaitkannya dengan apa pun. Ada suara orang berlarian, suara perempuan memanggil-manggil, lalu suara motor yang distarter terburu-buru. Tari turun dari kasur, masih setengah sadar, dan mengintip dari jendela. Di mulut gang, di dekat perempatan, sekumpulan orang berkerumun mengelilingi sesuatu di tanah.
Sebuah topi pet tergeletak di aspal yang basah.
Tari merasa lantai kamarnya seperti ditarik dari bawah kakinya. Ia turun tergesa, tak sempat memakai sandal yang benar, dan menyeruak ke kerumunan. Pak Hardi terbaring di samping gerobak korannya yang terguling, wajahnya kelabu, satu tangannya mencengkeram dada. Seorang ibu menangis. Seseorang berkata sudah menelepon ambulans. Tetapi dari cara semua orang berdiri, dari kesunyian yang menggantung di tengah keributan itu, Tari tahu ambulans tidak akan berguna.
"Jantungnya," kata seorang bapak di sampingnya, suaranya pelan. "Tiba-tiba aja roboh. Tadi masih nyusun koran."
Pukul tujuh kurang sedikit. Jantungnya.
Tari mundur dari kerumunan, satu langkah, dua langkah, sampai punggungnya menyentuh tembok dingin. Tangannya merogoh saku, dan ponsel itu di sana, dingin seperti pertama kali ia menyentuhnya. Ia tak ingat membawanya. Ia meninggalkannya di lantai semalam.
Layar menyala tanpa ia sentuh. Satu pesan baru dari TARI.
*Sudah kubilang. Sekarang kamu percaya. Ini baru yang pertama, Tari. Masih banyak yang harus kita bicarakan.*
Di kejauhan, sirene mulai meraung, datang terlambat, seperti yang sudah diramalkan.