Angkatan baru itu masuk pada hari Senin, sebagaimana selalu, dengan wajah-wajah yang selalu sama dari tahun ke tahun: takut, berharap, dan belum tahu apa-apa. Dan di antara mereka, Tiara menemukannya — bukan karena mencarinya, melainkan karena mata itu, mata yang ia kenali sebelum namanya: mata anak kota kecil yang memandang segalanya seperti memandang sesuatu yang mungkin direnggut.
Namanya Ayu. Dari kota kecil yang sama dengan Tiara — dan lebih dari itu: dari jalan yang sama, dari warung-warung yang sama, dari langit yang sama yang dulu dipandangi Tiara sambil menjaga etalase. Ibunya berjualan sayur dua ratus meter dari warung ibu Tiara. Dan Ayu masuk ke seleksi itu dengan satu-satunya modal yang sama yang dulu dimiliki Tiara: kaus kaki yang lembap, keberanian yang dihitung, dan tidak ada satu pun orang dalam hidupnya yang pernah naik pesawat.
Tiara mengetahuinya bukan dari Ayu — dari ibunya sendiri, lewat telepon malam: 'Ada anak kampung kita yang lolos pelatihan, Nak. Anaknya Bu Ayu yang jualan sayur. Sebutannya sama denganmu dulu: pramugari. Ibunya datang ke warung dengan mata sembab, bangga dan takut sekaligus. Ibu bilang kepadanya: tenang, anakku di sana. Jaga anaknya, ya. Ibu sudah berjanji.'
Dan Tiara menggantung telepon dengan beban dan kehormatan yang sama besarnya — karena janji ibu adalah janji yang tidak bisa dicicil. Tapi ia tahu juga, dari seluruh pengalamannya, bahwa menjaga Ayu tidak boleh berarti mengistimewakannya. Anak kota kecil yang diistimewakan akan patah di luar sana; anak kota kecil yang dijaga dengan benar akan berdiri sendiri. Maka ia memutuskan cara yang paling sulit: menjaga tanpa terlihat menjaga. Ayu tidak akan pernah tahu bahwa instrukturnya memeriksa nilainya dua kali, memperhatikan makannya, menitipkan pengawasannya kepada senior-senior yang tepat — sampai semuanya selesai, sampai ia lulus dengan kakinya sendiri.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa ditahan: sore itu, ketika menemukan Ayu duduk sendirian di kantin dengan makanan yang tidak disentuh dan mata yang menahan — hari yang buruk, minggu yang berat, kampung yang jauh — Tiara duduk di sebelahnya. Dan tidak bertanya apa-apa. Hanya berkata, setelah keheningan yang sopan: 'Aku dari jalan yang sama denganmu. Warung ibuku dua ratus meter dari lapak ibumu. Dan dulu, di kantin ini, aku juga duduk sendirian dengan makanan yang tidak tersentuh, pada hari-hari yang sama buruknya.'
Ayu menatapnya — dengan mata besar yang tiba-tiba basah, karena kabar itu adalah kabar yang paling dibutuhkan anak kota kecil di minggu-minggu pertama: bahwa ada yang sudah pernah dari sini, dan bertahan, dan kini berdiri di depan kelas dengan sayap di dada.
'Kamu akan sampai,' kata Tiara pelan. 'Bukan karena kamu istimewa — justru karena kamu tidak. Karena kita, anak-anak kota kecil, tidak punya apa-apa selain telaten. Dan telaten, di pekerjaan ini, mengalahkan segalanya: mengalahkan yang pinter, mengalahkan yang cantik, mengalahkan yang punya koneksi. Mereka lebih cepat di awal. Kita lebih jauh di akhir. Itu matematika orang miskin, Ayu. Dan aku sudah membuktikannya — di lorong ini, di gedung ini, dengan kaus kaki yang dulu juga selalu lembap dan mimpi yang dulu juga selalu terlalu besar untuk dompetku.'
Malam itu Ayu makan habis makanannya — setiap butir nasinya, sampai bersih, seperti orang yang baru diizinkan lapar kembali. Dan Tiara menuliskan di bukunya: hari ini aku duduk di sebelah diriku yang dulu. Dan aku tidak memberinya apa-apa kecuali satu baris kabar: kamu akan sampai. Itu kabar yang dulu tidak pernah kudengar dari siapa pun — dan aku tahu harganya, dan karena itu aku memberikannya gratis, sebagaimana harusnya kabar baik diberikan: kepada orang yang paling membutuhkannya, di hari yang paling berat, tanpa tagihan apa pun.
Minggu-minggu berikutnya mengonfirmasi semua yang ia kenali. Tiara memperhatikan dari jarak yang tepat: Ayu menghitung uang makannya dengan buku kecil yang dibungkus plastik — buku yang sama yang dulu dimiliki Tiara, kolom-kolom yang sama, ketakutan yang sama. Ayu tidak pernah ikut makan di luar dengan kawan-kawannya — bukan karena tidak diajak, melainkan karena setiap rupiahnya sudah punya alamat. Dan sekali, dari kejauhan, Tiara melihatnya di telepon umum sudut gedung, menangis tanpa suara sambil berkata 'aku kuat, Bu, sungguhan aku kuat' — dan Tiara tidak mendekat, karena ia tahu bahwa telepon seperti itu adalah ritual yang harus diselesaikan sendirian: anak kota kecil menangis kepada ibunya di telepon, lalu menghapusnya, lalu kembali dengan wajah yang dicuci. Tapi malam itu, ia mengirim pesan kepada ibunya di kampung: 'Bu. Besok di warung, kalau Bu Ayu lewat, beri tahu dia bahwa anaknya baik-baik saja dan rajin sekali. Jangan bilang aku yang menyuruh. Bilang saja kau dengar dari orang kantor.' Dan ibunya, yang memahami segalanya tanpa perlu dijelaskan, menjawab dengan satu kalimat: 'Sudah Ibu lakukan sejak minggu lalu, Nak. Ibu-ibu penjual sayur harus saling menjaga kabar anaknya.' Dan Tiara membaca jawaban itu dengan mata yang panas — karena jaring itu ternyata sudah lama ada, lebih tua dari maskapai mana pun: jaring ibu-ibu, yang bekerja tanpa pasal, tanpa manual, dari warung ke lapak sayur, menjaga anak-anak mereka yang tersebar di langit dan di kota-kota jauh.