Sisilia Timur
Aula depan Kastil keluarga Claudian sangat ramai oleh tamu para bangsawan. Valery Putri kedua Duke Dimitri Claudian sedang mengadakan pesta debut. Usianya baru saja menginjak 16 tahun namun Ayahnya sudah terburu-buru mengadakan pesta besar.
Kerumunan para tamu mulai berbisik-bisik sambil menikmati hidangan.
“Aiyooo, putri sulung Duke Claudian saja bahkan belum mengadakan upacara debut. Mengapa duke terburu-buru untuk putri keduanya?”
“Sssst, ku dengar Putri sulungnya bodoh dan sering sekali mempermalukan keluarga Claudian.”
“Benar. Ku dengar dia diam-diam menyukai pangeran Antony dan mengirim banyak barang berharga ke Istana. Ratu Helena sangat marah dan membuang semua hadiah itu.”
“Lagipula dia bahkan tidak mengenal huruf. Enam belas tahun lalu dia di vonis sakit oleh Tabib Kekaisaran dan di kirim ke perbatasan timur untuk berobat. Kurasa dia tidak pernah belajar.”
“Ah, mungkinkah tubuhnya sembuh tapi otaknya yang rusak?”
Suara-suara itu semakin lama makin terdengar tidak nyaman. Livia berdiri di sudut memandangi seluruh keramaian pesta.
Ketika Valery muncul dari Pintu koridor utama, menggunakan Tiara Fire Amber milik ibunya, Livia tiba-tiba merasakan amarah. Bahkan dia saja sebagai kakak tertua belum diberi kesempatan untuk memakai benda pusaka leluhur keluarga itu, lalu mengapa Valery boleh?
Livia maju dengan agresif dan merentangkan tangan untuk meraih tiara itu, namun tangan besar ayahnya mencengkram pergelangan tangannya dengan keras. Membuatnya mendesis kesakitan.
“Livi! Apa kamu sudah gila? Ini acara sacral!” Bentak ayahnya di depan semua orang.
“Ayah, apa hak Valery memakai Tiara itu sementara aku saja belum? Bagaimanapun aku lebih tua darinya.” Protes Livia.
“Lihat kelakuanmu! Lihat juga reputasimu! Apa kau fikir setelah semua kebodohan mu ini kami dari Keluarga Claudian masih bisa mengakuimu?”
“Tapi Ayah, aku juga anakmu. Aku juga putri sulungmu.” Protesnya lagi namun kali ini di akhiri oleh sebuah tamparan keras.
“Sebelum kau menuntut hak. Lebih baik berkaca di cermin. Lihatlah seperti apa dirimu! Aku malu punya putri sepertimu!”
Dia dengan kejam memarahinya di depan semua tamu terhormat hari ini. Hati Livia seperti ditusuk pisau. Dia tau ayahnya sering pilih kasih. Namun dia tidak menyangka ayahnya akan mengeluarkan tiara leluhur untuk Valery hari ini. Seorang putri dari simpanannya.
Tiara itu bukan benda biasa, itu adalah lambing dari seorang putri bangsawan yang sah. Di kekaisaran ini, semua putri bangsawan akan mengadakan debut untuk mengakui silsilah sacral mereka dengan mengenakan Tiara pusaka keluarga.
Jika seorang gadis sudah mengenakan benda pusaka itu, dia sudah diakui dan dicatat dalam silsilah leluhur. Namun hingga hari ini ayahnya belum mengadakan pesta debut untuknya, malah mengadakan pesta debut untuk putri dari simpanannya.
“Kakak, jangan marah. Aku akan bicara dengan ayah tentang pestamu. Jika itu terburu-buru, kamu bisa menggunakan gaunku hari ini untuk pesta pertama mu.”
“Tidak perlu! Dia tidak butuh pesta debut. Sebelum dia memperbaiki sikapnya yang bodoh itu. Kamu terlalu baik, Val.” Bujuk ayah dengan wajah muram.
“tapi ayah…kakak setahun lebih tua dariku…dia seharusnya…”
“Aku lebih tua darimu setengah tahun. Dan kita tidak lahir dari ibu yang sama. Setidaknya aku lahir dari ibu yang seorang bangsawan bukan b***k!”
Sebuah tamparan yang lebih keras mendarat lagi di pipinya hingga membuat pipi tirus itu sedikit bengkak.
“Pembangkang! Pengawal! Kurung dia di kamarnya tiga hari tanpa makan!” Perintah Dimitri pada pengawal.
Ibu Valery adalah pelayan di kamar tidur ayahnya sejak ayahnya masih muda. Sebelum ayahnya bertemu ibunya dua puluh tahun lalu, dia sudah diam-diam menjalin hubungan terlarang. Membuat kakeknya marah besar. Diantara tiga putra kakeknya, hanya ayahnya yang bodoh dan tidak punya jabatan di pemerintahan. Dua paman lainnya adalah jenderal peringkat tiga dan terbiasa di Medan perang seperti kakeknya yang Jenderal peringkat dua.
Seorang Earl dari wilayah utara berkomentar,
“Duke, bukan kah anda terlalu kejam? Bagaimana mungkin anda mengurung putri anda sendiri selama tiga hari tanpa makan?”
“Itu benar. Duke, dia putri kandungmu. Meskipun bodoh, dia tetaplah keturunanmu.” Bela yang lainnya.
Mereka mengisyaratkan bahwa kebodohannya itu menurun dari ayahnya. Hinaan ini semakin membuat ayahnya marah.
“Kurung dia dan jangan beri dia makan! Sudah cukup baik aku memanggilnya Kembali ke ibukota daripada menjadi gadis liar di perbatasan!”
Beberapa orang mengerutkan kening tanda tidak setuju namun Duke Dimitri tetap memberi isyarat pada para untuk membawa Livia pergi.
“Dia gadis pembangkang. Jika tidak di sudutkan hingga tak punya jalan keluar, dia tidak akan mau bertaubat. Keras kepala seperti ibunya.” Jelasnya dengan marah. Kerumunan tampak merasa tidak puas, namun itu adalah urusan pribadi keluarga Claudian. Bukan hak mereka untuk ikut campur.
Livia dilempar oleh para pengawal kembali ke kamarnya. Pakaian usangnya robek terkena sudut ubin ketika mereka menyeretnya. Dia memegangi pipinya yang bengkak dengan air mata berlinang.
Selama ini ayah memang selalu bias. Dia selalu lebih menyayangi Valery dibanding dirinya. Bagaimanapun juga ibu Valery adalah Perempuan yang dicintai ayahnya selama bertahun-tahun. Meskipun kakeknya tidak setuju, Ayah tetap memperlakukannya dengan baik, memberinya sebuah rumah mewah di bagian barat kota.
Sebuah ketukan terdengar di pintu. Livia bangkit dan membuka pintu. Seorang pelayan dapur datang mengantar semangkuk air. Dia belum makan sejak siang dan sekarang hanya ada air.
Ayah sering menghukumnya seperti ini, namun tidak pernah sampai separah ini, bahkan sampai tiga hari.