Instruktur Bayu mengumumkannya saat brifing pagi: "Hari ini rute pesisir penuh. Kita keluar ke laut, latihan navigasi di atas perairan, lalu balik nyusur pantai. Wulandari, kamu yang pegang."
Sekar merasa darahnya turun ke kakinya. Ia mengangguk karena tak punya alasan untuk menolak. Menolak akan menimbulkan pertanyaan, dan pertanyaan akan membongkar rahasia yang ia jaga sejak meja periksa di RS Penerbangan dulu.
Lepas landas mulus. Naik ke ketinggian. Pesisir mendekat di kaca depan—garis putih ombak yang memecah, lalu biru yang membentang tak berujung.
Lalu pantai menghilang di belakang, dan di bawah sayap hanya ada laut.
Tidak ada ladang. Tidak ada jalan. Tidak ada atap rumah. Tidak ada apa pun untuk dijatuhi kalau mesin mati. Hanya air. Air gelap yang dalam, yang permukaannya berkilau seperti logam cair, yang seolah bernapas naik turun mengikuti ombak besar yang tak terlihat dari ketinggian.
Tangan Sekar mencengkeram yoke. Buku-buku jarinya memutih.
Napasnya mulai cepat dan dangkal. Paru-paru luar biasanya yang biasanya tenang kini seperti tak mampu menarik udara cukup. Pandangannya menyempit, ujung-ujungnya menggelap, seolah ia kembali ke bawah permukaan, ke gelap itu, ke saat di mana ia tak tahu mana atas mana bawah, di mana paru-parunya membakar dan mulutnya membuka sendiri menelan air asin—
"Wulandari." Suara Instruktur Bayu jauh, seperti dari balik dinding air. "Wulandari! Pertahankan ketinggian! Hidung kamu turun!"
Sekar tersentak. Altimeter—mereka kehilangan ketinggian. Tanpa sadar tangannya yang kaku telah mendorong yoke. Pesawat menukik landai ke arah laut.
Ia menarik yoke kembali, terlalu keras, dan pesawat tersentak naik. Perutnya terjungkir. Keringat dingin membanjiri punggungnya meski udara di kabin sejuk.
"Pegang kontrol!" perintahnya pada dirinya sendiri, tapi laut di bawah itu memanggil, menatap balik dengan ribuan mata berkilau, dan setiap kali ia melihat ke luar, gelap itu kembali.
"Saya ambil alih." Instruktur Bayu meletakkan tangannya di yoke kanan, tegas namun tak kasar. "Tangan kamu lepas. Pelan. Aku yang pegang."
Sekar melepas. Tangannya gemetar hebat di pangkuannya. Ia menunduk, menutup mata, tak berani melihat ke luar. Instruktur Bayu memutar pesawat dengan mulus, mengarahkannya kembali ke daratan. Begitu garis pantai muncul lagi di kaca depan—pasir, pohon kelapa, atap-atap—napas Sekar perlahan melambat. Pandangannya kembali jernih.
Mereka mendarat dalam diam total.
Di apron, setelah mesin mati dan baling-baling berhenti berputar, Instruktur Bayu tidak segera turun. Ia melepas helmnya, menyandarkan kepala, dan menatap Sekar lama.
"Itu bukan gugup," katanya pelan. Bukan pertanyaan. "Aku udah lihat ratusan cadet gugup di atas laut. Itu lain. Itu... kamu hilang. Beberapa detik tadi, kamu bukan di kokpit ini."
Sekar tak menjawab. Tangannya masih gemetar.
"Aku nggak akan maksa kamu cerita sekarang," lanjut Instruktur Bayu, membuka pintu kokpit. Cahaya dan bau avtur masuk. "Tapi aku perlu kamu tahu satu hal, Wulandari. Setiap penerbang punya satu hal yang dia simpan. Satu hal yang nggak dia tulis di formulir. Cepat atau lambat, langit bakal nemuin itu. Selalu." Ia menatapnya tajam. "Pertanyaannya, kamu mau ngadepin dia di darat sama aku—atau kamu mau nunggu dia nemuin kamu sendirian di tiga ribu kaki?"
Ia turun dari pesawat, meninggalkan Sekar duduk sendirian di kokpit yang kini sunyi.
Sekar menatap tangannya yang masih basah keringat. Di kejauhan, garis biru laut masih terlihat dari celah antara hanggar. Selama ini ia mengira ia bisa menyimpan rahasia ini. Mengira fobia itu hanya bayangan masa lalu yang bisa ia kunci.
Tapi langit telah menemukannya. Persis seperti kata Instruktur Bayu.
Dan kini ia harus memilih.