Kinanti terbaring dengan kepala diperban dan bahu yang digips — dan ia menyambut Tiara di pintu kamar rawat dengan kalimat yang membuat seluruh ruangan tertawa di antara tangis: 'Jangan bilang siapa-siapa. Aku akhirnya punya alasan resmi untuk tidak terbang sebulan.'
Tapi di balik gurau itu — yang keduanya tahu adalah baju pelindung — ada malam itu, dan Kinanti menceritakannya perlahan, kepada orang yang paling berhak mendengarnya: pendekatan di tengah badai, go-around pertama, percobaan kedua, dan saat roda menyentuh aspal yang tergenang, pesawat itu selip — dan dalam detik-detik itu, Kinanti melakukan hal yang dilatihkan ke tulang mereka: ia tetap di lorong, mengamankan, berteriak komando, bahkan saat pesawat itu meluncur tanpa kendali. 'Aku tidak berpikir, Ti. Sumpah aku tidak berpikir. Aku hanya mendengar suaramu — bukan suara Pak Hilmy, bukan manual. Suaraku sendiri yang sudah jadi seperti suaramu setelah bertahun-tahun: rendah, keras, jangan ragu. Dan aku bekerja sampai pesawat itu berhenti, dan baru setelah berhenti aku merasakan kepalaku.' Ia berhenti, dan memandangi perbannya. 'Tiga penumpang luka ringan. Tidak ada yang lebih dari itu. Seratus empat puluh dua orang turun dari pesawat itu, Ti. Semua. Dan aku cedera, dan tidak apa-apa — karena cedera itu harga yang kecil untuk kabin yang utuh.'
Tiara memegang tangannya — tangan yang bebas dari gips — dan untuk waktu yang lama mereka tidak bicara, karena persahabatan mereka sudah lama melampaui kebutuhan untuk bicara. Lalu Tiara berkata, 'Kamu tahu bahwa kamu sekarang orang yang di video itu. Pahlawan yang tidak diinginkan. Kabar mulai beredar.'
'Aku tahu,' kata Kinanti, dan wajahnya mengeras dengan cara yang Tiara kenali. 'Dan aku tidak mau. Bukan karena tidak bangga — karena aku sudah belajar darimu: begitu kamu jadi pahlawan, mereka berhenti melihatmu sebagai orang. Dan aku masih ingin jadi orang, Ti. Orang yang takut, yang bisa salah, yang kemarin menangis di lorong karena ketakutan setelah semua orang turun. Kamu tahu kapan aku menangis? Setelah. Setelah semua selamat. Karena barulah aku boleh.'
'Dan ada satu hal lagi yang tidak kuceritakan ke siapa pun,' kata Kinanti kemudian, ketika lampu kamar sudah diredupkan dan hari sudah larut — hal yang keluar pelan, seperti sesuatu yang dikeluarkan dari saku dalam: 'Saat pesawat itu selip, Ti, saat lorong itu miring dan semua orang berteriak — aku tidak memikirkan hidupku. Aku memikirkan satu hal yang aneh: aku memikirkan betapa aku belum selesai. Perceraian itu membuatku merasa selesai — seperti buku yang ditutup sebelum bab terakhir. Dan di lorong itu, dalam dua detik yang panjang itu, aku tahu dengan pasti: aku belum selesai. Ada hal-hal yang masih ingin kulakukan. Ada versi diriku yang belum pernah kucoba. Aku tidak tahu apa — tapi aku tahu aku ingin hidup untuk mencari tahunya.' Ia menatap langit-langit kamar rawat. 'Orang bilang hampir mati membuatmu takut hidup. Bagiku sebaliknya: hampir mati membuatku sadar bahwa aku sudah setengah mati sejak perceraian itu — dan aku menolak. Pesawat itu nyaris membunuhku, dan sebagai gantinya ia mengembalikanku.'
Mereka menghabiskan malam itu dengan cara yang sudah menjadi cara mereka sejak asrama pelatihan: bicara dalam redup, tentang segalanya, tentang apa pun — tentang perceraian Kinanti yang akhirnya selesai dan terasa seperti luka yang sembuh benar; tentang rumah tangga Tiara yang sedang diperbaiki baut demi baut; tentang Kira yang mulai bertanya kenapa; tentang betapa anehnya bahwa dua anak muda yang dulu berbagi peta kabin kini dua perempuan yang berbagi bekas luka. Dan sebelum tidur, Kinanti berkata sesuatu yang oleh Tiara dicatat kemudian, karena kalimat itu adalah kalimat penutup untuk seluruh babak ini: 'Kita sudah tua, Ti. Bukan tua tahun — tua lorong. Kita sudah melihat semua yang bisa dilihat dari kursi lipat itu. Dan kau tahu apa yang kupelajari dari ranjang ini? Bahwa aku tidak ingin mati sebagai pramugari. Aku ingin mati sebagai Kinanti — yang kebetulan pernah menjadi pramugari dengan sebaik-baiknya. Urutan itu penting. Kita sering membalikkannya.'
Hari-hari berikutnya di rumah sakit itu membawa hal-hal yang tidak mereka duga. Awak-awak dari penerbangan itu datang bergantian — dan dari cerita merekalah Tiara mendengar, untuk pertama kalinya, versi lengkap malam itu dari sudut orang lain: bagaimana Kinanti, dengan kepala yang sudah terluka, tetap memerintahkan evakuasi baris demi baris; bagaimana ia menolak ditandu sebelum semua penumpang turun; bagaimana seorang penumpang tua bersikeras menunggu di tepi taxiway sampai melihat 'mbak yang berteriak-teriak tadi' dibawa keluar dengan selamat. Dan pada hari ketiga, datang dua orang yang tidak dijadwalkan: suami-istri paruh baya, penumpang penerbangan itu, yang membawa buket kecil dan berdiri di samping ranjang Kinanti dengan canggung orang yang tidak tahu cara berterima kasih atas hal yang sebesar ini. 'Kami hanya ingin bilang,' kata sang suami akhirnya, 'bahwa kami sudah tua, dan kami sudah banyak takut dalam hidup kami, tapi kami tidak pernah merasa setakut itu — dan suara Mbak di lorong itu adalah satu-satunya hal yang membuat kami yakin kami akan turun hidup-hidup. Kami tidak tahu nama Mbak waktu itu. Kami hanya tahu suaranya. Sekarang kami datang untuk mengenal namanya.' Kinanti menerima bunga itu dengan tangan yang gemetar, dan setelah mereka pergi, ia memandanginya lama dan berkata kepada Tiara, 'Ini. Ini yang tidak bisa mereka bayar dengan gaji. Kalau ada yang bertanya kenapa kita bertahan di pekerjaan ini — ini jawabannya. Bukan piagam, bukan berita. Seorang kakek yang datang untuk mengenal nama kita.'