Kerumunan perlahan menipis. Sekar maju, mendekat ke papan pengumuman, jari telunjuknya menelusuri deretan angka dari atas ke bawah.
001. 014. 023. 037...
Nomor-nomor itu tidak berurutan rapi—hanya yang lolos yang dicantumkan. Dari dua ratus tujuh puluh sekian peserta pagi ini, ditambah gelombang sore, yang lolos ke tahap berikutnya hanya enam puluh nama. Sekar menahan napas, jarinya bergerak terus.
...198. 205. 219. 247. 256...
Ia melewati 274. Tidak ada. Jantungnya jatuh.
Tunggu. Ia mengulang dari atas, lebih pelan kali ini, takut matanya yang gugup melewatkannya.
...256. 261. 268. 274.
Di sana. Dua-tujuh-empat.
Sekar membaca nomor itu tiga kali untuk memastikan ia tidak berhalusinasi. Dua. Tujuh. Empat. Nomornya. Tertera hitam di atas putih.
Lutut Sekar lemas. Ia menempelkan tangan ke papan pengumuman untuk menahan tubuhnya. Lolos. Ia lolos tes tertulis. Anak nelayan dengan satu buku lecek, mengalahkan ratusan anak kota dengan map sertifikat tebal.
"Sekar!" Dian muncul di sampingnya, wajahnya berseri. "Kamu lolos? Berapa nomormu?"
"Dua tujuh empat," kata Sekar, suaranya hampir tak keluar.
"Itu! Itu kamu!" Dian menunjuk papan. "Aku juga lolos, nomor seratus sembilan puluh delapan. Sekar, kita lolos!"
Untuk sesaat, dunia terasa tidak nyata. Sekar ingin tertawa dan menangis sekaligus. Ia ingin menelepon Ibu, tapi ia tidak punya pulsa. Ia ingin lari ke pantai dan berteriak ke laut. Tapi ia hanya berdiri di sana, gemetar, dengan senyum yang tak bisa ia tahan.
Tapi euforia itu tidak bertahan lama. Karena di pojok papan pengumuman, tertempel pengumuman lain.
"Peserta yang lolos tes tertulis wajib mengikuti tes fisik dan kesehatan penerbangan besok pukul 07.00 di RS Penerbangan, Jalan Dirgantara No. 1. Bawa nomor peserta dan kartu identitas. Datang dalam kondisi puasa 10 jam."
RS Penerbangan. Sekar tidak tahu di mana itu. Dan besok pagi. Ia tidak punya tempat menginap.
"Kamu nginep di mana?" tanya Dian, seakan membaca pikirannya.
"Aku... belum tahu," aku Sekar. "Tadinya kupikir tesnya cuma sehari."
Dian terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum. "Aku nginep di rumah saudaraku, nggak jauh dari sini. Kamarnya kosong satu. Kamu mau ikut? Daripada kamu tidur di terminal."
Sekar menatapnya, ragu. "Aku nggak mau ngerepotin."
"Kamu nggak ngerepotin." Dian sudah menarik lengannya. "Lagian, aku butuh teman buat ngehafalin materi tes kesehatan. Ayo."
Malam itu, di kamar kecil rumah saudara Dian, dua gadis dari dunia yang sangat berbeda duduk bersila di lantai. Dian, anak dosen dari kota, yang sejak kecil bermimpi jadi pilot karena ayahnya sering mengajaknya nonton air show. Dan Sekar, anak nelayan, yang bermimpi jadi pilot karena setiap pagi melihat garis putih membelah langit.
"Kenapa kamu pengin banget jadi pilot?" tanya Dian, sambil membuka botol air.
Sekar memeluk lututnya. "Di kampungku, semua orang lihat ke laut. Ke bawah. Ke jaring, ke ikan, ke ombak. Nggak ada yang lihat ke atas." Ia diam sebentar. "Aku cuma... pengin jadi orang yang lihat ke atas. Dan suatu hari, ada di sana."
Dian menatapnya lama. "Itu," katanya pelan, "alasan paling bagus yang pernah kudengar."
Mereka belajar sampai larut—tentang tekanan darah, ketajaman mata, tes buta warna, kapasitas paru-paru. Tes kesehatan penerbangan terkenal ketat. Banyak calon pilot gugur bukan karena bodoh, tapi karena tubuhnya tidak memenuhi syarat. Mata minus, buta warna parsial, jantung tidak stabil—semua bisa menggugurkan.
Sekar tidak khawatir soal matanya; ia terbiasa menatap horizon laut yang jauh. Tapi ada satu hal yang membuatnya gelisah, sesuatu yang ia simpan rapat-rapat, sesuatu dari masa lalu yang ia harap tidak akan muncul di meja periksa dokter besok.
Ia menatap langit malam dari jendela kamar.
Tolong, bisiknya dalam hati. Sedikit lagi. Beri aku sedikit lagi.