Ruang praktik Bu Arum tidak seperti ruang kantor maskapai mana pun — tidak ada meja besar, tidak ada papan, hanya dua kursi dan jendela dan tanaman yang merana — dan Tiara duduk di sana untuk pertama kalinya bukan sebagai awak yang diperiksa, melainkan sebagai manusia yang akhirnya datang.
'Sudah berapa lama kamu menahannya?' tanya Bu Arum, tanpa pendahuluan, karena mereka sudah terlalu lama saling mengenal untuk basa-basi.
Dan Tiara menjawab dengan jujur yang mengherankan dirinya sendiri: 'Sejak aku dua puluh dua tahun. Sejak lorong dengan kursi besi itu. Sejak aku menandatangani kertas yang tidak kubaca dan memutuskan bahwa aku tidak boleh gagal — karena gagal berarti warung ibuku tutup, bapakku tidak berobat, dan aku kembali ke kehidupan yang kukaburkan. Aku tidak pernah menahannya dengan sengaja, Bu. Aku hanya tidak pernah diberi tahu bahwa aku boleh meletakkannya.'
Sesi itu, dan sesi-sesi berikutnya, membongkar lapisan-lapisan yang sudah bertahun-tahun membatu. Tentang malam api itu — yang ternyata tidak pernah benar-benar selesai, hanya disimpan rapi. Tentang bapaknya — dan bagaimana ia menyadari bahwa selama ini ia terbang bukan hanya untuk keluarganya, melainkan untuk membuktikan kepada kursi roda yang kosong itu bahwa ia layak dibanggakan, dan bahwa pembuktian itu tidak pernah selesai karena yang dituju sudah tidak ada untuk menyatakannya lunas. Tentang Dimas dan Nadia — dan bagaimana lukanya bukan tentang perempuan lain, melainkan tentang ketakutan tertua dalam dirinya: bahwa ia tidak cukup, bahwa suatu hari orang akan menemukan bahwa ia hanya anak warung yang beruntung, dan meninggalkannya. Tentang Kira — dan rasa bersalah yang tidak pernah hilang, hanya berubah bentuk.
Bu Arum mendengarkan semuanya dengan cara yang menjadi keahliannya: tanpa terkejut, tanpa menyela, tanpa buru-buru memperbaiki. Dan di akhir sesi ketiga, ia berkata sesuatu yang oleh Tiara ditulisnya di halaman pertama buku catatan barunya: 'Kamu menghabiskan seluruh hidupmu menjadi orang yang berdiri paling akhir, Tiara. Itu mulia. Tapi ada satu hal yang tidak pernah kamu pelajari, karena tidak ada yang mengajarkannya: cara menjadi orang yang didahulukan. Bukan egois — didahulukan. Bahwa keselamatanmu juga penumpang dalam penerbangan ini. Pasang punyamu dulu — kamu sendiri yang mengajarkannya. Kamu sudah memasang masker untuk semua orang dalam hidupmu. Sudah waktunya kamu memasang maskermu sendiri — dan membiarkan orang lain membantumu memasangnya.'
Konseling itu bukan tongkat sihir — Tiara mencatatnya dengan jujur. Tidak ada sesi setelah itu semuanya beres. Yang ada adalah perubahan yang pelan dan nyata: tangannya berhenti gemetar di penerbangan-penerbangan berikutnya, bukan karena takutnya hilang, melainkan karena takutnya akhirnya punya alamat — diberi nama, dipahami asalnya, ditemani. Ia mulai berbicara kepada Dimas dengan bahasa yang baru: bukan laporan, melainkan kerentanan. Dan Dimas, yang juga menjalani sesinya sendiri — keputusan yang mereka ambil bersama, dua kursi dua jendela — mulai belajar bahasa yang sama.
Di antara sesi-sesi itu, ada satu tugas yang diberikan Bu Arum yang mula-mula ditolak Tiara dalam hati — karena terdengar seperti tugas majalah: menulis surat untuk dirinya yang berusia dua puluh dua tahun, gadis yang berdiri di garis kuning menunggu diukur. Ia menolaknya dua minggu, lalu menulisnya dalam satu malam, dan membacakannya keras-keras di sesi berikutnya dengan suara yang berhenti berkali-kali. Surat itu pendek. Isinya: kepada gadis di garis kuning — kamu akan berhasil, dan itu akan lebih mahal dari yang kamu kira, dan kamu akan tetap memilihnya, dan itu benar. Tapi satu hal: kamu tidak harus membuktikan apa-apa kepada siapa pun. Bukan kepada kota yang meninggalkanmu, bukan kepada maskapai yang menilaimu, bukan kepada bapakmu — dia sudah bangga sejak kamu lahir; dia hanya tidak pandai mengatakannya. Berhenti membayar utang yang tidak pernah ditagih. Terbanglah karena kamu mencintainya, bukan karena kamu berutang. Dan rawat dirimu — karena kelak ada banyak orang yang berdiri di lorong membutuhkanmu, dan kamu hanya bisa menjaga mereka kalau kamu tidak habis dimakan rasa bersalahmu sendiri. Bu Arum membiarkan keheningan menggantung setelah pembacaan itu, lalu berkata pelan, 'Itu surat yang bagus. Sekarang pertanyaannya bukan apakah kamu bisa menuliskannya — melainkan apakah kamu mau mempercayainya. Menulis itu keterampilanmu. Mempercayai itu pekerjaan rumahmu.' Dan Tiara keluar dari ruangan itu dengan surat yang dilipat di saku — saku yang sama dengan gantungan kunci baris dua puluh dua — dua jangkar yang beratnya tidak seberapa dan menahannya di segala cuaca.
Dan pada suatu malam, di akhir sesi yang kesekian, Tiara menulis: Aku datang ke ruangan ini sebagai orang yang gemetar, dan aku menemukan bahwa aku adalah orang yang lelah — lelah yang sudah tua, lelah yang dibawa sejak kursi besi di lorong itu. Dan tidak apa-apa. Untuk pertama kalinya, aku mengatakan ini tanpa takut: aku lelah, dan aku baik-baik saja, dan dua-duanya benar. Dua-duanya benar. Kalimat itu — yang dulu kuucapkan tentang malam api di depan kamera — ternyata adalah kalimat tentang seluruh hidupku. Aku rusak, dan aku berfungsi. Aku takut, dan aku bekerja. Aku lelah, dan aku mencintai. Dua-duanya benar — dan selama aku tidak berbohong tentang yang satunya, yang lainnya tidak pernah runtuh.