Malam itu lampu kamar asrama sudah dipadamkan sesuai aturan jam sepuluh. Tapi Sekar menyalakan senter kecil di bawah selimut, sebatang pulpen, dan dua lembar kertas garis yang ia beli dari koperasi akademi seharga lima ratus rupiah.
Ia sudah menunda menulis surat ini selama berminggu-minggu. Bukan karena tidak tahu harus bilang apa. Justru karena terlalu banyak yang ingin ia katakan, dan ia takut tak satu pun kata itu cukup untuk menembus diamnya Bapak.
*Bapak,* ia mulai. Lalu berhenti. Mencoret. Mulai lagi.
*Bapak. Apa kabar mesin perahunya? Sekar dengar dari Ibu kalau masih sering mati di tengah laut. Sekar minta maaf nggak ada di rumah buat bantu narik.*
Ia menghapus ujung pulpen ke pelipisnya, berpikir. Di luar jendela, langit kota tidak punya bintang sebanyak di Pantai Cemara. Cahaya gedung-gedung menelan mereka. Sekar merindukan langit kampungnya yang hitam pekat dan penuh titik perak.
*Bapak ingat nggak waktu Sekar kecil suka nunjuk-nunjuk garis putih di langit? Bapak bilang itu burung besi, bukan buat kita. Sekar masih ingat. Tapi Bapak, sekarang Sekar ada di tempat yang ngajarin orang nyetir burung besi itu. Nilai Sekar nomor satu di kelas teori. Beneran. Nomor satu dari semua anak-anak kota yang sekolahnya bagus-bagus.*
Tangannya gemetar sedikit menuliskan baris berikutnya.
*Sekar nggak nulis ini buat nyombong. Sekar cuma pengen Bapak tahu, uang Ibu yang waktu itu nggak sia-sia. Sekar nggak buang-buang kesempatan. Sebentar lagi Sekar naik pesawat beneran. Mungkin nanti, kalau Sekar udah jadi pilot, Sekar terbang lewat atas Pantai Cemara, dan Bapak bisa nunjuk dari perahu: itu anakku.*
Air matanya jatuh ke kertas, membuat satu kata menggumpal seperti bekas hujan. Ia mengusapnya cepat sebelum tintanya pudar.
*Sekar tahu Bapak marah. Sekar tahu Bapak takut Sekar gagal terus patah hati. Tapi Pak, Sekar lebih takut nggak pernah nyoba. Maafin Sekar yang keras kepala. Sekar sayang Bapak. — Sekar.*
Ia melipat surat itu rapi, memasukkannya ke amplop cokelat, menuliskan alamat lewat warung Bu Lurah seperti biasa. Esok paginya ia menitipkannya ke pos akademi dengan jantung berdebar.
Hari berlalu. Lalu minggu.
Setiap pengumuman surat masuk di papan asrama, nama Sekar tidak pernah ada. Dian melihat bagaimana bahu sahabatnya turun sedikit setiap kali daftar surat ditempel.
"Mungkin Bapakmu lagi sibuk," kata Dian suatu sore, hati-hati. "Mungkin perahunya, mungkin—"
"Bapak nggak bisa nulis panjang-panjang," potong Sekar pelan, menatap laut khayalan di luar jendela. "Tangannya buat dayung, bukan buat pulpen. Tapi... satu kata aja. Aku cuma butuh satu kata dari dia, Dian."
Satu kata itu tak pernah datang.
Yang tidak Sekar tahu, jauh di Pantai Cemara, di sebuah rumah panggung kayu yang baunya garam dan avtur khayalan anak gadisnya, Ibu membuka amplop cokelat itu di bawah lampu teplok. Ibu membacanya tiga kali, tangan menutupi mulut yang gemetar.
Lalu, di kamar sebelah, Bapak terbaring memunggungi pintu, pura-pura tidur. Ibu tahu ia tidak tidur. Punggung itu terlalu kaku untuk orang yang sedang tidur.
Diam-diam, ketika dengkur palsu Bapak mulai melembut, Ibu duduk di tepi ranjang dan mulai membacakan surat itu dengan suara nyaris berbisik. Setiap kata. Pelan. Sampai habis.
Punggung Bapak tetap membeku. Tapi di kegelapan, sudut matanya yang tua basah, dan ia menggenggam ujung sarung lebih erat agar bahunya tidak terlihat berguncang.
"Anak kita pinter, Pak," bisik Ibu. "Nomor satu."
Bapak tidak menjawab. Tapi pagi berikutnya, Ibu menemukan surat itu sudah dipindahkan dari laci dapur ke bawah bantal Bapak. Dilipat ulang. Disimpan, seperti orang menyimpan sesuatu yang terlalu berharga untuk dibalas dengan kata-kata yang ia tak punya.
Surat Sekar tak pernah dibalas. Tapi ia tak pernah hilang.