Dimas menemukan surat itu karena buku catatan Tiara memang diletakkan di meja — tidak disembunyikan, sebagaimana Tiara menuliskannya malam itu: di tempat yang paling mudah ditemukan oleh orang yang mencarinya.
Ia tidak membacanya berminggu-minggu — karena Dimas adalah orang yang menghormati kertas orang lain dengan cara yang sama seperti ia menghormati berkas kantor. Tapi pada suatu sore, ketika Tiara tertidur dan Kira bermain di kakinya, buku itu tergeletak terbuka oleh angin dari jendela, dan halaman yang dilipat itu mencuat, dan Dimas memandanginya lama — dan kemudian menutup buku itu, tanpa membaca, dan meletakkannya di tempat yang lebih aman dari angin.
Ia menceritakannya malam itu, dengan canggung: 'Ada halaman yang dilipat di bukumu. Aku tidak membacanya. Tapi aku melihatnya, dan aku ingin bertanya — bukan apa isinya. Boleh aku membacanya? Suatu hari? Kalau kamu sudah siap?'
Dan Tiara, yang menulis surat itu dengan sebagian hatinya berharap ditemukan, mendapati dirinya menjawab dengan jawaban yang tidak ia rencanakan: 'Baca sekarang. Aku akan ke kamar Kira. Baca, dan jangan buru-buru, dan jangan datang sebelum selesai. Aku menulisnya untukmu — aku hanya tidak tahu cara menyerahkannya. Sekarang kertas itu sendiri yang menyerahkannya. Mungkin memang begitu caranya hal-hal ini bekerja: yang penting selalu menemukan jalannya, melalui pintu yang kita tinggalkan tidak terkunci.'
Ia menunggu di kamar Kira dengan telinga yang berusaha tidak mendengar — tiga puluh menit yang lebih panjang dari seluruh menunggu lain dalam hidupnya — dan ketika Dimas akhirnya masuk, matanya merah, dan ia duduk di lantai kamar anak mereka, di antara boneka-boneka, dan berkata dengan suara yang rusak: 'Aku membaca surat dari perempuan yang mengevakuasi seratus delapan puluh orang dan tidak tahu cara meminta didengarkan di rumahnya sendiri. Dan aku tidak tahu mana yang lebih membuatku hancur: bahwa kamu menulis semua itu, atau bahwa kamu menulisnya untuk kertas dan bukan untukku.'
'Untuk kertas dulu,' jawab Tiara, duduk di lantai di hadapannya. 'Karena kertas tidak menilai. Tapi sekarang surat itu sudah kau baca — dan sekarang aku mengatakannya langsung: semua yang ada di situ benar, dan semuanya masih berlaku, dan satu-satunya yang berubah sejak kutulis adalah ini: aku tidak lagi takut kau akan membacanya.'
Dan mereka membicarakannya di lantai kamar Kira — di antara boneka-boneka, di bawah poster awan — seluruhnya, untuk pertama kalinya: bukan tentang siapa salah dan siapa benar, melainkan tentang dua orang yang masing-masing merasa tidak cukup, yang berusaha dicintai dengan cara yang salah, yang akhirnya membaca buku petunjuk satu sama lain setelah bertahun-tahun mengoperasikan tanpa membaca. Dimas menceritakan bagian-bagian yang membuatnya berhenti membaca — bagian tentang 'suami yang tidak bersalah tapi juga tidak benar', bagian tentang rumah yang tidak punya ruang untuk kelemahan. Dan Tiara menceritakan hal-hal yang tidak masuk surat itu: malam-malam ketika ia hampir menyerahkannya, hampir memberikannya, dan selalu berhenti di ambang pintu dengan alasan yang tidak pernah ia mengerti sampai malam itu — karena surat itu belum selesai. Surat itu menunggu malam ini.
'Ada satu kalimat di sana yang akan kuingat selamanya,' kata Dimas. 'Tentang masker. Bahwa kau sudah memasang masker untuk semua orang, dan tidak pernah ada yang memasangnya untukmu.' Ia memandanginya. 'Mulai malam ini, aku yang memasangnya untukmu. Bukan karena kau lemah — karena bahkan awak terbaik pun tidak boleh memasang maskernya sendirian selamanya. Itu aturan kabinmu sendiri, Tiara. Pasang punyamu dulu — tapi izinkan aku memeriksa talinya.'
Seminggu kemudian, Tiara menemukan balasannya — karena Dimas, sebagaimana Tiara, adalah orang yang lebih jujur di atas kertas: sebuah map tipis di atas meja kerjanya, berjudul dengan font resmi yang membuatnya tertawa sebelum membukanya: TANGGAPAN ATAS DOKUMEN TERKAIT. Di dalamnya, dua halaman tulisan tangan — bukan ketikan, untuk pertama kalinya — dan isinya bukan pembelaan, melainkan jawaban baris demi baris atas suratnya. Tentang bagian 'suami yang tidak bersalah tapi juga tidak benar', Dimas menulis: Diterima. Tidak ada bantahan. Tapi izinkan satu koreksi teknis: aku bersalah. Bukan karena ada perempuan lain — karena aku menutup pintu. Rumah ini tidak pernah melarangku lemah; aku yang tidak pernah mencobanya. Itu salahku, dan salahku sepenuhnya, dan tidak kubagi dengan keadaan. Dan tentang bagian 'mulai dari hal kecil': Besok pagi, satu hal yang tidak beres dalam hariku: aku takut kamu berhenti mencintaiku karena aku tidak semenarik langitmu. Itu hal kecilku. Sekarang giliranmu. Tiara membaca map itu dua kali di meja kerjanya — dengan air mata yang jatuh ke halamannya dan tidak ia seka — dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak musim yang panjang, mereka tidur di ranjang yang sama. Tidak ada yang dramatis. Hanya dua orang yang akhirnya berkorespondensi dengan benar, setelah bertahun-tahun hanya bertukar laporan. Dan besok paginya, di meja makan, Dimas menceritakan satu hal yang tidak beres dalam harinya — sebagaimana janji surat itu — dan Tiara mendengarkannya tanpa memperbaiki apa pun, dan begitulah rumah tangga mereka dimulai kembali: bukan dengan pernyataan besar, melainkan dengan satu hal kecil yang diceritakan dan didengarkan sampai selesai — dan diulang keesokan harinya, dan keesokan harinya lagi, sampai menjadi kebiasaan, sampai menjadi tulang punggung yang tidak terlihat.