Di dasar lemari Sekar, di balik tumpukan seragam yang masih kaku dan buku-buku teori tebal, tersimpan satu benda yang tak masuk akal ada di sana: sepasang sandal jepit karet, warnanya sudah pudar dari biru jadi kelabu, tali jepitnya pernah putus dan disambung kawat.
Sandal itu sudah menemani Sekar empat tahun. Ia memakainya menyusuri pasir Pantai Cemara, mengangkut ember ikan, berjalan ke warnet Pak Hasan, naik bus empat jam ke kota provinsi. Sandal itu yang diejek Rangga di hari pertama tes—"Pendaftaran kerja bakti di sebelah." Sandal itu yang sekarang sudah digantikan pantofel hitam mengilap.
Sekar tidak membuangnya. Ia menyimpannya di lemari, dilipat dalam kantong plastik, sebagai pengingat. Setiap pagi, saat memasang pantofel yang masih membuat kakinya lecet, ia menyentuh kantong plastik itu sekilas. Pengingat dari mana ia datang. Pengingat seberapa jauh ia harus jatuh kalau gagal.
Tapi rahasia tak bertahan lama di asrama.
Suatu sore, saat inspeksi lemari mendadak, sang sersan membuka lemari Sekar dan menarik keluar kantong plastik itu. "Apa ini, Wulandari?"
"Sandal saya, Pak. Sandal lama."
Sang sersan mengangkat sandal pudar itu dengan dua jari. Beberapa cadet di koridor mulai berkumpul, penasaran. Dan di antara mereka, Rangga.
"Sandal jepit?" Rangga tertawa keras, sengaja keras agar semua dengar. "Astaga. Dia bawa sandal jepit ke asrama akademi penerbangan. Mungkin biar nggak lupa cara jalan di lumpur, ya?"
Tawa menyebar di koridor. Wajah Sekar terbakar. Ia ingin merebut sandal itu, ingin menjelaskan, tapi tenggorokannya tercekat. Sandal itu—benda paling pribadi miliknya—kini jadi bahan tertawaan, diangkat tinggi-tinggi di koridor seperti barang sitaan memalukan.
"Itu pelanggaran, kan, Pak?" Rangga menambahi, pura-pura prihatin. "Barang nggak sesuai standar di lemari."
Sang sersan menatap sandal itu, lalu menatap Sekar. Tapi sebelum ia berkata apa-apa, Dian mendorong maju ke depan, wajahnya merah karena marah.
"Itu bukan pelanggaran," kata Dian, suaranya bergetar tapi keras. "Itu bukan seragam, bukan juga barang terlarang. Itu cuma sandal." Ia menatap Rangga lurus. "Dan kalau kamu pikir itu lucu, Rangga, kamu cuma nunjukin kamu nggak ngerti apa-apa."
"Apa yang harus dimengerti dari sandal jepit?" Rangga mendengus.
Dian membuka mulut untuk membalas, tapi Sekar mendahuluinya.
"Jarak."
Kata itu keluar pelan, tapi koridor mendadak senyap. Sekar mengambil sandal itu dari tangan sersan—pelan, sopan, tapi pasti—dan mengangkatnya, kali ini ia sendiri yang mengangkatnya, di depan semua orang.
"Sandal ini udah jalan empat jam naik bus dari kampung saya ke kota ini," katanya, suaranya makin mantap. "Udah ngangkutin ribuan kilo ikan. Udah jalan di pasir jam tiga pagi pas kalian semua masih tidur di kasur empuk. Saya simpan bukan karena lupa cara jalan di lumpur." Ia menatap Rangga. "Saya simpan biar inget. Tiap pagi, pas saya pasang sepatu akademi ini, saya lihat sandal ini, dan saya inget—saya nggak boleh nyia-nyiain satu hari pun di sini. Karena di belakang saya, di rumah, ada Bapak yang masih melaut sama mesin rusak, ada Ibu yang nyerahin tabungan arisannya buat saya."
Koridor benar-benar sunyi sekarang. Bahkan tawa yang tadi menggema sudah lenyap.
"Kalian punya rencana cadangan," lanjut Sekar, suaranya nyaris bisikan tapi terdengar jelas. "Kalau gagal di sini, kalian pulang ke rumah yang enak. Saya nggak punya. Saya cuma punya sandal ini—dan langit. Jadi silakan ketawa. Tapi saya simpan sandal ini sampai saya jadi pilot. Biar saya nggak pernah lupa siapa yang saya bawa terbang."
Ia melipat sandal itu kembali ke dalam kantong, lalu memasukkannya ke lemari, menutup pintunya pelan.
Sang sersan menatapnya beberapa detik. Lalu, tanpa mencatat apa-apa, ia melanjutkan inspeksi ke lemari berikutnya. Cadet-cadet di koridor membubarkan diri, sebagian dengan tatapan yang berbeda sekarang—bukan ejekan, tapi sesuatu yang lebih mirip hormat yang enggan.
Rangga berdiri sendirian sebentar di koridor. Wajahnya keras, rahangnya mengencang. Lalu ia berbalik dan pergi tanpa sepatah kata.
Malamnya, Dian memanjat ke kasur atas dan duduk di tepi kasur Sekar. "Kamu hebat tadi," bisiknya.
Sekar menatap sepotong langit malam lewat jendela. "Aku cuma capek diam aja," jawabnya. Lalu, pelan: "Bapak nggak pernah bilang aku boleh terbang, Dian. Tapi sandal itu—itu dari uang Bapak juga. Aku nggak bisa malu sama itu. Itu yang bawa aku sampai sini."
Dian mengangguk. Dua gadis itu diam, menatap langit yang sama, masing-masing dengan beratnya sendiri.