Empat jam di dalam bus terasa seperti empat tahun. Sekar duduk di kursi belakang, dahi menempel di kaca, menatap pemandangan yang berubah dari gedung-gedung kota menjadi sawah, lalu kebun, lalu—akhirnya—bau itu. Bau garam. Angin laut yang masuk lewat celah jendela bus, membawa aroma yang ia kenal sejak lahir.
Pantai Cemara.
Ia turun di pertigaan yang sama tempat tiga tahun lalu ia naik bus dengan amplop tabungan arisan Ibu di ransel. Tapi kini ia kembali dengan seragam cadet di dalam tas, dan rasa takut yang berbeda—bukan takut gagal seleksi, melainkan takut terlambat.
Rumah sakit kecamatan adalah bangunan rendah berdinding kapur yang mulai mengelupas. Sekar berlari menyusuri koridor, mencari nama Bapak di papan ruangan. Ia menemukan Ibu lebih dulu—duduk di bangku kayu di luar bangsal, tubuh kecilnya semakin kecil, mata sembap.
"Sekar!" Ibu berdiri, dan keduanya berpelukan tanpa kata. Tubuh Ibu bergetar dalam dekapan. Sekar mencium bau kampung dari rambut Ibu—asap dapur, garam, dan keringat lelah.
"Bapak gimana, Bu?"
"Udah stabil. Dokter bilang paru-parunya basah, kena infeksi. Harus istirahat lama. Nggak boleh melaut lagi." Ibu menyeka mata dengan ujung kerudung. "Dia di dalam. Lagi melek tadi."
"Bu sendirian di sini terus?" tanya Sekar. "Nggak ada yang nemenin?"
"Bu Lurah gantian. Tetangga juga ada yang bantu nganterin makan. Tapi malam Ibu sendiri." Ibu meremas tangan Sekar. "Ibu nggak berani ngabarin kamu, takut ngganggu sekolah. Untung kamu telepon."
Sekar menarik napas, menguatkan diri, lalu masuk ke bangsal.
Bapak terbaring di ranjang besi, selang oksigen di hidungnya. Tubuh yang dulu kering tapi kuat itu kini terlihat rapuh, kulitnya pucat di balik warna gosong matahari yang tak pernah hilang. Tangannya, tangan yang dulu menarik Sekar dari maut di laut, terbaring lemah di atas selimut.
Mata Bapak terbuka, menemukan wajah anaknya. Untuk sesaat, tak ada yang berbicara.
"Kamu... pulang," kata Bapak akhirnya, suaranya serak, hampir habis.
"Iya, Pak." Sekar mendekat, berlutut di samping ranjang. "Sekar pulang."
Bapak memandangnya lama. Mata tua itu menyusuri wajah Sekar, seolah mencari sesuatu yang berubah. "Kamu kurusan."
Sekar tertawa kecil di sela air mata. "Bapak juga."
Hening lagi. Mesin di sebelah ranjang berdetak pelan. Di luar jendela, ombak Pantai Cemara terdengar samar, deburan yang sama yang menemani Sekar sepanjang masa kecilnya.
"Kenapa Bapak maksa melaut?" tanya Sekar, suaranya pecah. "Mesinnya rusak. Bapak tahu bahaya. Kenapa?"
Bapak memalingkan wajah ke jendela, ke arah laut. Lama ia tak menjawab. Lalu, dengan susah payah, ia berkata, "Kamu di kota itu... butuh uang. Ibumu cerita beasiswa nggak nutup semua. Bapak nggak bisa cuma diam."
Sekar menutup mulut dengan tangan. Jadi benar. Bapak yang tak pernah merestui mimpinya, yang berkata langit bukan untuk mereka—Bapak diam-diam mempertaruhkan nyawanya di laut demi langit yang ia tolak.
"Mesinnya udah Bapak tambal seadanya," Bapak melanjutkan, suaranya terputus napas pendek. "Tapi di tengah laut, dia mati lagi. Bapak dayung pulang. Hujan. Dingin. Sampai rumah, badan Bapak udah panas." Ia terbatuk, batuk basah yang membuat Sekar meringis. "Bodoh, ya, Bapak. Tua-tua maksa kayak anak muda."
"Bapak nggak harus—" suara Sekar tercekat.
"Sssh." Bapak menutup mata. "Bapak capek, Sekar. Nanti kita ngomong."
Sekar mengangguk, menggenggam tangan kasar Bapak, dan tidak melepaskannya. Di luar, matahari mulai turun ke arah laut, menumpahkan warna jingga ke ombak. Untuk pertama kalinya sejak ia pergi mengejar langit, Sekar duduk diam menatap laut tanpa rasa takut—hanya rasa rindu, dan rasa bersalah yang dalam.
Garis pantai yang sama. Bau garam yang sama. Tapi gadis yang pulang ini bukan lagi gadis yang dulu pergi.