Pertanyaan itu diajukan pada malam yang dipilih dengan berat — setelah Kira tidur, di meja makan, dengan dua cangkir teh yang tidak tersentuh, dengan suara yang Tiara jaga tetap datar karena ia tahu nada menentukan arah: 'Siapa Nadia?'
Dimas tidak langsung menjawab — dan jeda itu, jeda dua detik sebelum kata pertama, mengatakan lebih banyak dari yang ingin Tiara dengar. Orang yang tidak bersalah menjawab dengan bingung. Orang yang bersalah menjawab dengan marah. Dan Dimas menjawab dengan jeda — jeda orang yang menghitung seberapa banyak yang harus diakui — dan Tiara menonton jeda itu dengan hati yang tenggelam, karena jeda itu adalah pengakuan sebelum pengakuan. Tapi kemudian Dimas mengangkat wajahnya, dan apa yang ada di sana bukan kebohongan yang disusun, melainkan sesuatu yang lebih berat: keputusan untuk jujur, yang diambil tepat di depan matanya, seperti orang yang menyerahkan senjatanya sebelum ditodong.
Dimas tidak mengelak — dan itu, dalam minggu-minggu berikutnya, menjadi hal yang membuat Tiara tidak pernah bisa membencinya sepenuhnya. Ia mengaku. Bukan perselingkuhan fisik — dan Tiara percaya itu, karena Dimas tidak pernah belajar berbohong dengan baik — melainkan sesuatu yang ia akui dengan kepala yang menunduk: kedekatan yang dimulai dari pekerjaan, berlanjut ke pembicaraan, berlanjut ke tempat yang tidak mereka sadari batasnya. 'Dia mendengarkan,' kata Dimas. 'Itu saja. Ketika aku pulang dengan hari yang berat, dan kamu sedang terbang, dan rumah ini kosong — aku bercerita kepadanya. Dan lama-lama aku bercerita tentang hal-hal yang seharusnya kuceritakan kepadamu. Tidak ada yang terjadi, Tiara. Tidak ada yang—' ia mencari kata, dan menemukannya dengan jujur yang menyakitkan, '—tidak ada yang bisa kufoto dan kutunjukkan sebagai bukti. Tapi aku tahu ada yang salah. Aku tahu karena aku tidak pernah menceritakannya kepadamu.'
Dan Tiara mendengarkan semuanya dengan dadanya yang terbakar — karena kalimat itu, kalimat terakhir itu, adalah kalimat yang paling jujur dan paling menusuk sekaligus. Tidak ada yang terjadi. Tapi ada yang disembunyikan. Dan yang disembunyikan adalah tanda bahwa ada yang terjadi — di dalam, di tempat yang tidak bisa difoto.
'Jadi bukan selingkuh,' katanya, dan suaranya akhirnya retak, 'hanya—' ia mencari kata yang tepat, dan menemukannya dari pekerjaannya sendiri, '—hanya memindahkan penumpang tanpa memberi tahu menara. Selama dua tahun, Dimas. Selama dua tahun, hal-hal terbaik dan terburuk dalam harimu diceritakan ke orang lain, dan aku menerima sisa-sisanya — laporan cuaca satu kata, cerita-cerita yang sudah disaring. Kau tahu apa rasanya? Rasanya seperti membaca laporan insiden yang sudah disunting: semua fakta ada, tapi yang pentingnya sudah dibuang. Aku bukan kehilanganmu ke perempuan itu. Aku kehilanganmu ke versi dirimu yang tidak pernah kuberi kesempatan.'
Dimas tidak menjawab — karena tidak ada jawaban. Dan dalam keheningan itu, Tiara mengucapkan hal yang paling berat, hal yang tidak pernah ia bayangkan akan ia ucapkan: 'Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan ini. Kalau kamu selingkuh, aku tahu prosedurnya — aku melihat Kinanti melewatinya. Tapi ini? Tidak ada manualnya. Tidak ada checklist untuk suami yang tidak bersalah tapi juga tidak benar.' Ia berdiri, dan suaranya datar dengan cara yang menakutkan: 'Malam ini aku tidur di kamar tamu. Bukan karena aku sudah memutuskan apa-apa. Karena aku butuh berpikir, dan aku tidak bisa berpikir di sebelah orang yang barusan kuketahui tidak sepenuhnya ada di rumah ini.'
Dimas menerimanya tanpa perlawanan — dan entah kenapa, tanpa perlawanan itu justru yang paling menyakitkan. Sebagian dari Tiara ingin dilawan, ingin ditarik kembali, ingin mendengar suaminya berkata jangan, jangan tidur di kamar lain, kita selesaikan malam ini. Tapi Dimas hanya mengangguk — anggukan orang yang merasa tidak punya hak meminta apa pun — dan anggukan itu mengikuti Tiara ke kamar tamu seperti dugaan yang tidak enak: bahwa mungkin, di dalam dirinya, Dimas juga sudah lama merasa diusir dari rumah ini, dan kamar tamu hanyalah formalitasnya.
Di kamar tamu yang dingin itu — ranjang sempit, rak buku, jendela yang menghadap lampu jalan — Tiara berbaring tanpa tidur dan melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan: ia membiarkan dirinya membayangkan akhir. Bukan untuk memilihnya, melainkan untuk mengukurnya. Ia membayangkan apartemen terpisah, Kira yang bergantian, dua rumah dan satu anak — dan ia merasakannya di tubuh, beratnya, seperti turbulensi yang tidak berhenti. Lalu ia membayangkan yang sebaliknya: memaafkan, melanjutkan, mempercayai lagi — dan itu juga berat, dengan cara yang berbeda, berat orang yang harus berjalan di atas lantai yang pernah ambles. Tidak ada satu pun yang ringan. Dan pada pukul tiga pagi, ia menemukan dirinya berpikir tentang ibunya — perempuan yang ditinggal mati suami dan tidak pernah punya pilihan untuk berhenti — dan tentang kalimatnya yang lama: orang yang menikah itu tidak diukur dari yang mudah, Nak. Diukur dari yang rusak dan tetap diperbaiki. Ia tidak tahu apakah malam itu adalah 'rusak yang masih bisa diperbaiki' atau 'rusak yang harus ditinggalkan'. Ia hanya tahu satu hal, dan ia menuliskannya sebelum tidur, dengan huruf yang lelah: besok aku tidak akan memutuskan apa-apa. Keputusan besar tidak boleh diambil pada malam yang paling gelap. Itu aturan penerbangan, dan ternyata itu juga aturan rumah tangga.